
Mitha menarik napasnya dalam-dalam, "Ya, aku harus tahu batasan, aku tidak boleh bertingkah berlebihan, dia adalah majikan berstatus suami, dia bukan suami sungguhan, jadi tetap aku harus tahu batasanku, "Mitha Bicara dalam hati, "Ok let's go, semangat, "lanjut Mitha menyemangati dirinya sendiri, kemudian pergi kedapur untuk menyiapkan makan malam untuk suaminya.
Satu jam kemudian Michel keluar dari kamarnya, pemandangan pertama yg ia cari adalah sosok Mitha, rasanya ia ingin meminta maaf atas kata-katanya tadi, namun egonya melarang untuk itu. Michel pun langsung duduk di bangku yg dihadapannya sudah tersedia menu buatan Mitha,
"Eum-- Michel maaf...malam ini aku tidak membuat menu yg ada di dalam daftar menu, persedian bahan sudah habis aku lupa mengatakannya padamu "Ujar Mitha sedikit merasa takut.
Michel yg tidak terlalu memperhatikan menu yg ada di hadapannya mengerutkan dahi, ia bahkan sudah lupa menu apa saja yg harus tersaji untuk hari ini, karena saking lamanya tidak makan dirumah, terhitung sejak bu Sussi pulang kampung, ia pun tidak pernah makan dirumah lagi, ia baru makan kembali di apartemennya terhitung baru dua hari ini, setelah Mitha memaksanya kemaren.
Tanpa menjawab Michel mennggerakan dagunya, memberi isyarat agar Mitha mengambilkan makanan untuknya, tidak ada percakapan, hanya dentingan sendok dan garpu yg terdengar saat beradu dengan piring. rasa canggung karena perdebatan tadi membuat suasana kembali seperti semula, seperti pasangan yg saling tidak mengenal satu sama lain
Setelah melihat Michel telah menyelesaikan aktivitas makanya, Mitha memberanikan diri untuk melihat kearah Michel. "Michel "panggil Mitha ..
Michel menoleh, dan tidak sengaja, pandangan keduanya pun bertabrakan. Michel pun langsung menghindari tatapannya kesegala arah.
Mitha yg terlihat gugup memberanikan diri untuk bicara "Michel bolehkah aku bertemu dengan kedua orang tuaku? aku sangat merindukan mereka. "Pinta Mitha memberanikan diri.
Michel mengusap mulutnya dengan tisu, kemudian kembali menatapan Mitha, Michel menarik napas sebelum menjawab permintaan istrinya. "Untuk apa kau bertemu kedua orang tuamu itu? bahkan mereka tidak perduli padamu. "Ucap Michel sinis.
"Kamu salah menilai mereka, mereka sangat perduli padaku. "jawab Mitha cepat.
"Ciih...Perduli? "ulangnya mengejek. "Tidak ada orang tua yg menjual anaknya jika mereka perduli. "Sahut Michel sinis.
Mitha diam, memang benar yg dikatakan suaminya itu, tidak ada orang tua yg rela menjual putrinya, jika mereka benar-benar perduli pada anaknya.
"Jika memang mereka tidak memiliki rasa perduli padaku, aku akan menganggap jika semua itu hanya angin berlalu, mereka pantas melakukan itu padaku, karena aku bukanlah putri kandung mereka, mungkin dengan itu aku dapat membalas semua kebaikan yg pernah mereka berikan padaku. "jawab Mitha.
Michel tersenyum sinis, "Aku tidak mengerti pemikiram macam apa itu, tapi yg jelas kau adalah manusia ter bodoh yg pernah aku temui. "cibir Michel.
Tak menjawab, Mitha terdiam, bibirnya terasa kelu, saat akan menjawab ucapan Michel.
"Kenapa! kau tidak suka dengan apa yg aku sampaikan? "Tanya Michel tersenyum mengejek.
"Tidak, kau benar, semua yg kau katakan benar, tapi tolong ijinkan manusia bodoh ini untuk bertemu kedua orang tua angkatnya. "jawab Mitha tersenyum masam.
"Baiklah, tapi awas, jika kau berani berpikir untuk kabur lagi, jangan salahkan aku melakukan hal yg akan membuatmu menyesal seumur hidup, "Ancam Michel.
__ADS_1
Senyuman mengembang langsung tercetak di wajah Mitha ketika Michel mengijinkannya. "Terima kasih Michel, "Ujar Mitha yg dengan reflek nenggenggam tangan Michel,
"Deg, "Michel merasakan perasaan yg berbeda saat Mitha menggenggam tanganya. Michel memandang Mitha, namun kali ini bukan dengan tatapan suram, namun tatapan sendu.
"Aku-- aku akan menghubungi kedua orang tuaku, "Ujar Mitha melepaskan tangan Michel yg ia genggam.
"Ya tuhan ada apa denganku, kenapa aku menggenggam tanganya, tapi dia tidak marahkan.."batin Mitha, Mitha melirik kepada Michel memastikan jika tidak ada tatapan membunuh dari suaminya itu. Mitha melempar senyum saat pandangan suaminya terlihat aman, "Aku akan meminta mereka untuk datang ke kota ini, "lanjut Mitha tersenyum canggung.
Michel ikut tersenyum walau tak terlihat oleh Mitha, namun dalam hatinya ia ikut bahagia melihat Mitha tersenyum tulus . "Aku mengijinkanmu bertemu kedua orang tuamu, tapi bukan berarti kau lupa akan tanggung jawabmu. "Ujar Michel, lalu berlalu meninggalkan Mitha yg terlihat bahagia.
"Tentu saja aku tidak akan melupakannya "seru Mitha sedikit berteriak karena Michel sudah berjalan menjauh.
*
*
*
"Kenapa junior sangat mirip denganmu? "Ucap gadis terlihat tak terima.
"Itu karena aku sangat menyayanginya. "jawab Raga yg tidak melepaskan pandangannya dari putra yg sedang berada dalam gendongannya.
Raga beralih memandang istrinya lalu tersenyum, "Aku tidak mengatakan jika kamu tidak menyangi junior, aku hanya berkata jika aku sangat menyayangi junior. "jawab Raga tersenyum lembut pada istrinya.
"Jadi kau sudah tidak menyayangiku lagi, setelah adanya junior? "tuduh gadis.
"Eh, mana mungkin aku tidak menyayangi kamu lagi, sampai kapan pun kamu adalah wanita yg paling aku sayangi, hilangkan pikiran burukmu itu, "Raga membelai sayang rabut gadis yg tergerai.
"Tapi aku kesal padamu, aku yg mengandung, aku yg merasakan sakit, aku yg merasakan tidak nyaman, aku yg merasa lelah bahkan melahirkan penuh dengan perjuangaan, tapi kenapa junior hanya mirip denganmu? seharusnya dia mirip denganku karena aku yg melahirkannya. "Ujar Gadis masih tidak terima.
"Siapa bilang? lihat matanya itu sangat mirip dengan matamu, sudah jangan cemberut seperti itu, kalian berdua adalah harta paling berharga untukku, terutama kamu, kamu adalah wanita terhebat kedua yg pernah hadir setelah mama Serline. "Ujar Raga tersenyum hangat.
Gadis tersenyum bahagia saat Raga berkata demikian, "Aku-- "Gadis tak meneruskan ucapannya karena kini bibirnya terbungkam oleh pangutan Raga. gadis membalas ciuman Raga, seakan tak perduli dengan adanya junior mereka terus saling membalas pangutan satu sama lain, ketika ciuman semakin memanas, tubuh mungil junior yg terhempit membuat junior menangis karena merasa tidak nyaman. dan pada akhirnya junior menangis dengan keras.
Secara paksa ciuman itu mereka akhiri, keduanya sama-sama tersenyum. "Kau jangan menggodaku "Ucap Raga yg hampir saja khilaf .
__ADS_1
"Kau yg memulainya. "Jawab gadis tak mau kalah. dan kembali keduanya tertawa.
"Aku tidak tahu dapat menahannya atau tidak selama sebulan lebih lamanya. "keluh Raga yg merasakan adiknya sudah berdiri dengan tegak. "Hanya menciummu saja, dia terbangun dengan cepat. "lanjutnya mengeluh.
"Ini baru tiga hari, tapi kau sudah mengeluh "Jawab gadis.
"Ya aku tahu, dan kau harus tahu, tiga hari saja bagaikan tiga bulan lamanya untukku, dan aku masih harus menunggu sebulan lebih lamanya, itu aku tidak yakin, "keluhnya frustrasi. Raga menyerahkan junior pada gadis.
Aku akan menuntaskannya didalam kamar mandi, "lanjut Raga.
Gadis tersenyum, "Apa kau sangat menginginkannya, "Goda gadis menyentuh dada bidang suaminya.
"Gadis. "Panggil Raga yg tidak dapat menahan hasratnya.
"Selamat berjuang didalam kamar mandi, "bisik gadis menggoda tepat di telinga kiri suaminya. dan itu terdengar begitu sexy di pendengaran Raga.
"Oh astaga gadis, "Ujar Raga yg tidak dapat menahan lagi hasratnya. Raga mengambil junior, lalu membaringkannya di atas kasur, setelah itu ia raih istrinya, ia meraup wajah gadis dengan penuh nafsu, kemudian ia pangut bibir istrinya kembali dengan hasratnya yg tidak dapat di ungkapkan , tangannya berselancar kemana-mana, Raga seakan lupa jika istrinya saat tidak dapat di jamah lebih, ketika tangan Raga hendak menyentuh bagian sensitif gadis, gadis langsung menahannya.
"No, sayang, apa kau lupa junior baru saja hadir tiga hari yg lalu. "Ucap gadis menahan senyuman, karena melihat suaminya yg sudah terlihat begitu bergairah.
"Oh shit "umpat Raga lupa, "kenapa kamu diam saja, "Ujar Raga kesal.
"Bagaimana aku mau bicara, bahkan kau tidak membiarkan aku walau hanya sekedar bernafas. "seru gadis tak mau kalah.
"Sayang, jadi aku harus berjuang sendiri? "ujar Raga memelas. Gadis mengangguk dengan menahan senyum.
"Kau lihat saja aku akan membalasmu nanti, "Ucap Raga lalu pergi masuk kekamar mandi.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung
Like dan komennya ya jangan lupa🤗