
" Sayang kenapa jam segini baru pulang ." Dewi menghampiri Fahri yang baru masuk ke dalam rumahnya.
Fahri mengernyit bingung , " Tumben sekali dia menunggu ku." Batin Fahri . Karena selama ini biasanya Dewi hanya menunggu nya di kamar bahkan kadang dia tidur tanpa menunggu Fahri pulang.
" Maaf tadi Mas lembur ." Fahri menjawab datar .
" Ya sudah sayang , Apa kamu akan membersihkan badan dahulu?."
Fahri hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari istri pertama nya itu.
Mereka pun berjalan bergandengan tangan ,namun dengan fikiranya masing-masing.
Sesampainya di kamar ,Fahri langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri .
Seperti biasa Dewi memakai gaun tidur tersexi nya .Kali ini Ia punya tujuan tersendiri .
Fahri keluar dari kamar mandi,
" Maas ." Dewi langsung mendekati Fahri . Tangan nya bergerilya menyusuri dada bidang Fahri.
" Saya capek Dew." Fahri melepaskan tangan Dewi yang berada di dadanya dan tengkuknya. Fahri pun meninggalkan Dewi yang masih terdiam di tempatnya .Dan berjalan menuju ranjang , langsung merebahkan tubuhnya .
Sebenarnya Dewi mulai merasa curiga dengan sikap suaminya akhir-akhir ini. Fahri sering sekali mengabaikannya . Karena itu Ia harus buru-buru menjalankannya rencana nya itu. Dewi langsung menyusul suaminya dan tidur di sampingnya. Dewi mencoba memeluk Fahri dari belakang , Ia juga menciumi tengkuk fahri ,berharap suaminya itu meresponnya . Dan ternyata suaminya itu tidak bergerak sama sekali Bahkan tidak merespons cumbuanya.
Fahri mencoba mengabaikan apa yang Dewi lakukan . Sebenarnya Ia tidak benar-benar tidur , Ia hanya malas jika harus meladeni Dewi malam ini. Karena Ia merasakan Anisa lah yang sudah menguasai fikiranya saat ini.
Dewi pun di buat kesal oleh sikap Fahri malam ini. Padahal awalnya Ia ingin bercinta dengan nya , Lalu merayunya untuk segera menceraikan Anisa. Namun kini niatnya gagal sudah .Dengan perasaan kesal dan jengkel akhirnya Dewi pun ikut tertidur memunggungi Suaminya.
Ke esokkan pagi nya Dewi tak patah arang, kalau semalam gagal Ia akan mencobanya pagi ini .
" Sayang Ayo bangun ," Dewi mengguncangkan pelan tubuh Fahri .
Belum ada respon dari Fahri Ia pun mencari akal .Ia lalu menciumi bibir Fahri dengan lembut . Dan tanpa sadar Fahri membalas ciuman itu . " Akhirnya kamu kena juga Mas ."
Dewi merasa dirinya telah menang , karena Fahri membalas nya .
Padahal Fahri masih di alam bawah sadarnya , Ia merasa sedang melakukan itu dengan Anisa .
__ADS_1
Fahri pun terkejut saat membuka matanya ternyata Dewi lah yang sedang melakukanya .
Dengan refleks Fahri mendorong nya , sampai Dewi terjungkal ke belakang.
" Aawww,, Mas Fahri apa-apaan sih !." Dewi kesal karena Fahri mendorong nya dengan begitu kuat hingga Ia terjungkal dan kini bokongnya terasa sakit.
" Ma,,maaf , tidak sengaja ." Fahri pun beranjak dari ranjangnya dan membantu Dewi yang masih terdiam sambil merasakan nyeri di bokongnya.
Setelah Dewi bangun dari posisinya ,Fahri segera meninggalkan Dewi dan segera masuk ke dalam kamar mandi .
Dewi menatap punggung Fahri . Ia berfikir apa yang membuat suaminya itu berubah sikapnya . Yah Fahri yang sekarang tak lagi seromantis dulu. Tak lagi suka bermanja-manja dengan nya setiap kali mereka di rumah. Bahkan terkadang Fahri berkata ketus padanya , sungguh berbeda dengan Fahri yang dulu.
" Aku akan mencari tahu kenapa sikapnya jadi berubah seperti itu." Gumam Dewi dalam hati.
Dewi masih terus mencoba lagi . Kali ini Ia rela bangun pagi-pagi untuk membuatkan sarapan untuk suaminya itu.
" Kalau bukan karena harta mu , aku tidak akan Sudi memasak seperti ini ." Dewi memasak sambil terus menggerutu dalam hatinya. Selama pernikahan yang hampir enam tahun itu ,Dewi memang tidak pernah memasak untuk suaminya, Fahri pun tidak pernah mempermasalahkan itu. Fahri dan Dewi dulu lebih sering makan di luar . Sesekali Mbok Minah lah yang memasak makanan untuk Fahri dan Dewi.
Fahri menuruni anak tangga. Ia mencium bau masakan yang menurutnya aneh di Indra penciuman nya. Ia pun berjalan menuju ruang makan. Fahri melihat Dewi sedang menata masakanya di atas meja.
" Sayang , ayo makan , ini aku yang masak loh ." Dengan senyum percaya diri Dewi membanggakan hasil karyanya .
Fahri pun duduk sambil melihat hidangan di hadapannya , yang membuat selera makanya langsung anjlok.
Nasi goreng dengan telur ceplok . Telur ceplok yang lebih mirip kue cucur dengan pinggiran menghitam karena gosong.
Dewi pun menyendokkan nasi goreng ke dalam piring Fahri beserta cucur gosongnya ,karena itu tidak bisa di sebut telur ceplok. Namun Fahri tidak berkomentar sedikit pun.
Ia tetap menyantap makanannya sedikit demi sedikit , nasi goreng dengan rasa yang aneh tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata.
Di rasa sudah tidak kuat ,Fahri pun menyudahi sarapanya . Ia melirik jam di pergelangan tangan nya ,masih ada waktu setengah jam untuk melakukan rutinitas nya yang kini menjadi prioritas nya.
Fahri pun berpamitan pada Dewi untuk berangkat ke kantor.
" Mas , apa ini tidak terlalu pagi untuk berangkat ke kantor ?." Dewi bertanya pada Fahri karena beberapa hari ini Fahri berangkat lebih pagi dari biasanya.
" Ada banyak berkas dari proyek baru yang harus segera di selesaikan ." Fahri beralasan.
__ADS_1
Yah itu adalah alasan yang tepat ,karena Fahri memang sedang menangani proyek besar dan Dewi mengetahui itu. Jadi Dewi tidak terlalu curiga padanya.
Di sini lah Fahri di sebrang jalan yang berhadapan dengan Mini Market tempat istri kecilnya itu bekerja. Ini sudah menjadi rutinitas yang menjadi prioritas nya saat ini.
Memandang wajah cantik Anisa dari kejauhan .
***
" Permisi Mba." Seorang lelaki dengan bejaket hijau dan berhelm hijau bergambar sepeda motor, mendekati Anisa yang sedang berdiri di belakang mesin kasir.
" Iya Mas , ada yang bisa di bantu." Karena Anisa berfikir orang di depanya ini kesulitan mencari barang di Mini Market nya.
" Ada paket buat Mbak nya ." Kurir itu menyodorkan 1 Buah kotak nasi yang terbungkus dengan plastik transparan . Bisa di lihat dari tampilannya itu adalah makanan dari Restoran mahal.
" Loh Mas , aku tidak pernah pesan makanan ." Anisa terlihat bingung .
" Memang bukan Mbaknya yang pesan , tapi seseorang telah memesankan buat Mba ." Kurir itu mencoba menjelaskan.
" Tapi aku ga ada uang Mas , untuk membayar makanannya." Jawab Anisa polos.
" Ini sudah di bayar Mba ,dengan yang memesan nya."
"Ooh ." Anisa masih terlihat bingung.
" Silahkan di terima Mba, di belakang saya sudah ngatri ini loh." Kurir itu tersenyum sambil menunjuk beberapa orang yang hendak membayar belanjanya.
" Eeh ,, baiklah Mas, Trimakasih yah ." Ucap Anisa malu-malu.
Anisa pun kembali melayani pelanggan Mini Market nya. Tetapi dalam hati Ia merasa penasaran dengan seseorang yang mengirimkannya makanan .
Setelah pelanggan nya sepi Ia pun penasaran dengan isi kotak makanan itu. Anisa pun membaca memo kecil yang ada di atas kotaknya . " MAKAN LAH " Anisa menautkan kedua alisnya membaca tulisan itu.
Dari kejauhan Fahri tersenyum kecil melihat reaksi istri kecilnya itu. Dan Ia pun pergi berlalu menuju Kantornya.
-
-
__ADS_1
-
Jangan lupakan like nya y Kaka. silahkan mampir juga di novel pertama aku yang berjudul " Penjaga Hati" ,Sampai ketemu di episode selanjutnya. Terimakasih 😇😇😇