
" Ka , tidak di kunci kenapa harus di dobrak sih ." Anisa berkata dengan suara pelan .
Fahri pun menjadi malu sendiri , mengapa ia tak terfikir dengan mencoba membuka pintunya dulu ,tidak main dobrak saja seperti ini.
" Sayang , kamu kenapa ? ." Fahri melihat istrinya itu seperti menahan sesuatu .
" Ka , perutku sakit ." Anisa meringis sambil memegang perutnya .
" Apa kamu mau buang air besar sayang ? , atau kamu salah makan , atau kamu ...." Fahri gugup hingga mengoceh tak jelas .
" Ka , sudah tidak lagi , sakit nya hilang ." Anisa merasa perutnya sudah tidak nyeri lagi .Ia meninggalkan suaminya yang masih terbengong-bengong di kamar mandi .
" Sayang , kok aku di tinggalin sih ." Fahri baru tersadar kalau Anisa sudah tidak ada di kamar mandi.
Anisa duduk di sofa , sebenarnya perasaanya sudah tak karuan cuma ia segan untuk berbicara pada suaminya , karena suaminya itu kadang terlalu berlebihan.
" Sayang makan yah , aku suapi " Fahri duduk di samping Anisa dengan membawa 1 piring nasi beserta lauknya .
" Aaa " Fahri menyodorkan suapan pada istrinya .
Anisa pun menerimanya dan memakannya . Di sela kunyahan nya Anisa merasakan nyeri kembali .Ia terdiam sejenak ,jari jemarinya meremas kuat pinggiran sofa yang Ia duduki .
" Sayang ,ada apa ? , apa makanan nya tidak enak ?" Fahri melihat expresi yang aneh dari istrinya . Tapi istrinya seperti sedang menahan sakit .
" Sayang , apa kamu ingin ..." Fahri menatap istrinya dengan harap-harap cemas.
Anisa hanya mengangguk ia mengerti apa yang di maksud oleh suaminya .
" Benarkah itu !! " Fahri masih tidak percaya.
Anisa mengangguk kembali .
Fahri langsung menaruh piring yang berisi nasi itu di meja , ia berdiri dan berjalan cepat keluar kamar.
"Mah , pah " Fahri berteriak panik . ia tak juga mendapat sahutan dari Mamah ataupun Papah nya iya langsung berlari menuruni anak tangga .
" Mah , pah " Fahri berteriak lagi ,
Wina dan Dedy yang sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton tv pun menjadi kaget ,mendengar teriakan dari anaknya itu.
" Fahri kenapa sih , teriak-teriak seperti itu " Wina jadi ikut panik .
Mbok Minah juga ikut keluar dari arah belakang saat mendengar teriakan Fahri . " Ada apa Den ?" Mbok Minah ikut penasaran .
" Nur mah , eeh Anisa Mah , istri Fahri Mbok , dia mah , dia " Fahri panik jadi ia bingung apa yang harus di ucapkan terlebih dahulu.
" Fahri tenang lah , ada apa sih ?" Wina jadi kesal sendiri .
" Mah , pah , Anisa sakit " Ucap Fahri .
" Sakit apa , cepat panggil dokter Nak " Wina juga mulai panik.
__ADS_1
" Bukan sakit itu mah " Panik membuat otak Fahri seakan tidak bisa berfikir .
" Kamu ini ngomong apa sih !!" Wina mulai kesal ,ia pun bangkit dari duduknya dan mendekati anaknya yang masih berada ditengah-tengah tangga .
" Apa istrimu mau melahirkan ? " tebak Wina .
" Iya mah " Fahri langsung mengangguk .
" Kamu itu cuma bilang begitu saja susah sekali ." Ucap Wina kesal ia langsung berjalan cepat menuju kamar .
Dady menyusul istrinya menaiki tangga .
" Mau sampai kapan kamu berdiri di situ Nak " Dedy menegur anaknya yang masih terbengong-bengong di tangga .
Sedangkan Mbok Minah kembali ke dapur menyiapkan sesuatu yang nanti akan di butuhkan .
" Nis , apa perutmu mulai sakit ?" Wina yang baru masuk ke dalam kamar ,ia melihat menantunya sedang duduk di sofa dengan wajah pucat .
" Iya mah , sepertinya sudah mulai kontraksi ." Anisa merasakan nyeri itu hilang kembali , ia terus beristighfar dalam hatinya .
Wina mengusap-usap punggung menantunya , " sepertinya kita harus ke rumah sakit Nak "
Anisa hanya mengangguk saja .
" Bagaimana mah , apa anak Fahri akan keluar ? " Ucap Fahri dengan semangat.
" Kamu pikir Mamah dukun yang bisa mengeluarkan bayi mu !!"
Fahri mendekati istrinya dan berjongkok di hadapannya .
" Sayang , apa begitu sakit ?" Fahri menjadi tidak tega melihat wajah kesakitan istrinya.
Anisa hanya tersenyum saja , karena sesungguhnya dirinya itu bingung menjabarkan rasa sakitnya .
" Nak , cepat siapkan baju-baju nya " Ucap Wina pada Fahri.
Fahri menuruti saran Mamah nya , ia pun berjalan mendekati lemari dan mengambil sebuah tas kecil dan memasukkan beberapa pakaian .
" Fahri !! mengapa kamu memasukkan baju-baju mu ? " tanya Wina heran.
" Tadi Mamah bilang siap kan baju-baju nya !! " Tanya Fahri dengan wajah polos.
"Iya tapi bukan baju-baju mu , tapi baju untuk bayimu dan Anisa , kamu ini sudah tua Fahri mengapa tidak bisa berfikir sih !!" Wina begitu geregetan dengan anaknya .
" Pliss mah jangan bawa-bawa umur ." Fahri menatap datar Mamah nya .
Anisa hanya senyum-senyum saja melihat suami dan mertuanya berdebat . Ia tahu suaminya itu sedang panik jadi tidak bisa berfikir .
" Papah akan siap kan mobil " Ucap Dedy sambil berlalu keluar dari kamar.
" Ka , itu ada koper di sudut kasur , aku sudah mempersiapkan semuanya , jadi Kaka tidak perlu mempersiapkannya lagi " Anisa berbicara lembut pada suaminya .
__ADS_1
Fahri pun tersenyum dan mengambil koper kecil yang di tunjuk Anisa .
" Ayo bawa istrimu ke rumah sakit Nak " Wina mencoba membantu Anisa berdiri .
" Mah , biar aku saja " Fahri menggantikan posisi Wina .
Saat baru keluar dari kamar langkah Anisa terhenti .Ia merasakan kembali kontraksi pada perutnya .Ia pun meremas tangan suaminya yang menggenggam tanganya dengan sekuat tenaga .
" Aaww" Fahri berusaha menahan sakit di tanganya . ia tahu rasa sakit yang istrinya rasakan jauh lebih sakit dari ini .
Wina yang berdiri di sampingnya ikut mengelus-elus punggung Anisa .Ia tahu kalau Anisa sedang mengalami kontraksi.
" Sayang , kalau kamu tidak kuat kita tidak usah ke rumah sakit yah " Ucap Fahri sekenanya .Dan kata-kata Fahri itu membuat Wina menatap jengah anaknya itu .
" Kamu ini bicara apa Nak , kalau tidak ke rumah sakit lantas Anisa mau melahirkan di rumah ? "
" Ti,,tidak juga mah " Fahri yang merasa ngeri dengan tatapan tajam Mamahnya .
Saat kontraksi nya hilang , Anisa mencoba berjalan kembali mereka menuruni tangga secara perlahan . Karena Anisa menolak ketika suaminya itu ingin menggendong nya.
Mereka pun masuk ke dalam mobil dengan Papah nya yang menyetir . Beberapa kali Anisa mengalami kontraksi saat di dalam mobil .Bahkan tanpa sadar Anisa meninggalkan bekas di beberapa bagian tangan suaminya .
Mereka pun telah sampai di rumah sakit,
Dokter sudah menyambut mereka karena sebelumnya Fahri sudah memberitahukan pihak rumah sakit kalau istrinya mau melahirkan .
" Dok boleh saya masuk ? " Fahri bertanya pada dokter , karena ia ingin mendampingi istrinya itu melahirkan .
" Boleh saja , asalkan bapak kuat ." Jawab dokter .
Fahri pun mengikuti Dokter masuk ke dalam ruangan bersalin.
Wina dan Dedy menunggu di luar . mereka berdoa dalam hatinya masing-masing . berharap menantu dan cucu mereka dalam ke adaan sehat.
Fahri menemani Anisa dalam proses melahirkan. Tangannya tidak pernah lepas menggenggam tangan istrinya ,pandanganya tak pernah lepas memandangi wajah istrinya . raut wajah yang berubah setiap 5 menit , menampilkan raut wajah kesakitan dalam proses mengeluarkan anak mereka , wajah yang merona kini berubah pucat .
" Andai rasa sakit itu bisa di berikan pada ku saja " Batin Fahri ,ia sungguh tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti itu .
Dokter memberi jeda , karena kontraksi Anisa hilang kembali . Doa tak pernah terputus di panjatkan oleh Anisa dalam hatinya .
" Bu sesakit ini kah saat ibu melahirkan ku ." Air mata Anisa menetes .
Kontraksi pun datang lagi , Fahri memberi semangat pada istrinya.
" Ayo sayang kamu pasti bisa , sebentar lagi kita akan bertemu dengan dede " Ucap lembut Fahri di telinga istrinya .
-
-
-
__ADS_1
Jangan lupakan like nya 😍, Trimakasih yang sudah like,vote dan juga komennya .