Maduku Mantan Terindah Suamiku

Maduku Mantan Terindah Suamiku
Bab 34


__ADS_3

Satu Minggu sudah aku berada di kota Surabaya dan hari ini aku akan pulang ke kota ku, aku akan pulang ke rumah Bella lebih dulu karena aku merasa rindu dengan anak yang ada di dalam perut Bella.


Dina belum ku beritahu bahwa aku akan pulang hari ini, biar lah besok ia aku beri kejutan pulang.


Memang benar di kota Surabaya hampir setiap gadis yang ku temui bekerja sambilan sebagai wanita malam. Dan bahkan ada yang masih kuliah mereka bilang bahwa mereka melakukan itu semua karena terpaksa keluarnya nya tidak bisa membiayai mereka kuliah lagi.


Anton bahkan membawa salah satu dari mereka ke kota kami menurut nya ia akan jadikan sebagai teman jika di apartemen nya nanti, memang ia bukan tipikal seperti ku yang selalu jajan ke sana kemari.


"Lo yakin mau bawa tuh anak, nton?" Tanya ku meyakinkan.


"Iya lah, emang nya kenapa? Lumayan lah bro gratisan hanya kasih makan dan tempat tinggal aja."


"Gila lo, enggak kasihan apa?"


"Lebih kasihan lagi kalau dia bekerja seperti itu, apa lagi kota ini rawan begal. Apa Lo enggak inget pas kemarin kita pulang dari club' tuh? Kita hampir saja mati woi gara-gara begal sialan itu. Untung aja ada warga sekitar yang lihat kalau enggak mampus kita mana aku belum ngerasain nikah."


"Tapi lo sering kawin sama cewek."


"Itu beda lagi bro. Ngomong-ngomong lo mau balik ke rumah siapa ni? Secara bini lo ada dua."


"Balik ke rumah Bella, soalnya gue udah kangen sama bayi yang ada di dalam kandungan nya itu!"


"Bella udah hamil?"


"Iya."


"Mantap bro, tokcer! ha ha ha."


"Ha ha ha, eh si bos kemana?"


"Biasa lah, dia lagi ngajak istri siri nya jalan-jalan dulu. Itu lah makanya dia nyuruh kita pulang duluan pake mobil kantor sedang kan dia nanti di jemput sama supir nya."


"Gila kan jauh."


"Supir dia dimana-mana ege."


"Oh ya udah ayok kita pulang, gue udah kangen sama kedua bini gue."


"Iya ayok."


Kami pulang bersama menggunakan mobil kantor, singkat cerita kami sudah sampai di kantor dan aku langsung mengambil mobil Bella di sana yang kemarin sudah lebih dulu di bawa oleh pak Herman karena istri nya mau melahir kan.


"Gue duluan ya."


"Oke siap."


Aku tidak menghubungi satu pun istri ku, aku sengaja ingin melihat bagaimana mereka jika aku tinggal kan dalam jangka waktu yang lama.


Sedari tadi Bella terus mengirimkan pesan pada ku, ia menanyai ku banyak hal salah satu nya kapan aku pulang. Sedang kan Dina tidak mengirimkan pesan pada ku sama sekali.


Setelah beberapa saat kemudian akhirnya aku sampai di depan rumah ku dan Bella terlihat dari kejauhan ia sedang duduk manis di saung depan rumah bersama bi inem.


Tin ... Tin ...


"Mas Dani ..." Teriak nya girang.


"Stop! Jangan mendekat, nanti kamu terpeleset atau apa. Sudah biar aku saja yang ke sana!"


Sebelum terjadi sesuatu pada Bella, aku lebih dulu menyuruh nya untuk diam di tempat semula. Aku takut jika ia kenapa-napa karena anak itu anak yang selama ini aku tunggu saat dengan Dina.


Jika dengan Ita aku sudah memiliki Tiara yang mungkin saat ini ia sudah memiliki pacar, dulu aku pernah meminta anak adik untuk Tiara pada Ita. Namun, ita menjawab jika ia belum mau memiliki anak lagi karena kesibukan nya menulis dan berjualan online.


Aku tidak tahu ia berjualan apa yang jelas ia pernah bilang kalau ia jualan makanan dan baju-baju gitu.


"Mas apa kabar? Kenapa tidak menghubungi ku dulu?" Sambut Bella seraya mencium tangan ku.


"Mas baik-baik saja sayang, sengaja karena mas ingin memberikan kejutan untuk mu."


"Tapi hari ini kami tidak memasak apapun."


"Tidak masalah, kita bisa pesan online bukan? Atau mungkin kamu mau makan di restoran?"


"Wah ide bagus itu mas, kebetulan aku sedang ingin makan di restoran Citra Lestari. Itu restoran baru di dekat sini mas."


"Ya sudah, mas masuk dulu ya. Mandi dulu setelah itu kita pergi."


"Tapi kamu baru saja tiba mas, apa kamu tidak cape? Atau aku saja yang membawa mobil nya."


"Tidak sayang, kamu bersiap lah. Bibi juga bersiap lah kita akan makan di luar hari ini."


"Mas Dani saja dengan neng Bella. Bibi di rumah aja!" Tolak nya.


"Ayok bi, kita sudah satu Minggu lebih tidak keluar rumah pasti bibi bosan. Lagian di rumah juga sudah tidak ada persediaan makanan nanti kita sekalian belanja bulanan."

__ADS_1


"Baik lah kalau begitu neng."


Kami semua bersiap menuju restosan itu, namun sebelum pergi aku meminta amunisi terlebih dahulu pada Bella. Hanya sekedar untuk mengisi tenaga setelah lama tidak berjumpa.


"Pelan-pelan ya mas, ingat sekarang ada nyawa di dalam sana yang masih rawan."


"Iya sayang pasti."


Aku melakukan nya dengan sangat perlahan sesuai keinginan Bella. Aku pun takut jika akan terjadi apa-apa pada anakku. Kali ini aku dan dia tidak bermain lama hanya dua puluh menit karena perut ku sudah keroncong sejak tadi.


Setelah selesai dan Bella sudah berdandan dengan sangat cantik, kami berangkat ke tempat tujuan yang hanya berjarak lima belas menit saja dari komplek.


Ternyata restoran ini sangat ramai pengunjung, Bella memilih tempat duduk di dekat kolam ikan yang asri dan sejuk.


Setelah memesan kami berbicara banyak hal, Bella bercerita jika ia sangat bosan berada di dalam rumah terus meskipun ia bosan tetapi ia merasa mager untuk keluar rumah.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya pesanan kami tiba, masakan nya sangat enak dan aku seperti pernah mencicipi menu yang terhidang di depan ku saat ini.


Dari kejauhan pula aku seperti melihat Ita dan anakku Tiara.


"Sayang, lihat ke arah sana!" Ucapku pada Bella.


"Ya mas?"


"Itu anak dan mantan istri mas, boleh mas menyapa mereka? Mas rindu dengan Tiara."


"Kenapa tidak? Pergi lah."


Aku langsung bangkit dari tempat duduk ku dan menghampiri mereka berdua, begitu lah sikap Bella ia selalu berbaik hati dengan orang lain bahkan dengan mantan istri ku juga. Berbeda dengan Dina jika ia tahu pasti ia akan melarang ku dan berakhir dengan pertengkaran.


"Hai anak ayah!"


"Ayah." Ucap Tiara yang langsung menoleh ke arah ku.


"Kamu sedang apa di sini nak?"


"Sedang ikut ibu melihat restoran nya yang baru buka."


Deg


Restosan? Apa jangan-jangan ini milik Ita? Kenapa ia setelah cerai dengan ku semakin sukses saja? Apa ia sudah menikah lagi atau belum? Jika belum apa ia mau kembali lagi padaku?


"Restoran?"


"Iya, ini restoran milik ibu. Ayah sendiri lagi apa di sini? Apa ayah juga ikut makan di sini? Dengan siapa?" Cecar anakku.


"Apa Tante Dina?"


"Bukan sayang, ayah dan Tante Dina tidak menikah."


"Lalu?"


"Ayok ikut ayah saja, daripada di sini bosen nunggu ibu."


"Baik lah."


Aku berjalan menuju meja kami, di sana Bella sudah memasang senyum manis nya pada Tiara begitu juga dengan Tiara.


"Dek, kenal kan ini anak mas. Namanya Tiara. Tiara kenal kan ini mama tiri mu namanya Bella."


"Tiara Tante."


"Bella, sini sayang duduk dengan tante."


"Sayang, panggil Bella dengan sebutan mama atau ibu atau mungkin bunda."


"Tidak masalah mas, ini kan baru pertama kali bertemu."


"Baiklah."


Kami makan bersama seperti keluarga yang utuh, dan tiba-tiba Ita menghampiri kami di meja makan.


"Di sini kamu rupa nya nak. Ibu mencari mu kemana-mana" ucap nya khawatir.


"Ibu, ini ada Tante Bella istri nya ayah." Ucap anakku.


"Hai mbak, aku Bella." Sapa Bella sambil mengulurkan tangan.


"Oh hai, Ita. Apa masakannya enak?"


"Salam kenal mbak, masakkan nya sangat enak sekali. Aku sedang mengidam sejak pertama restoran ini buka tapi baru kesampaian sekarang karena mas Dani kemarin keluar kota untuk bekerja" jelas nya.


"Oh ya, berapa bulan?"

__ADS_1


"Masih muda mbak."


"Semoga anak dan ibu nya sehat ya, makan lah sepuas nya." Sambung Ita sambil mengelus perut milik Bella.


Aku terus memperhatikan kedua wanita yang ku cintai itu, melihat Ita dan Bella cepat akrab rasanya hati ini sangat adem.


Berbeda dengan saat melihat Ita dan Dina, mereka terus saja bersiteru. Lebih tepat nya Dina yang selalu emosian pada Ita.


Lagi-lagi aku membandingkan Bella dan Dina. Yang sudah jelas-jelas mereka sangat berbeda jauh.


"Saya pamit dulu ya, karena harus mengurus yang lainnya juga. Tiara kamu mau pulang sekarang apa nanti?" Tanya nya pada Tiara.


"Nanti saja bu, aku masih rindu dengan ayah. Boleh ya aku ikut ayah hari ini?"


"Hmm ..."


"Aku sangat rindu dengan ayah, Bu."


"Baik lah, mas titip Tiara ya!"


"Oke siap."


Iya meninggalkan kami semua yang masih makan masakan yang terhidang, benar saja. Tiara dan Bella sudah akrab dalam hitungan menit.


Bella sangat pandai mengambil hati anakku itu, yang pasti nya masih tersimpan rasa kecewa akibat ulah ku pada ibu nya.


Setelah selesai makan, kami berangkat menuju mall terbesar di kota ini. Rasa lelah dan kantuk semua sirna saat bersama anakku.


"Oh ya, bunda tahu tidak sama Tante Dina?" Tanya Tiara.


"Tahu, kenapa dia sayang?"


"Tante Dina itu orang nya jahat bunda."


"Jahat kenapa?"


"Ia mengambil ayah dari ibu ku."


"Benar kah? Apa bunda juga orang jahat? Karena bunda menikah dengan ayah mu bahkan bunda sekarang sedang mengandung adik untuk mu," tanya nya lesu.


"Tidak bunda, bunda menikah dengan ayah di saat ayah sudah bercerai kalau tente Dina itu mengambil ayah saat ayah sedang dengan ibu. Semoga calon adikku sehat terus ya bunda!"


"Terimakasih sayang. Dan terimakasih juga sudah memanggil ku dengan sebutan bunda."


"Sama-sama bunda. Aku tidak mau mengakui Tante Dina sebagai ibuku karena aku membenci nya."


"Shutt tidak boleh begitu ah! Kamu mau enggak tidur sama Tante di rumah? Tante ada banyak baju-baju yang mungkin muat di kamu"


"Nanti aku akan bertanya dulu pada ibu. Aku telfon ibu dulu ya bunda."


Tiada benar-benar menelfon Ita, ia terus meyakin kan jika ia akan aman bersama ku dan Bella di rumah.


Hingga akhirnya ia memberikan hp nya pada ku.


"Ayah, ini ibu mau bicara dengan ayah."


Aku menerima hp itu dan mulai mengobrol dengan Ita.


"Ya Ita?"


"Mas, apa kamu akan menjamin jika anakku aman dengan mu di sana?"


"Tenang saja Ita, dia bukan bersama orang lain. Ia dengan ayah nya di sini."


"Hmm aku hanya takut saja mas."


"Kamu tenang saja."


"Baiklah, mana dia? Aku mau bicara lagi dengan nya."


Aku mengembalikan hp itu pada putri ku, ia kembali meyakin kan sang ibu untuk menginap di rumah kami. Hingga ...


"Baik ibu, terimakasih."


"Bagaimana?" Tanya Bella penasaran.


"Ibu mengizinkan nya."


"Alhamdulillah, ya sudah mas. Kita langsung ke mall saja untuk membeli beberapa cemilan untuk Tiara nanti di rumah."


"Iya sayang."


Sungguh aku sangat bahagia dengan semua ini, pernikahan ku dengan Bella membawa kebaikan antara aku dan anakku itu.

__ADS_1


"Ayah, apa ayah dulu mencintai Tante Dina daripada ibu?" Tanya Tiara tiba-tiba.


"Hah?"


__ADS_2