
" Untuk apa kamu ke sini ." Fahri menatap benci pada lelaki di hadapannya ini.
"Bisa kita bicara sebentar , ada yang ingin saya bucarakan."
" Saya tidak ada urusan dengan Anda , silahkan pergi dari sini ."
" Tolong lah Fahri , hanya sebentar ." Lelaki itu seraya memohon.
" Ka , siapa yang datang ? ." Anisa menyusul Fahri menuju pintu .
" Kamu di dalam saja sayang ." Fahri tidak ingin Anisa bertemu dengan lelaki ini. Fahri pun menuntun kembali istrinya agar masuk ke dalam .
"Saya ingin bicara dengan kamu dan Fahri , Nis ."
" Tutup mulutmu ,jangan pernah menyebut nama istri saya !! " Dengan tatapan tajam Fahri menatap lelaki itu .
" Ka, dia siapa ?."
" Sudahlah sayang, jangan pedulikan dia ."
Fahri menuntun kembali Anisa masuk ke dalam , dan meninggalkan lelaki itu di depan pintunya.
" Dewi mengalami kecelakaan ." lelaki itu berucap .
Anisa dan Fahri menghentikan langkahnya .
" Dewi ingin bertemu kalian , terutama Anisa ." lelaki itu berucap lagi .
" Tidak akan pernah saya izinkan Anisa menemui Dewi ." Fahri berkata tegas pada lelaki itu .
" Saya harap kalian berubah fikiran , jangan sampai kalian menyesal nantinya ."
" Kenapa kami harus menyesal , bukankah kalian yang berbuat jahat pada kami , saya masih berbaik hati tidak menjebloskan kalian saat ini juga , mungkin kalau nanti saya akan memberikan pelajaran untuk kalian ." Fahri begitu emosi dengan pria itu, mungkin jika tidak memikirkan istrinya yang sedang hamil ia sudah menghajar lelaki yang ada di hadapannya ini.
" Ka ." Anisa sudah terlihat ketakutan ketika melihat Fahri begitu emosi.
Fahri pun menyadari itu . Iya langsung menuntun Anisa naik ke atas kamarnya , tanpa memperdulikan lelaki itu yang masih berdiri di tempatnya.
Saat sampai di dalam kamar ,Fahri langsung memberikan minum pada Anisa juga beberapa vitamin yang di sarankan oleh Dokter. " Istirahat lah sayang , saya akan keluar sebentar ." Fahri Langsung keluar dari kamarnya tanpa menunggu jawaban dari istrinya.
***
Fahri menuruni tangga , ia masih melihat lelaki itu .
" Mari kita bicara di luar ." Fahri berjalan mendahului dan di ikuti lelaki itu . Mereka duduk di sofa ruang tunggu yang ada di lobi Apartemen.
" Sebenarnya saya tidak ingin lagi berhubungan dengan kalian , apa pun yang terjadi ." Ucap Fahri dingin.
__ADS_1
" Saya ingin minta maaf , dan akan menyerah kan diri ."
" Atas dasar kesalahan yang mana ? , perselingkuhan , persekongkolan atau penggelapan dana perusahaan ." Ucap Fahri sambil menatap tajam orang yang telah merusak rumah tangganya dengan Dewi , Dia tidak menyesali apa yang telah terjadi. justru dengan begitu ia bisa bersama dengan Anisa.
" Untuk semuanya , saya mengakuinya ."
Ucap lelaki itu pasrah .
" Anda tahu , akibat ulah Anda dan Dewi hampir saja saya kehilangan anak saya !! ."
Lelaki itu hanya diam saja ,bahkan dia sudah pasrah jika Fahri akan menjebloskannya dalam jeruji besi , tapi ia berharap Fahri bisa memaafkan Dewi .
" Saya mohon temuilah Dewi , keadaanya sangat buruk . Ia mengalami kecelakaan tunggal ."
Fahri terdiam sejenak , dalam lubuk hatinya yang terdalam masih ada setitik rasa kasihan pada Dewi , karena biar bagaimanapun nama Dewi pernah terukir dalam sejarah hidupnya . Tetapi dengan apa yang mereka lakukan hampir saja ia kehilangan anak nya dan perusahaan nya yang merugi, akibat ulah Dewi menarik dana perusahaan dengan memalsukan tanda tangan nya ,itu Dewi lakukan pada saat masih menjadi Istrinya di bantu dengan selingkuhannya yang sedang berada di hadapannya ini.
" Anda urus saja dia !!." Fahri langsung beranjak dari duduknya .
" Kau sungguh tidak punya perasaan ." lelaki itu berbicara dengn sedikit meninggi.
Langkah Fahri terhenti , ia membalikkan lagi tubuh nya , kembali menghampiri lelaki itu .
" Anda bilang saya tidak punya perasaan ." Dengan penuh emosi Fahri menarik kerah baju lelaki itu hingga lelaki itu berdiri dan kursi yang di dudukinya terjungkal ke belakang . Dan itu menarik perhatian orang-orang yang ada di situ .
" Siapa yang tidak punya perasaan di sini hahh !! ." Teriak Fahri .
" Apa kau masih mencintainya ? ." lelaki itu bertanya pada Fahri , dengan posisi yang belum berubah . Fahri terdiam tanpa menjawab nya .
" Bruukkk ." Fahri memukul lelaki itu hingga tersungkur ke lantai .
" Tolong jangan berkelahi di sini tuan ." Ada dua satpam yang mencoba memisahkan mereka .
" Saya tidak perduli dengan apa yang terjadi pada Dewi , dan jangan pernah lagi menampakkan wajah anda di hadapan saya , terutama Anisa ." Ucap Fahri sambil berlalu pergi,tanpa menghiraukan tatapan mata dari orang-orang di sekitar .
***
Fahri kembali ke dalam Apartemen nya , ia duduk di sofa menyandarkan kepalanya .Fahri seperti sedang berfikir namun entah apa yang dia pikirkan .
Wina menghampiri Fahri dari arah dapur. " Nak , apa benar yang di katakan Anisa ,kalau Dewi kecelakaan ? ."
" Iya ." Jawab Fahri singkat .
" Apa kau tidak menjenguknya ?." tanya Wina .
" Entah lah ."
" Nak , jenguk lah ,maafkan semua salah nya ." Wina mencoba menasihati.
__ADS_1
" Mah , apa yang fahri lakukan itu salah ? ."
" Yang mana ? , Yang menceraikannya atau...." Ucapan Wina terhenti ketika Anisa langsung ikut berbicara setelah menuruni tangga.
" Kembali lah Ka, jika Kaka masih mencintai Mba Dewi ."
Fahri sungguh terkejut dengan keberadaan Anisa , apalagi dengan yang dikatakannya .
" Sayang , bukan begitu maksudnya ." Fahri langsung bangun dan menuntun Anisa untuk duduk di sofa .
" Ka , tidak apa-apa jika Kaka ingin kembali pada Mba Dewi , aku ikhlas ." Anisa berkata dengan senyum yang di paksakan .
" Itu tidak akan terjadi sayang ." Fahri berkata sambil memegang kedua tangan istrinya .
" Ka , mungkin aku lah penyebab Kaka dan Mba Dewi berpisah ."
" Tidak sayang ."
" Sekarang Mba Dewi sedang membutuhkanmu Ka , temuilah Mba Dewi Ka ." Anisa melepaskan tangan nya yang di genggam Fahri dan beranjak berdiri .
" Duduk ." Fahri berkata tegas .
" Nak ." Dengan suara lembut Wina menyadarkan Fahri untuk tidak emosi.
Anisa yang mendengar suara keras dari Fahri pun terduduk lemas . Mukanya pucat mungkin karena hormon kehamilannya perasaannya jadi sangat sensitif . Mendengar suara tegas dari Fahri pun sudah bisa membuat Anisa ketakutan .
" Nak , minumlah ." Wina memberikan Anisa minum ,ia menyadari perubahan wajah Anisa .
Anisa menerima dan meminumnya .Ia masih enggan berbicara .
Dan Fahri pun masih terdiam memandangi wajah Anisa . Ia menyadari perubahan istrinya pun menjadi menyesal.
" Sayang , maafkan saya ." Fahri menarik Anisa dalam pelukannya .
Anisa hanya diam saja . Lalu melepaskan pelukan suaminya.
" Mah , aku ke atas dulu yah ." Anisa pamit pada mertuanya .Anisa berjalan menuju kamarnya .
Dan Fahri pun langsung mengikutinya .
Anisa melepas hijabnya dan berbaring di ranjang membelakangi suaminya, Sebenarnya dia tidak marah dengan suaminya . Hanya saja ia menjadi merasa bersalah .
" Sayang , permasalahan saya dengan Dewi sudah lebih dulu ada sebelum kamu, dulu saya selalu memberinya kesempatan ,namun dia terus saja mengulanginya .Maaf kalau tadi saya berkata keras terhadap mu , lelaki yang datang itu adalah selingkuhan nya Dewi ." Ucap Fahri lembut sambil memeluk istrinya dari belakang dan mengelus perut Anisa . Elusan yang membuat Anisa merasa nyaman .
" Sayang , jangan marah yah ." Fahri menunggu jawaban dari istrinya yang sedari tadi hanya diam saja. Fahri pun tersenyum karena Ia mendengar nafas teratur istrinya.
-
__ADS_1
-
Mohon maaf jika hanya 1 episode hari ini, di karenakan Author nya lagi sok sibuk ngurusin si kecil yang mau PTS. Trimakasih untuk like,vote juga comenya 😍😍😘.