
Anisa bingung haruskah ia berkata jujur atau bohong pada suaminya ini .
" Ka , apa pun perasaan ku pada Jaka itu hanya masa lalu , karena yang terpenting buat ku adalah saat ini perasaan cinta ku ini hanya untuk mu , dan anak kita kelak ." Ucap lembut Anisa sembari mengelus pipi suaminya yang sedang fokus menyetir .
Jawaban Anisa membuat Fahri seakan melayang . Jelas terdengar seperti pernyataan cinta Anisa untuknya . Ia kini sudah tidak perduli lagi dengan Jaka , toh kata -kata yang Ia dengar dari istrinya sudah membuatnya percaya seribu persen . Mereka pun menghabiskan waktu bersama , makan dan jalan-jalan hingga petang mereka baru sampai di rumah.
" Bu besok aku dan Ka Fahri akan pulang ." Ucap Anisa kepada Ibu dan Bapaknya saat setelah makan malam selesai .
" Loh , kok cepat sekali , baru juga beberapa hari sudah mau pulang saja ." Ibu menjawab dengan wajah yang sendu .
Anisa pun mengerti apa yang di rasakan Ibunya , karena sesungguhnya ia juga masih betah di sini. namun karena suaminya itu juga harus kembali bekerja mau tidak mau ia harus pulang juga.
" Lusa saya harus meninjau proyek langsung Bu ,dan itu tidak bisa di wakilkan ." Fahri mencoba memberi pengertian pada ibu mertuanya.
" Biar kan toh Bu , menantumu itu kan harus bekerja dia itu orang sibuk sudah mau datang saja kita sudah bersyukur . Ucap Bapak.
" Tidak juga Pak , mungkin lain kali saya akan meluangkan waktu lebih lama lagi jika main ke sini ." Fahri jadi merasa tidak enak pada mertuanya .
" Iya Nak ." Ucap Bapak mertua .
Mereka pun masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat .
" Sayang , ayo pakai ."
" Pakai apa Ka ? ." Anisa menautkan ke dua alisnya bingung.
" Apa kamu lupa dengan syarat yang aku ajukan tadi pagi ? ." Fahri mencoba mengingatkan Anisa .
" Yang mana yah Ka , aku lupa ." Anisa pura-pura lupa .
" Apa perlu Kaka ingatkan lagi , hemm ? ." Fahri tersenyum smirk pada istrinya dan itu membuat Anisa bergidik ngeri .
" Ka , nanti saja yah ? ."
" Sekarang ." Jawab Fahri datar
" Tapi Ka ini sudah lama sekali , mungkin sudah tidak muat lagi ."
" Coba saja dulu ."
__ADS_1
" Ka , tapi ini sudah tidak muat , si Dede nanti ketekan Ka ." Anisa mencoba memberi alasan .
Fahri menatap Anisa datar ,entah apa artinya itu .
" Baiklah aku akan membelikan nya yang berukuran besar ,hingga tak ada alasan lagi bagi kamu untuk menolaknya ." Fahri menatap Anisa dengan senyumnya yang menggoda.
" Yah ,paling tidak aku selamat malam ini ." Batin Anisa .
Fahri pun membantu Anisa mempacking baju-baju yang akan mereka bawa pulang .
" Ka , kapan kita akan kemari lagi ? ." Tanya Anisa sembari memasukkan baju-baju ke dalam koper .
" Mungkin nanti sayang , kalau anak-anak kita telah lahir ." Jawab Fahri santai .
" Apa maksudnya dengan anak-anak kita Ka ? ." Anisa mengernyit bingung.
" Yah kalau kita sudah punya anak lebih dari satu sayang ." Ucap Fahri dengan senyum menggoda nya .
Anisa jengah dengan apa yang di katakan suaminya , ia memilih diam saja .
" Aku ingin kita tidak menundanya jika ingin memiliki momongan lagi , aku ingin kita punya anak banyak , aku ini anak tunggal begitupun dengan kamu sungguh kesepian jika menjadi anak tunggal ." Sejak kecil Fahri selalu merasa kesepian jika di tinggal dengan kedua orang tua nya bekerja . Terkadang ia hanya berdua saja dengan Mbok Minah , karena Fahri termasuk anak yang pendiam saat masih kecil . Jadi jarang sekali bergaul dengan teman sebayanya. Temanya pun bisa di hitung dengan jari . Fahri mempunyai banyak kolega dalam bisnisnya tapi itu hanya sebagai rekan bisnis . Secara pribadi mereka tidak pernah berhubungan.
Anisa pun memahami apa yang di rasakan Fahri . Karena Ia pun terlahir sebagai anak tunggal , hanya bedanya Anisa selalu di temani oleh Ibunya , dan Ibunya selalu membawanya kemanapun ibunya itu pergi.
" Ka , kenapa kamu berkata seperti itu ."
" Sayang , kita tidak akan tahu sampai di mana umur kita berhenti , aku akan tetap berdoa agar kita berjodoh sampai akhir." Fahri berkata pada istrinya sambil memeluk istrinya dari belakang .
" Ka , aku akan menuruti berapa pun anak yang Kaka mau ."
" Benarkah itu ."
Anisa pun mengangguk menjawab pertanyaan dari Suaminya yang masih memeluk nya .
"Sayang kita Bobo yuk , aku ingin menengok Dede ." Ucap Fahri pelan di telinga Anisa . Yang membuat Anisa merinding mendengar nya.
Pagi pun menjelang , mereka tengah memasukkan barang bawaan mereka ke dalam bagasi mobil .
" Nak , ini bawalah untuk bekal di jalan nanti ." Ibu membawakan beberapa menu makanan yang di susun dalam satu rantang ,dan beberapa buah-buahan , ada juga sayuran mentah bahkan ibunya itu juga membawakan nya satu karung beras. Tentu saja itu membuat Fahri melongo melihatnya .
__ADS_1
" Apa ini !! ." Fahri terheran-heran di buatnya .
Anisa tertawa dalam hati melihat reaksi suaminya . " Ini adalah salah satu khas orang yang pulang kampung Ka ."
Fahri memaksakan bibirnya untuk tersenyum .Mau tidak mau ia pun memasukkan semuanya ke dalam mobil , bagasi nya penuh begitu juga kursi belakang . Seumur hidup nya Fahri baru merasakan hal seperti ini , Karena biasanya ia dan Dewi lebih suka yang praktis saja , lebih memilih makan makanan di restoran saat bepergian ketimbang membawa bekal. Tapi semenjak dengan Anisa Fahri terlihat sederhana mengikuti keinginan istrinya .
Anisa membawa Fahri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
" Baik lah Bu saya pamit yah ." Fahri mencium punggung tangan kedua mertuanya itu .
" Ibu dan bapak titip Anisa yah Nak , lindungi dan jaga dia dengan baik , jagalah cucu kami , hanya kamulah yang kami andalkan sekarang ." Bapak berpesan pada Fahri .
" Tentu saja pak , saya akan melindungi Anisa dan anak saya dengan jiwa dan raga , bahkan dengan nyawa saya sekalipun ." Ucap Fahri dengan serius .
Bapak nya pun hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar apa yang di ucapkan menantunya itu , ia yakin kalau Anisa bersama orang yang tepat.
Anisa pun memeluk kedua orang tuanya secara bergantian .
" Jaga diri baik-baik yah Nak , jaga cucu ibu dan bapak ini , kabari kami kalau kamu hendak melahirkan ." Ucap ibu pada Anisa .
" Pasti Bu , nanti Anisa akan menghubungi ibu dan bapak jika Anisa ingin melahirkan .
Anisa dan Fahri pun berjalan menuju mobil , di ikuti oleh ibu dan bapak di belakangnya .
Ada sebuah motor yang berhenti di pekarangan rumah . Dan tentu saja Fahri merasa tidak suka melihatnya . Anisa yang melihatnya pun langsung menggenggam tangan suaminya , Fahri pun menyambut genggaman tangan istrinya dan ia paham apa artinya itu .
" Apa kamu sudah ingin pulang Nis ? ." Jaka bertanya pada Anisa .
" Iya ." Jawab Anisa singkat namun tetap dengan senyumnya .
" Baiklah hati -hati di jalan ." Sebenarnya bukan itu yang ingin di tanyakan Jaka pada Anisa . Namun ia menjadi segan ketika tatapan Fahri begitu tajam padanya .
" Sampai berjumpa lagi di lain waktu ." Ucap Jaka sambil menjabat tangan Fahri . Dan Fahri pun menyambutnya .
Mereka pun berlalu pergi .
" Suatu saat kita pasti akan bertemu lagi Nis ." Jaka berkata dalam hati sambil menatap mobil Anisa yang berlalu pergi.
-
__ADS_1
-
Trimakasih untuk like , vote dan juga comenyaππ. Akan di usahakan up setiap hari walaupun hanya 1episode ππ..