
Keesokan harinya aku pulang ke rumah dan mendapati istriku tengah bersantai di ruang tv, memang keadaan rumah sudah sangat bersih. Ia terbiasa bangun pagi dan mengerjakan semuanya sejak pagi buta.
Namun saat aku meminta nya untuk memasakkan air untuk mandi, ia berasalan jika gas di rumah kami habis. Aku tidak habis pikir kenapa ia bisa sesantai itu saat gas di rumah habis? Saat aku menyuruh nya untuk membeli gas baru, ia juga berasalan tidak punya uang. Padahal aku tahu betul jika gaji nya dari hasil menulis itu jauh lebih besar dari gaji ku selama ini.
Bahkan ia bisa membeli motor dan mobil baru dalam jangka waktu berdekatan, meskipun semua aset itu ats nama nya. Tapi selama ini ia tidak pernah protes dengan apa yang ku lakukan.
Yang ia pikirkan hanyalah aku setia dengan dia selama ini, kejadian tadi malam dengan Dina cukup membuat ku lelah. Bahkan tubuh ku rasanya mau remuk, tetapi untung nya Dina mau memberikan ku jatah terlebih dahulu saat di pagi hari.
Flashback
"Sayang, mas hari ini mau pulang ke rumah Ita." ucap ku.
"Oh ya sudah pulang sana."
"Ya."
Aku berbalik badan, Dina memanggil ku kembali.
"Mas tunggu."
"Ya sayang?"
"Apa mas tidak ingin melakukan nya di pagi hari?"
"Apa boleh? Mengingat tadi malam kamu seperti sangat marah pada mas."
"Tentu, kemari lah sebelum aku berubah pikiran."
Dengan semangat aku menghampiri Dina yang sudah bersiap di dalam kamar.
Setelah hampir setengah jam kemudian, kamu menyudahi aktivitas kami. Aku di suruh pulang cepat tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Entah apa maksud dari Dina tapi aku hanya bisa menurut saja, karena aku takut jika ia akan marah kembali padaku.
"Jangan lupa cari kwitansi nya sebelum istri mu menemuka itu semua."
"Iya sayang, mas pulang dulu ya. Dahhh ..."
Flashback off
Setelah selesai mandi, aku melihat perubahan istri ku sangat jelas. Ia terlihat masam entah kenapa.
__ADS_1
"Dek, suami di rumah itu jangan di masamin lah."
"Kenapa mas pulang? Apa wanita itu tidak memberikan apa yang mas inginkan?"
Deg
Aku kaget saat Ita berkata seperti itu, "Wanita siapa yang ia maksud? apa Dina? tapi ia tidak pernah tahu mengenai Dina." Ucap ku dalam hati.
"Kenapa diam mas? Apa benar kata ku barusan?"
"Apa sih dek? Wanita siapa yang kamu maksud itu?"
"Aku sudah tahu semua nya mas."
"Alah kamu itu tahu apa sih?"
"Kalau mas selingkuh dengan wanita lain, maka cerai kan aku sekarang juga."
"Apa sih kamu itu? Kamu mau belanja? Atau ke salon? Ini mas kasih uang nya buat kamu pergi, ajak Tiara juga atau perlu kita pergi bersama.?"
Bagaimana bisa aku menceraikan Ita? Karena selama ini uang selalu menambah uang belanja adalah dia, karena aku selalu memberikan nya sedikit.
"Aku mau pergi sendiri pake mobil ku, mana kunci nya?"
"A-apa? Kenapa tidak pakai pakai motor saja dek?"
"Terserah ku dong mas. Itu kan beli pake uang ku."
"Oke-oke jangan mengungkit itu, kunci nya di atas nakas dan STNK nya ada d dalam dompet mas. Mas transfer ya uang nya?"
"Ya." Ucap nya sambil berlalu masuk ke dalam kamar.
"Dek sudah mas transfer."
"Oke aku pergi dulu. Oh ya aku juga mengajak Tiara, jangan tunggu aku pulang."
"Memang nya kamu mau kemana?"
"Suka-suka aku dong mas."
__ADS_1
"Oke-oke."
Ia mulai memasuki mobil dan bersiap untuk pergi, aku baru teringat motor! Kenapa dia tidak memberikan ku kunci motor nya?
Tok ... Tok ... Tok ...
Aku mengetuk kaca mobil nya. "Kunci motor sama STNK dimana?"
"Aku bawa, dah aku pergi dulu. Assalamualaikum."
"Ita ..." Triak ku. Namun, rasanya percuma karena ia tidak mungkin mendengar nya.
Aku masuk ke dalam rumah dengan langkah gontay, ku rebah kan bada ku di atas kasur namun mata ku menangkap hal aneh di kamar ini.
Lemari! Ya lemari Ita terbuka. Aku berjalan mendekati nya dan ternyata semua baju-baju milik nya sudah tidak ada. Bahkan sertifikat rumah juga tidak ada.
Aku berlari ke arah kamar anakku, ternyata di sana juga sudah tidak ada baju-baju anakku.
"Arghhhhh ... Sialan Ita. Apa ia berniat membawa kabur semuanya?"
Aku berlari menuju garasi untuk mengecek apakah motor masih ada. Dan ternyata motor pun sudah tidak ada di tempat nya. Aku tidak tahu dimana Ita menyimpan motor itu.
Di saat bersamaan tiba-tiba hp ku berdering.
Kringg ... Kringgg ... Kringgg ...
"Dina? Ada apa ia menelfon?"
"Hallo sayang?"
"Apa sudah ketemu mas?"
"Belum sayang, bahkan mobil dan motor serta sertifikat rumah juga tidak ada."
"Kenapa kamu bodoh sih Dani?"
"Jaga ucapanmu itu ya."
"Ya ya ya. Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
__ADS_1
"Aku akan ..."