Madu Yang Tak Semanis Madu

Madu Yang Tak Semanis Madu
Episode 12


__ADS_3

Sudah hampir dua bulan berlalu . Fahri kini tidak bisa tidur jika belum melihat wajah istri kecilnya itu.


Seperti hari ini .Fahri uring-uringan karena seharian ini belum melihat wajah istri kecilnya itu. Ia mendapat kabar dari anak buahnya kalau Anisa hari ini tidak masuk kerja di karenakan sedang sakit.


" Anisa sakit apa yah , apa dia sudah ke dokter."


"Siapa yang sakit Pak ?." Ucap salah satu rekan bisnisnya.


Fahri pun baru tersadar ,kalau saat ini Ia sedang menjalani rapat. Dan semua mata tertuju padanya , Ia menjadi salah tingkah sendiri.


" Ehemm, maaf mari kita lanjutkan ." Fahri mencoba menghilangkan rasa malunya.


Rapat pun selesai , Fahri kembali ke ruanganya . " Saya tidak bisa seperti ini terus , pokoknya hari ini saya harus menemuinya."


Fahri berencana akan menemui Anisa sepulang dari kantor. Ia merasa harus menurunkan egonya kali ini. Ia juga merasa bahwa dirinya sudah mulai menaruh rasa pada istri kecilnya itu, terbukti setelah kepergian Anisa dari rumahnya dirinya merasa seperti ada yang kurang , dan selalu merindukan wajah cantik istri kecilnya itu.


Walaupun selama ini Ia tidak terlalu mencolok memperhatikan Anisa tapi Fahri sering kali mencuri-curi pandang pada Anisa tanpa sepengetahuan Anisa dan tentunya Dewi.


Pukul 5 sore Fahri sudah berada di mobilnya. Kali ini Ia menyetir sendiri mobilnya , karena Ia tidak ingin Dewi menyelidiki kemana Ia pergi lewat supir nya.


Berbekal alamat kostan yang di kirimkan dari anak buah nya ,akhirnya Fahri sampai juga di depan kostan Anisa .


3 petak kost-kostan yang salah satunya di tempati Anisa .


Dengan mantap Fahri keluar dari mobilnya . Ia berjalan menuju pintu kamar kost an Anisa . Yah tentu saja di iringi mata orang-orang yang ada di sekitar .


Semua mata tertuju padanya . Siapa yang tidak terpesona oleh wajah tampan Fahri .Kulit putih bersih,dengan jambang yang menambah aura ketampanan nya , Badan tinggi besar dengan stelan jas lengkap dengan dasi nya , sepatu bersih mengkilat . Sekilas orang yang melihatnya pun pasti sudah bisa menebak , kalau Fahri bukan orang yang biasa-biasa saja.


Tokk


Tokk


Tokk


Fahri mencoba mengetuk pintu kostan Anisa


Anisa yang sedang merasakan pusing pun ,mencoba bangun dari tidur nya , segera mencari hijab nya . Ia mengira Abang tukang galon yang mengetuk pintunya, karena memang Mira sedang memesan air mineral dalam kemasan galon dan minta di antarkan ke rumahnya.


Terdengar ketukan lagi dari pintu. " Iya sebentar ." Jawab Anisa sambil membuka hendel pintunya.

__ADS_1


Ceklekk


" Taro di sini saja bang a a....." Perkataan Anisa terhenti ,tergantikan dengan rasa terkejutnya .Ia mengucak kasar matanya dengan kedua tangannya ,menajamkan penglihatannya seolah-olah Ia salah lihat.


" Aah ,, tidak mungkin, aku pasti sedang berhalusinasi ." Anisa berkata dengan sangat Pelan . Namun itu terdengar jelas di telinga Fahri.


" Apa yang tidak mungkin ." Tanya Fahri ketika melihat Anisa akan menutup pintunya kembali.


Deg


Deg


Deg


Jantung Anisa berdetak lebih cepat dari biasanya . Ia sangat jelas mendengar suara Fahri suaminya itu.


Yang tadinya Anisa hendak menutup pintunya kini justru membuka nya kembali. Anisa menatap lelaki yang ada di hadapannya .Dari bawah sampai ke atas secara perlahan , tepat saat Ia memandang wajah Fahri . Manik mata mereka saling bertemu . Anisa menajamkan pandangannya kembali. " Apa ini bukan mimpi ." Gumam Anisa.


" Kau tidak dalam keadaan tidur, tentu saja ini bukan mimpi ." Jawab Fahri datar.


Braakk


Fahri pun kebingungan di buatnya . Ia pun membopongnya masuk ke dalam kamar Anisa .


" Di mana ranjangnya ?." Fahri melihat sekeliling nya , guna mencari ranjang tidur Anisa. Iya pun menginjak sesuatu yang empuk di bawah kakinya. " Apa dia tidur di sini ." Fahri melihat kasur lantai tipis yang berukuran kecil dengan satu bantal .


Ia pun langsung membaringkan tubuh istrinya di kasur lantai itu.


Ia segera memanggil dokter pribadi nya ,guna datang ke alamat yang sudah Ia kirimkan sebelumnya.


Dokter pun datang ,Ia langsung memeriksa tubuh Anisa yang belum siuman dari pingsannya.


" Dia sakit apa Dok ?." Tanya Fahri penasaran.


" Nyonya Anisa hanya kelelahan saja , Ia juga mengalami dehidrasi ." Dokter itu berkata sambil menulis kan resep obat yang harus di minum oleh Anisa.


" Lalu kenapa Dia bisa pingsan ?." Fahri kembali bertanya.


" Sepertinya ada yang membuatnya terkejut, karena kondisinya yang sedang tidak fit ,akhirnya Dia pingsan ." Dokter itu memberikan resep itu pada Fahri ,dan langsung undur diri.

__ADS_1


Fahri sempat menembus obatnya sebentar . sembari membelikan beberapa makanan dari Restoran mahal tentunya . Setelah kembali Anisa belum juga terbangun.


Ia sungguh kesal ,melihat beberapa bungkus mie instan dan air mineral isi ulang yang ada di kamar Anisa .


" Bagaimana tidak sakit kalau makanan yang kau makan tidak ada gizinya seperti ini." Fahri membuang semua mie instan ke dalam tempat sampah yang ada di sudut kamar Anisa.


" Apa yang akan Mamah katakan jika menantu pilihannya tinggal di tempat seperti ini ! , Bisa bisa saya di coret dari kartu keluarga." gumam Fahri sambil melihat sekeliling kamar yang di tempati Anisa.


Fahri sungguh sangat merasa bersalah pada istri keduanya itu . Sungguh tidak adil, Dewi selalu bergelimang harta dan membeli barang-barang mewah , sedangkan Anisa , Dia justru harus bekerja keras demi mencukupi kebutuhan hidupnya selama beberapa bulan terakhir ini.


Anisa pun tersadar dari pingsannya nya. Ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling guna mencari seseorang yang membuatnya tidak sadarkan diri tadi. Matanya tertuju pada lelaki tampan yang sedang duduk bersila sambil memainkan ponselnya.


Anisa pun bangun dari tidur nya Dan memijat pelipisnya sambil menetralkan rasa pusing nya .Tubuhnya masih terasa lemas , Ia pun memundurkan duduknya agar bisa bersandar pada tembok di belakangnya. Lalu Ia membenarkan letak hijab yang berantakan namun masih tetap menutupi auratnya.


Fahri yang melihat pergerakan dari Anisa pun ,hanya menatapnya datar tanpa bergeser dari duduknya.


" Apa masih pusing ?." Fahri bertanya pada Anisa yang sedari tadi hanya menunduk saja sambil memainkan jari -jari tangannya . Ia sangat tahu kalau Anisa sedang gugup.


Anisa hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Suaminya itu.


" Tatap saya , jika saya sedang berbicara , kenapa kau terus menunduk ,memang nya saya sedang berada di pangkuanmu." Ucap Fahri datar namun dengan sorot mata tajam menatap Anisa.


Itu sangat membuat Anisa ketakutan. Akhirnya Anisa pun memandang Fahri , namun hanya seperkian detik saja , lalu Anisa memandang ke segala arah untuk menghindari tatapan mata dari Suaminya itu.


Yah,, Anisa benar-benar dalam mode gugup yang teramat gugup ,hingga wajahnya tambah memucat.


Fahri pun menyadari kegugupan yang di rasakan Anisa .


" Pindah dari sini." Fahri berkata dengan tegas.


-


-


-


-


Jangan lupa like nya yah ,Biar author nya tambah semangat nulisnya😁😁. baca juga novel pertama yang judulnya " Penjaga Hati ".

__ADS_1


sampai ketemu di episode selanjutnya. Terimakasih πŸ˜‡πŸ˜‡


__ADS_2