Maduku Mantan Terindah Suamiku

Maduku Mantan Terindah Suamiku
Bab 10


__ADS_3

Argh sungguh sial aku, niat hati pergi ke rumah Dina untuk menenangkan diri. Tapi malah mendapat kan omelan dari nya, ia marah besar akibat aku lupa membawa bukti pembayaran rumah.


Sepulang nya dari rumah RT, aku dan Dina melanjutkannya kembali aktifitas ku yang tertunda. Namun, ternyata aku salah. Dima menanyakan bukti pembayaran yang aku simpan entah dimana.


"Pokoknya kamu harus cari itu mas."


"Tapi aku harus cari kemana sayang? Aku berani sumpah, kalau aku benar-benar sudah menyimpan nya dengan baik."


"Aku tidak peduli itu, bagaimana jika si Ita itu mengetahui semua ini?"


"Ya bagus dong, mas akan cerai kan dia dan kamu menjadi satu-satunya di hidup mas."


"Aku tidak mau membiayai kehidupan mu dan keluarga mu ya mas, seperti yang di lakukan oleh Ita."


"Tenang sayang, gaji ku cukup untuk membiayai kehidupan kalian semua. Jangan kan keluarga ku dan kamu, malah jika aku menikah lagi pun aku masih sanggup sayang."


"Berani kamu menikah lagi mas, kita cerai."


"Tidak sayang, sudah jangan lah marah terus. Apa kamu tidak kasihan dengan mas? Lihat lah si otong sudah berdiri tegak di bawah sana."


"Aku tidak peduli itu."


"Lalu mas harus bagaimana? Mas janji, apa pun yang kamu minta mas akan turuti."


"Beneran mas?"


"Iya sayang, apa sih yang tidak untuk mu."

__ADS_1


"Baik lah, aku ingin motor baru mas."


"Loh, mobil mu dan motor mu kan ada sayang."


"Itu semua milik ku, mas. Aku minta kamu membeli kan nya agar aku bisa membanggakan kamu di depan orang-orang."


"Baik lah, besok kita beli motor. Tapi sekarang, berilah dulu mas mu ini jatah."


"Tidak, besok saja setelah motor ada. Sekarang mas tidur di kamar tamu saja."


"Tapi sayang ..."


Jederrr


Dina membanting pintu kamar kami, mau tidak mau aku harus tidur di kamar tamu malam ini.


Jika aku pulang ke rumah Ita, mungkin ia sudah tidur. Karena tadi aku bilang pada nya jika pintu di kunci saja, atau jangan-jangan ia masih menulis novel?


["Dek, apa kamu sudah tidur?"] Send.


Pesan nya masih berwarna abu-abu, mungkin ia sudah tidur. Aku tak kehabisan akal, ku kirim pesan pada anakku Tiara. Mungkin ia belum tidur sekarang.


["Sayang, apa kamu dan ibu sudah tidur?"] Send.


Pesan ku langsung berubah menjadi warna biru, ternyata putri ku belum tidur. Sedang apa ia malam-malam begini? Apa Ita tidak menegur nya tidur terlalu larut.?


Ting!

__ADS_1


["Aku tidak tahu, ayah. Karena aku sedang menginap kembali di rumah nenek."]


["Wah, sejak kapan kamu di sana sayang? Apa ibu tidak melarang mu?"] Send.


Ting!


["Tidak ayah, kata ibu aku boleh tidur di rumah nenek. Kenapa ayah menanyakan ibu sudah tidur? Apa ayah tidak di rumah?"]


Mampus, aku lupa jika sekarang anakku sudah tumbuh besar.


["Ayah sedang lembur di kantor sayang, tadi nya ayah akan pulang ke rumah jika ibu mu masih melek."] Send.


Ting!


["Lembur? Lembur apa ayah? apa ayah sedang berbohong? Apa ayah lupa jika papah dari teman ku itu atasan ayah. Ayah jika ayah melukai ibu sekali lagi, aku akan adukan pada papah teman ku."]


Deg


Aku kaget membaca balasan dari putri ku itu, sekarang ia sudah bisa mengancam ku. Lagian kenapa aku bisa lupa sih kalau aku bekerja di perusahaan milik papah dari teman anakku itu.


Bisa runyam jika anakku membongkar semuanya.


["Ya sudah sayang, kamu tidur lah ini sudah malam. Ayah menginap di rumah teman saja. Dah sayang."] Send.


Ting!


["Teman wanita maksud ayah?"]

__ADS_1


Deg


Lagi-lagi aku di buat kaget dengan balasan nya, kenapa ia bisa berpikir seperti itu? Apa ia pernah melihat ku jalan dengan Dina? Tapi Diaman? Karena aku dan Dina jika sedang jalan-jalan selalu sembunyi-sembunyi.


__ADS_2