
Di rumah mewah ada seorang wanita yang sedang kesal , karena suaminya sejak sore tidak bisa di hubungi, Bahkan supir pribadi suaminya pun tidak mengetahui keberadaan
majikanya itu.
" Bagaiman kau bisa tidak tahu ,Haahh ." Bentak Dewi pada supir pribadi suaminya itu.
" Maaf Nyonya , tadi Tuan Fahri menyuruh saya pulang saat jam makan siang ." supir itu berbicara dengan rasa ketakutan.
" Sudah lah ." Dewi mengibas kan tanganya memberi kode pada supir nya itu untuk segera pergi.
Kali ini Dewi sungguh sangat geram dengan perubahan sikap suaminya . Semenjak kepergian Anisa beberapa bulan lalu sikap Fahri pun berubah. Di tambah lagi dengan penolakan nya saat Ia meminta suaminya untuk menceraikan Anisa .
* Flasback *
" Sayang , kenapa kamu tidak menceraikan Anisa saja , dia meninggalkan mu juga meninggalkan rumah tanpa seizin mu ." Ucap Dewi sambil membelai- belai dada bidang Fahri yang menjadi tempat favorit nya.
Mereka berdua sedang ada di dalam kamar .
Dewi sengaja menggoda Fahri dengan belaianya dan baju sexi andalannya . Karena beberapa Minggu terakhir ini suaminya itu jarang sekali menyentuhnya . Itulah sebabnya kadang Ia lebih sering melampiaskan nafsu nya dengan selingkuhannya.
Fahri tidak menjawab perkataan Dewi .dirinya hanya sibuk dengan ponselnya ,membalas pesan dari rekan-rekan bisnisnya .
" Sayang , apa kamu tidak mendengarkan ku ? ." Dewi kesal karena Fahri mengabaikannya . Dewi langsung menegakkan duduknya menjauhi Fahri .
Fahri menatap Dewi , tatapan datar yang sulit di artikan .
" Mas kamu kenapa sih , semenjak Anisa keluar dari rumah ini sikap mu jadi berubah , apa kamu sudah mencintai wanita aneh itu ." Dewi berteriak di depan Fahri .
Fahri pun beranjak dari posisi nya dan memilih duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya . Dia sedang enggan meladeni istrinya yang tidak tahu diri itu. Ia harus menahan emosinya , karena ini bukan saatnya untuk membongkar perselingkuhan dewi dengan mantan kekasihnya dahulu.
" Mass , aku minta kamu segera menceraikan wanita aneh itu , atau aku akan meninggalkan mu !! ." Dewi membentak sambil memerintah Fahri, dulu cara seperti ini ampuh membuat Fahri kelabakan dan langsung menurutinya.
" Jika kau ingin meninggalkan saya , lakukan lah ." Fahri berucap sambil berlalu pergi dari kamarnya .
" Mas ." Dewi berteriak sambil melempar bantal ke arah pintu yang sudah tertutup.
" Sialan kau Fahri ." dewi memakinya . Tentu saja dengan suara pelan Karena Ia tidak ingin Fahri mendengar nya.
" Bagaimana ini , aku harus segera mencari cara agar Fahri mau menceraikan Anisa.
__ADS_1
***
Anisa pun menuruti Fahri menuju kamar yang berada di lantai atas . Namun setelah sampai di atas ,Ia bingung ada 3 pintu kamar yang tertutup . " Yang mana kamarnya ." Gumam Anisa .
Tiba-tiba Fahri keluar dari kamar yang berada di tengah-tengah. " Sampai kapan mau berdiri di situ saja ."
" Maaf ka, aku tidak tahu letak kamarnya ." Anisa berucap pelan sambil menunduk , seperti anak kecil yang sedang di marahi oleh ayahnya.
" Huuff, Masuk lah ." Fahri menghela nafas nya kasar .
Anisa pun masuk kamar yang di tunjukkan Fahri , " Subhanallah , Indah sekali ." Anisa memandang sekeliling ,kamar dengan interior minimalis namun terlihat mewah dan elegan .
Yah kamar ini dulu memang di rancang untuk Dewi . Fahri membeli satu unit Apartemen mewah ini dengan harga fantastis ,Ia berniat akan memberikan Apartemen ini , sebagai hadiah Dewi saat Ia mengandung anaknya kelak. Namun hingga saat ini Dewi belum juga mengandung anaknya ,bahkan istrinya itu di vonis mandul oleh Dokter. Bertahun-tahun Fahri tetap setia pada Dewi . Walaupun istrinya itu berulang kali mengkhianati nya ,Fahri tetap memaafkannya . Namun kali ini Fahri tak kan lagi bisa memaafkan nya .
" Sebaiknya kau istirahat saja ." Saya akan membersihkan diri dulu. Fahri melangkah kan kakinya menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya .
Anisa pun duduk di sisi ranjang luas itu . Tak pernah terbayangkan jika dirinya akan tinggal di tempat seperti ini, Entahlah ini hanya sementara atau selamanya . Mungkin juga ini untuk sementara sebelum suaminya itu menceraikan nya. Itulah yang ada di fikiran Anisa saat ini.
Fahri pun keluar hanya dengan menggunakan celana kolor nya tanpa menggunakan baju , dan handuk yang Ia sampirkan di lehernya , Agar air dari rambutnya tidak membasahi badanya lagi.
Anisa yang sedang duduk memunggungi nya pun berbalik ke belakang .
" Berisik, , kenapa kau berteriak ."
" Ka , kenapa tidak pakai baju ." Anisa bertanya . Masih dalam posisi menutup matanya .
" Loh kenapa ? , Ini kan kamar saya ." Fahri berkata acuh .
" Tapi di sini ada aku Ka ." Anisa mencium aroma sabun mandi dan shampo yang begitu menyengat di hidungnya ,serta hembusan nafas berbau menthol yang menerpa wajahnya.
Anisa pun membuka matanya . manik mata mereka bertemu .
Posisi wajah Fahri tepat di depan wajah Anisa . Fahri mengapit Anisa dengan kedua tangannya yang bertumpu pada ranjang. Anisa pun memundurkan posisi badanya ,agar ada jarak lebih untuk wajahnya dan wajah suaminya itu.
" Kenapa ? , bukankah saya suami mu , kau berhak melihat semuanya , begitu juga dengan saya. Kamu itu halal buat saya ." Bisik Fahri di telinga Anisa .Ia pun bangkit dan berlalu menuju lemari pakaian nya . Dalam hati Fahri merasa senang karena bisa menggoda istri kecilnya itu.Sampai terlihat semburan rona merah pada kedua pipi Anisa .
" Saya akan ke bawah sebentar , gantilah pakaian mu ." Fahri pun berlalu keluar dari kamarnya .
" Huufff ." Anisa pun mengelus dadanya seolah merasa sesak sejak tadi .
__ADS_1
" Anisa pun segera mengganti pakaiannya . Tak lupa juga Ia menjalankannya Ibadahnya.
Pada saat Ia hendak membuka mukena nya , Ia terkejut karena melihat suaminya sudah berada di ranjang ,duduk sambil bersandar .
Anisa menjadi ragu untuk membuka mukena nya , Karena Dia sekarang tidak dalam keadaan berhijab. Dan suaminya itu terus saja memandangi nya .
" Sudah selesai ? ." Fahri bertanya pada Anisa yang sedari tadi hanya diam menunduk.
" Sudah Ka ." Jawab Anisa pelan .
" Lalu kenapa tidak di buka penutup nya ."
" Ini namanya mukenah Ka ." Anisa mencoba memberi tahu suaminya itu.
" Iya ,kenapa tidak di buka ."
Anisa terdiam sejenak . Saat ini Ia berhadapan dengan suaminya ,yang sudah halal kalaupun melihat nya , karena Ia sudah menjadi makhrom nya. Tapi Ia masih belum terbiasa untuk membuka hijapnya di depan laki-laki lain .
" Kenapa masih belum di buka ." Fahri mulai terlihat gemas pada istri kecilnya itu.
" Aaku tidak berhijab Ka ." Anisa berkata dengan sangat pelan ,namun Fahri masih tetap bisa mendengar nya dengan jelas.
Fahri pun duduk tegak di sisi ranjangnya.
" Kemari lah ." Fahri menepuk tempat di sampingnya , memberi kode pada Anisa agar duduk di sebelahnya .
Anisa yang masih menggunakan mukenah lengkap pun ,beranjak dari posisinya dan berjalan mendekati ranjang ,lalu duduk di tempat yang Fahri tunjukkan .
" Pandang mata saya ." tangan Fahri menyentuh dagu Anisa dan mengangkat nya dan mata mereka saling bertemu ."
" Bisa kita memulainya dari awal ? ."
-
-
-
-
__ADS_1
Jangan lupa like nya yah Kaka, biar tambah semangat nulisnya , sampai ketemu di episode selanjutnya . Terimakasih 😇😇