
" Apa kamu berubah fikiran Nak ? ." Wina bertanya kembali pada Fahri .
" Apa keputusan Fahri ini salah Mah ? ." Fahri malah balik bertanya pada Mamah nya .
" Keputusanmu sudah benar Nak , hanya saja ,kamu harus menunda nya sebentar sampai Dewi sembuh ."
" Tapi Mah bagaiman dengan . . ." Ucapan Fahri terhenti saat pintu ruangan Dewi terbuka .
" Bagaimana keadaannya dok ? ." Tanya Wina pada Dokter.
" Kondisi pasien tidak terlalu parah , lukanya juga tidak dalam dan beruntungnya kalian cepat membawanya ke sini ." Ucap dokter
" Boleh kami menjenguk nya dok ."
" Silahkan ,tapi nanti setelah pasien di pindahkan ke ruang rawat , Baiklah saya permisi ." Dokter itu berpamitan pada Fahri dan Wina .
Tak berselang lama Dewi sudah berada di ruang rawat .
" Mah , Fahri tunggu di sini saja ." Fahri enggan masuk ke dalam kamar rawat Dewi .
" Baiklah Nak ." Wina mengerti keadaan anaknya saat ini .
Wina pun masuk ke dalam , Ia melihat Dewi sedang tertidur ,
Saat Wina duduk di bangku yang ada di samping ranjang Dewi , tiba-tiba saja Dewi terbangun .
" Mah ." panggil Dewi dengan suara lemah .
" Kamu sudah bangun Dew , apa kamu ingin minum ."
Dewi menggeleng , " Di mana Mas Fahri Mah ? ." Dewi menanyakan Fahri .
" Dia ada di depan Dew ."
" Aku mau bertemu Mas Fahri Mah ." Ucap Dewi seraya memohon pada Wina .
" Baiklah ." Wina pun beranjak dari duduknya dan memanggil anaknya yang berada di depan ruang rawat .
Fahri pun masuk ke dalam , namun Ia berdiri agak jauh dari Dewi .Dengan tatapan datar
" Mas , maafkan aku , aku sungguh tidak ingin bercerai dari mu, aku menyesal Mas , aku akan mengikuti apapun kemauan mu Mas ." Dewi berbicara sambil terisak menahan tangisnya .
Fahri hanya diam tanpa kata , Ia bingung harus berbicara apa , hatinya kini mulai bimbang setelah melihat kondisi Dewi saat ini .
" Apa yang harus saya lakukan sekarang ." batin Fahri.
"Aku janji akan menerima Anisa , Dan calon anak Kamu yang ada di rahim Anisa Mas , kita rawat bersama-sama ." Dewi masih berusaha untuk meluluhkan hati Fahri .
" Istirahat lah ." Hanya itu yang Fahri ucapkan dan berlalu pergi .
Tersirat senyum kecil di bibir Dewi , setelah kepergian Fahri.
__ADS_1
Dewi pun menghubungi seseorang untuk segera datang ke Rumah Sakit .
Tak berselang lama seorang pria masuk ke dalam ruang rawat Dewi .
" Kenapa kamu lakukan ini Dew ? ."
" Sayang , kau sudah datang , ini hanya luka kecil , tidak apa-apa ." Dewi menjelas kan pada kekasih gelapnya itu.
" Kamu melakukan semua ini ,hanya karena Fahri akan menceraikan mu , lalu jika kamu tidak mau bercerai , aku kamu anggap apa ? ." ujar pria itu penuh emosi .
" Sayang , ini hanya sementara , jika semuanya sudah tercapai aku janji akan meninggalkan Fahri , dan hidup bersama mu ." Dewi mencoba menenangkan kekasih gelapnya itu .
" Kenapa kau begitu berambisi Dew , Kalau soal harta aku bisa memberikannya , bukan kah kau sudah membuat Fahri menderita saat ini ." Lelaki itu mulai lelah menuruti ke inginan Dewi .
" Sayang , bukankah kita sudah membicarakan soal ini ."
" Sekarang apa lagi yang akan kamu rencanakan ?." Selidik lelaki itu .
" Aku tidak ingin Fahri menemukan Anisa , atau kalau perlu buat Anisa pergi untuk selama-lamanya ." Ucap Dewi penuh rasa benci .
"Kamu jangan gila Dew ! , Kalau pun kita melakukan itu ,jika Fahri sudah tak lagi mencintaimu buat apa ?."
" Paling tidak keluarga nya sudah hancur ." Senyum jahat Dewi terukir di bibirnya .
" Kenapa kamu seperti ini Dew ."
" Sayang , kenapa kamu jadi semelow ini ." Dewi melihat seperti ada yang aneh dengan lelaki itu .
Dewi terdiam setelah mendengar kan kata-kata itu dari Kekasih gelapnya.
" Sayang ." Dewi memanggil lelaki itu , namun dia sudah keluar dari ruanganya .
" Apakah kamu juga akan meninggalkan ku ." tak terasa air mata Dewi mengalir dari kedua matanya .
***
Dua Minggu sudah setelah kepergian Anisa , Fahri masih belum juga menemukan titik terang . Kini Fahri sudah tidak tinggal lagi dengan Dewi , Ia lebih memilih tinggal di Apartemen nya dari pada di rumahnya bersama Dewi .
Dewi selalu berusaha untuk mendekati Fahri kembali . Namun Fahri selalu bersikap acuh pada perhatian yang Dewi berikan . Mereka memang belum resmi bercerai karena Dewi menolak untuk menandatangani nya.
" Sayang , bagaimana keadaan mu dan calon anak kita sekarang , saya sungguh sangat merindukan mu ." Fahri berkata pada dirinya sendiri .
" Nak ,makan lah dari pagi kamu belum makan apapun ." Wina merasa iba pada anaknya itu , kehilangan Anisa membuat hidup anaknya terpuruk , Ia pun berharap anaknya segera menemukan istrinya .
" Fahri tidak lapar Mah ."
"Jangan seperti itu Nak , Anisa pasti akan segera di temukan , dan kamu harus tetap mempunyai semangat demi calon anak mu ." Wina mencoba memberi semangat pada anaknya itu .
Akhirnya Fahri pun menuruti kemauan Mamah nya ,mereka makan malam bersama .
" Nak , bukankah kamu sudah memanggil Mbok Minah kembali ? ."
__ADS_1
Fahri baru teringat tentang Mbok Minah , kenapa sampai saat ini belum juga datang .
" Iya Mah , tapi entahlah sampai saat ini belum juga datang ." Fahri sendiri sampai lupa dengan Mbok Minah .
" Biarkan saja , mungkin Mbok Minah masih sibuk ." Ucap Wina.
Saat mereka sedang menikmati makan malam , tiba-tiba saja ponsel Fahri berbunyi . Fahri segera mengangkatnya .
" Hallo ."
" Benar kah ? ."
" Baiklah , cari tahu kembali tentang orang itu , jika sudah ketemu bawa dia untuk menemui saya di Apartemen ." Ada setitik harapan kini tentang keberadaan Anisa.
" Ada apa Nak , apa ada kabar baik tentang Anisa ." Wina penasaran karena Ia melihat ada sedikit senyum di bibir Fahri yang sudah lama Ia tidak melihat nya .
" Ada yang memberi tahu , kalau Anisa keluar dari Apartemen dengan seorang pria menggunakan sepeda motor Mah ." Fahri yakin jika ada yang membuat Anisa meninggalkan Apartemen .
" Alhamdulillah , semoga Anisa dan cucu Mamah dalam ke adaan baik-baik saja ." Wina juga ikut senang menerima kabar itu , walaupun masih harus terus mencari .
Ke esokan paginya Fahri mendapat kabar , bahwa yang membawa Anisa ke luar Apartemen adalah seorang kurir pengantar makanan . Ia kini teringat sebelum Ia meninggalkan Anisa di Apartemen , Ia memesankan makanan terlebih dahulu dari sebuah Restoran .
" Apa dia orang nya ." Batin Fahri. Ia tak ingin menyia-nyiakan waktu ,Fahri langsung mengambil kunci mobil dan berlalu keluar dari Apartemen nya .
***
" Pak boleh minta mangga nya yang itu ? ."
" Neng lagi ngidam ? ."
" Iya pak ." Senyum malu terukir di bibir cantiknya .
" Sebentar yah Neng , Bapak ambil tangga dulu ."
Bapak paruh baya itu pun mengambilkan 1kresek mangga .
" Segini cukup Neng ."
" Cukup Pak , Trimakasih yah ."
" Sama -sama Neng , sudah sana buru-buru di bikin , Nanti Dede nya keburu ngiler ." Ucap bapak itu sambil tertawa.
" Tinggal bikin sambel terasi nya deh ." Ia berucap sambil menelan ludahnya .Membayangkan memakan mangga dengan sambel terasi.
-
-
-
PSBB di mulai , tetap jaga kesehatan. jaga jarak , jaga kebersihan , jangan lupa menggunakan masker . Trimakasih atas like dan vote nya 😍😍.
__ADS_1