
" Ka , istirahat lah , biar aku yang jaga thama " Anisa yang melihat suaminya sedang mengajak ngobrol anaknya yang berada di box bayi .
" Tidak sayang , anakku ini masih ingin mengobrol dengan ayah nya , jangan ganggu kalau laki-laki lagi ngobrol " Fahri berkata seolah-olah anaknya sudah besar .
" Huufff ,, " Anisa menghela nafasnya , begitulah Fahri saat ini kalau sudah bermain dengan anaknya tidak boleh ada yang mengganggu.
Anisa dan Fahri sangat menikmati peran baru mereka sebagai orang tua . Fahri yang selalu menemani Anisa bergadang di malam hari jika anak mereka sedang rewel , setelah dua bulan Orang Tua mereka pulang ke rumahnya masing-masing .
Saat tengah malam terdengar tangisan anaknya , Fahri yang baru saja tertidur bangun kembali .
" Cup,,cup ,, Dede Bobo yah , kasihan bunda baru Bobo ." Setengah sadar Fahri berbicara pada anaknya dan menggendong nya .
Karena Thama terus saja menangis akhirnya Anisa terbangun . Anisa tidak bisa menahan tawanya melihat apa yang di lakukan suaminya .
Ia bangun dari tidurnya dan berjalan ke arah box bayi dan mengambil anaknya yang masih menangis . Thama pun terdiam dalam gendongan nya . Anisa masih berusaha menahan tawanya .
" Nah , anak pintar ." Fahri tak lagi mendengar tangis anaknya , ia pun menaruh sesuatu yang ia timang-timang sejak tadi .
" Kenapa ringan sekali yah " Fahri pun menajam kan pandanganya ke arah box bayi anak nya .
" Astagfirullah Thama mengapa berubah jadi bantal guling ." Ucap Fahri terkejut.
" Hahahaha " Anisa sudah tak sanggup lagi menahan tertawanya .
" Sayang , kamu ini yah bukanya bilang " Fahri menjadi sangat malu di depan istrinya.
" Makanya ayah , kalau mau gendong aku itu jangan sambil tidur " Anisa berkata dengan menirukan suara anak kecil .
" Kamu ini yah ."
Mereka pun tertawa bersama di malam yang menjelang pagi itu .
***
" Thama , ayo makan dulu , jangan lari-larian seperti itu , nanti jatuh sayang " Anisa mengejar-ngejar anaknya yang sudah semakin aktif , usia Thama kini menginjak 1,2tahun pada usia 11 bulan ia sudah bisa berjalan . Thama termasuk anak yang aktif namun ia sedikit sekali bicara.
Brukk ,, Thama menabrak Fahri yang baru saja pulang dari kantor.
" Iiss jagoan ayah , tampan sekali ini " Fahri mengangkat anaknya ke atas .
" Ka , awas jatuh " Anisa begitu ngeri melihatnya jika kedua lelaki tersayangnya sudah mulai bermain .
" Iya sayang " Fahri menghampiri Anisa dan mencium keningnya .
" Thama dengan bunda yuk ? , biar ayah mandi dulu " Anisa mengambil Thama dalam gendongan suaminya .
Thama pun menurutinya dan berpindah ke dalam gendongan bundanya .
" Anak pintar , tunggu yah ayah mandi dulu setelah itu kita main lagi " Fahri mengusap lembut putranya . Yang membuatnya selalu ingin pulang ke rumah dan cinta pada istrinya yang membuatnya tidak pernah lagi memandang wanita lain .
Mereka kini hanya tinggal bertiga saja ,dua orang security yang berjaga secara bergantian itu pun mereka pulang ke rumah nya masing-masing setelah sift nya selesai ,ada asisten rumah tangga Dua orang yang membantu Anisa ,namun mereka hanya datang pagi dan pulang sore hari , Hanya Boby yang kadang tinggal di rumah itu sebagai supir Fahri , yah kini Fahri sudah berdamai dengan perasaanya , ia kini menganggap Boby sudah seperti adiknya , begitu pun Boby perasaan yang dulu di milikinya secara diam-diam pada Anisa kini sudah berganti perasaan tulus sebagai adik . Anisa memilih mengurus sendiri anaknya daripada menggunakan jasa babysister . Dan Mbok Minah kini sudah pulang ke kampungnya untuk beristirahat Karena Mbok Minah sudah memasuki usia senja .
"Sayang , apa anak kita sudah tidur ? " Fahri masuk ke dalam kamar anaknya yang juga tembus dari kamarnya , ia memeluk Anisa dari samping , Anisa sedang menyusui Thama ,
" Sudah Ka , tapi sepertinya belum nyenyak " Karena Thama belum melepaskan ASI nya . Ba'da magrib Thama sudah merengek saja karena sepertinya dia sudah mengantuk .
" Tumben sekali baru jam segini sudah tidur ? " Fahri mengendus-endus tengkuk istrinya .
" Ka , diam lah ,nanti Thama bangun lagi" Anisa kesal suaminya ini tidak mau diam .
__ADS_1
Fahri pura-pura tidak mendengar ucapan istrinya , ia terus saja melakukan nya .
Anisa pun mencubit sebelah kaki suaminya yang bertumpu pada badannya .
" Aawww ,, sakit sayang " Fahri berteriak pelan sambil memegangi kakinya .
" Habis kamu itu tidak bisa diam sih , nanti anakmu ini bangun lagi " Ucap Anisa kesal .
" Sayang , kayanya Thama sudah cocok deh kalau punya adik "
" Ka , umur anak kita belum genap dua tahun , dia juga masih Asi ,kasihan kalau harus punya adik ." Anisa berbicara lembut pada suaminya . Kini posisi mereka saling berhadapan karena Thama sudah melepaskan ASI-nya dan tertidur pulas .
" Sayang , umurku sudah tua , aku ingin punya anak banyak , dan membesarkan mereka bersama-sama dengan mu " Ucap Fahri dengan wajah yang berubah sendu .
" Sayang , siapa bilang kamu sudah tua ? , kamu itu semakin berumur semakin tampan " Anisa berkata sambil mengelus pipi suaminya . suaminya kini terlihat lebih berisi di bandingkan dulu .
" Sayang , kamu lagi gombalin aku yah " Fahri pun tertawa .
" Ka ,jangan berisik nanti thama bangun" Anisa menutup mulut suaminya dengan jarinya .
Fahri hanya mengangguk sambil menahan tawa nya .
Mereka pun keluar dari kamar anaknya dan ,turun ke bawah untuk makan malam .
" Bob , Boby " Anisa memanggil Boby yang sedang menginap di rumahnya .
" Iya mba " Jawab Boby dari arah belakang .
" Ayo kita makan dulu " Anisa mengambil piring dan menyendokkan nasi beserta lauk untuk suaminya .
" Mba , di mana baby boy ? " Boby memanggil thama dengan sebutan baby boy .
" Yaah , sepi banget kalau si baby boy itu sudah tidur , ga ada teman main ." Ucap Boby lesu.
" Saya sudah bilang kalau Thama itu sudah bisa kalau punya adik biar rumah ini semakin ramai " Fahri berkata sambil menatap istrinya .
" Cocok itu pak Bro , aku setuju , kalau perlu 3 atau 4 lagi mba , biar tambah rame " Boby berkata seolah-olah sedang berfikir .
" Uhhukk,,, uhhukk,," Fahri kaget dengan ucapan Boby barusan . Tapi Fahri mengangguk tanda setuju .
Anisa memberikan suaminya itu minum. ia menatap Boby tajam .
Boby yang melihat tatapan dari Anisa pun hanya cengengesan ga jelas .
" Kamu itu juga harus nya segera menikah biar bisa punya baby boy sendiri "
Boby hanya menggaruk tengkuknya ,ia jadi salah tingkah sendiri .
Setelah selesai Ia mereka pun masuk ke kamarnya masing-masing .
***
" Ka aku mau mangga yang itu "
" Sayang aku ga bisa memanjatnya " Sebenarnya pohon itu tidak terlalu tinggi namun Fahri takut kalau harus memanjat pohon .
Tak berselang lama Boby datang sambil menggendong Thama ,mereka baru saja pulang dari taman yang ada di perumahan itu sambil membawa bola .
" Bob " Fahri memanggil Boby .
__ADS_1
Boby pun menurunkan Thama dari gendongannya . Dan berjalan ke arah Fahri dan Thama juga berlari ke arah bundanya .
" Ada apa pak Bro ? " Boby seperti baru saja melihat orang yang di terpa badai .
Anisa dengan wajah cemberut nya dan Fahri dengan wajah yang kusut dan rambut acak-acakan .
" Tolong petikan mangga itu ." Fahri menunjuk pohon mangga di halaman depannya yang sedang berbuah .
Boby mengerutkan keningnya ." Tumben sekali Anisa minta mangga muda , atau jangan-jangan " Bantin Fahri pikirannya jadi melayang jauh , ia merasa ini seperti thejavu .
" Cepat ambilkan , sebelum terjadi badai lagi " Fahri membisikannya di telinga Boby .
Boby pun mengangguk mengerti sambil tersenyum . " Akhirnya Thama punya adik juga " Batin Boby .
***
" Bob cepat ambilkan cabainya ."
" Ka , ulek dong cabenya , jangan lupa terasinya yah , pokoknya harus seperti buatan Mbok Minah loh " Anisa terus saja mengoceh sambil memakan cemilanya dan menonton TV dengan anaknya .
Sedangkan di dapur dua orang pria tengah berusaha memenuhi permintaan ratu mereka .
" Bob , ini bagaimana caranya "
" Gini pak Bro campurkan semuanya jadi satu , lalu di ulek "
" Tak ,,tok,,tak ,,tok "
" Pak Bro santai nanti ulekan dan mejanya bisa pecah kalau caranya seperti itu " Boby ngeri melihat cara mengulek Fahri .
" Ya sudah ini kamu kerjakan saja " Ucap Fahri ,ia sama sekali belum pernah menyentuh benda itu .
" Ka , aku maunya buatan kamu loh yah sambalnya ." Anisa berteriak .
" Iya sayaang " Ucap Fahri lesu .
" Semangat Pak Bro "
***
" Ayo cepat , aku sudah tidak kuat lagi "
" Nak ayo , kita ke rumah sakit sekarang"
Fahri terus saja mondar-mandir ,dirinya masih saja panik menghadapi proses persalinan istrinya yang ke dua .
" Nak , kamu cari apa sih ? " Wina kesal dengan anaknya itu .
" Fahri lupa menaruh kunci mobil Mah .."
" Fahriiiii.......!!!!"
THE AND
Trimakasih yang sudah setia membaca novel Madu Yang tak semanis madu . Tak ada cinta yang berakhir bahagia yang ada hanya perjalanan cinta yang bahagia ,karena pada akhirnya setiap yang saling mencintai akan di pisahkan jua oleh kematian . Begitu pun dengan kisah cinta rumit antara Anisa dan Fahri . Karena pada akhirnya maut jua lah yang memisahkan mereka .
Author sedih akan berpisah dengan pembaca setia novel ini 😢. Trimakasih atas like nya. terutama yang sudah memberikan vote nya . dan Comen kalian yang sudah membuat Author jadi tambah semangat. Sampai ketemu di novel Author yang lainya , akan ada seson 2 tentang anak-anak Anisa dan Fahri . tetap ikuti Author yah😘😘😘
Terimakasih readers ter love love love
__ADS_1