Madu Yang Tak Semanis Madu

Madu Yang Tak Semanis Madu
Episode 42


__ADS_3

Hari-hari Anisa dan Fahri kini sangat bahagia , kini mereka jadi lebih terbuka .


" Huff , , huff , , huff , satu lagi , aah akhirnya sampai juga ."


" Sayang , bukan kah sudah ku bilang jangan naik turun tangga Seperti ini ." Ujar Fahri yang baru saja pulang kerja dan mendapati Anisa yang menaiki tangga dan terlihat kelelahan . Walau pun usia kandungan Anisa baru memasuki usia 6 bulan ,namun perkembangan nya begitu pesat . Pipi Anisa terlihat caby menggemaskan menurut Fahri .


" Aku baru kali ini Ka menuruni tangga , kangen dapur ." Anisa tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya . Itu salah satu trik agar Anisa tidak kena marah dengan suaminya , semakin kesini suaminya menjadi sangat overprotektif terhadapnya. Dan benar saja Fahri jadi ikut tersenyum dan melupakan kejadian yang membuatnya kesal barusan.


Mereka pun masuk ke dalam kamar .


" Sayang , kamu istirahat dulu yah , aku akan membersihkan diri dulu ." Fahri langsung berjalan menuju kamar mandi.


Yah sekarang ,Fahri menyebut dirinya dengan aku jika berbicara dengan istrinya , tentu saja itu kemauan istrinya karena dia bilang kalau suaminya akan terlihat lebih gaul jika menyebut dirinya aku. Dan mau tidak mau Fahri menurutinya.


Setelah Fahri selesai membersihkan diri , mereka berbincang santai di atas ranjangnya dan saling berhadapan . Fahri mengelus-elus perut istrinya .


" Dede sehat-sehat yah , sampai saatnya kita ketemu di dunia , ayah dan bunda sudah tidak sabar untuk melihat mu , jadi anak yang baik yah de, jika ayah sudah tidak bisa menjaga bunda lagi kamulah kelak yang akan menjaga bunda ." Fahri mengajak anaknya berbicara.


" Ka , kok ngomong gitu sih , kita akan bersama terus Ka , membesarkan anak-anak kita ."


" Iya sayang ." Fahri memeluk istrinya sambil mengelus punggungnya.


" Ka , aku kangen sekali dengan ibu dan bapak di kampung ."


" Sayang , tidak baik kalau kamu pulang ke kampung dengan keadaan hamil besar ." Ia tidak mungkin mengizinkan istri nya itu pulang ke kampungnya dalam keadaan hamil besar apalagi Anisa sudah mudah sekali lelah .


Anisa hanya diam saja , dan Fahri melihat perubahan wajah istrinya yang berubah sendu .


" Sayang , bagaimana jika ibu dan bapak saja yang ke sini ? ,biar nanti di jemput oleh supir ." Fahri mencoba mencari solusi.


Anisa masih diam saja ,wajahnya datar tanpa ekspresi .


" Sayang , ada apa ? ."


" Aku kangen suasana kampung Ka , kangen sawah ,kangen lihat padi yang menguning , udara kampung yang sejuk dan pemandangan yang indah " Anisa berbicara dengan nada memelas .


Jika sudah begini, Fahri bisa apa , tidak ada pilihan lain selain menurutinya.


" Minggu depan saja yah , aku akan cuti dan mengantarkan mu ke sana ." Ucap Fahri pasrah.


"Trimakasih Ka ." Dengan senyum yang mengembang dan wajah berbinar.


" Hanya itu ? ." Tanya Fahri dengan senyum smirk nya .


" Muach "


" Satu lagi "


" Muach "

__ADS_1


" Satu lagi "


" Muach "


" Satu lagi "


" Aaww,, sakit sayang kenapa di gigit ." Fahri mengusap pipinya yang di gigit oleh istri nya .


" Habis Kaka nyebelin sih ."


" Hahaha, Baiklah sayang , mari kita tidur ."


Semenjak istrinya itu hamil besar Fahri tidur dengan posisi berhadapan dengan Perut Anisa seolah ia tidur dengan anaknya ,dan Anisa memiringkan tubuh nya .


Pagi pun menjelang mereka sholat berjamaah , dan sarapan bersama .


" Mbok , apa sudah boleh kalau kita membeli perlengkapan bayi sekarang ." Tanya Anisa pada Mbok Minah setelah selesai sarapan .


" Jangan dulu Neng , nanti saja kalau sudah lewat dari tujuh bulan ." Jawab Mbok Minah .


Fahri hanya tersenyum saja , ia tahu kalau istrinya ini sudah tidak sabaran ingin membeli perlengkapan bayi mereka .


" Sayang , apa kamu tidak mau tahu jenis kelamin anak kita ." Tanya Fahri karena setiap di usg Anisa selalu melarang dokter untuk memberitahu kan jenis kelamin anaknya .


" Aku ingin itu jadi kejutan buat kita Ka ." Jawab Anisa dengan senyum manisnya.


Fahri hanya manggut-manggut saja sambil tersenyum kecil.


***


Fahri di sibukkan dengan kerjaan nya yang bertumpuk , ia juga harus menyelesaikan nya sebelum ia ikut ke kampung mengantarkan istrinya. Sebenarnya dia khawatir dengan ke inginan istrinya itu , namun ia juga tidak ingin melihat Anisa terus bersedih karena rindu dengan orang tua nya .


Tokk


Tokk


Tokk


Suara ketukan pintu ruangan Fahri .


"Masuk ."


Sekertaris Fahri masuk ke dalam ,


" Ada apa ? ." Fahri menatapnya datar .


" Anu pak , ada. . . " Sekertaris itu terlihat gugup , ia takut kalau atasanya ini marah , karena atasanya ini sudah mem-blacklist satu nama untuk jangan lagi datang ke perusahaanya.


" Ada siapa ." Tanya Fahri tegas .

__ADS_1


" Sayang apa kamu melupakan aku ? ." Tiba-tiba saja Dewi menerobos masuk, ia datang dengan pakaian sexinya ,dan makeup yang glamor .


" Bukan kah sudah saya bilang ,jangan beri masuk wanita ini ." Bentak Fahri pada Sekertaris nya .


" Ma aaf Pak , saya sudah berusaha mencegah nya , tapi Nyonya ini tetap . . ." Sekertaris itu berhenti berbicara ,ketika Dewi memotong kata-kata nya.


" Sudah lah sayang , aku tuh kangen banget sama kamu , mengapa kamu tidak pernah menjenguk ku di Rumah Sakit ? ." Ucap Dewi dengan suara memelas sambil mendekati Fahri .


" Diam di situ Dewi , kita sudah tidak ada hubungannya apa-apa lagi ." Fahri memberi kode pada Dewi agar diam di tempatnya .


" Kamu ,diam di sini saja , menjadi saksi andai perempuan gila ini berbuat aneh-aneh terhadap saya ." Fahri berbicara pada Sekertaris nya yang hendak keluar dari ruanganya .


" Baik Pak ." Sekertaris nya itu berdiri di tempat semula .


" Sayang mengapa kamu begitu membenci ku .". Tanya Dewi dengan raut muka sedih ."


" Mengapa kamu masih bertanya penyebab nya , apa kamu amnesia ? ."


" Sayang , bisa kah kita kembali seperti dulu lagi ." Dewi mendekati Fahri ,ia hendak memeluk Fahri namun Fahri menahannya .


" Cepat panggil security ." Fahri memerintahkan Sekertaris nya.


Tak berselang lama , Security pun datang dan langsung membawa Dewi keluar .


" Awas kau Mas , aku akan buat kamu menyesal karena telah memperlakukan ku seperti ini , dan akan aku buat kamu menderita ." Ucap Dewi sambil berteriak-teriak menuju keluar di tarik oleh dua Security.


***


" Apa kamu habis bertemu dengan Fahri ? ."


"Itu bukan urusan mu ." Jawab Dewi dengan ketus .


" Kenapa kamu begitu keras kepala , sudah bagus Fahri tidak mempermasalahkan kelakuan kita dulu , mengapa kamu senang sekali mencari masalah ." Roy sungguh tak habis pikir dengan sifat Dewi yang sekarang menjadi semakin buruk .


" Aku tidak terima mereka hidup bahagia, sedangkan aku ..."


" Kamu yang memilih jalanmu sendiri untuk tidak bahagia , kamu bahkan membatalkan pernikahan kita ." Roy sungguh sakit hatinya ketika Dewi yang sudah berjanji akan menikah dengan nya kini justru menolaknya . Sebagai laki-laki ia merasa di rendahkan oleh Dewi.


" Roy ." Panggil Dewi dengan sendu.


" Jika keinginan mu seperti itu , mulai sekarang uruslah dirimu sendiri , dan jangan libatkan aku lagi , aku tidak ingin membantu mu ." Ucap Roy sambil berlalu pergi meninggalkan Dewi sendirian .


" Tidak Roy, jangan pergi , aku mohon Roy ." Dewi mencoba menarik tangan Roy ,namun Roy mengibaskan nya tak memperdulikan Dewi lagi.


" Semuanya meninggalkan ku ." Dewi menangis seorang diri.


-


-

__ADS_1


Trimakasih yang sudah like, vote ,dan juga comen 😍😍😍.


__ADS_2