
Hari ini aku memutuskan untuk pulang ke rumah Dina, sebelum aku pulang aku lebih dulu melihat cctv yang ada di setiap sudut rumah nya lebih dulu.
Terlihat Dina sedang melayani ketua RT itu, aku heran dimana adikku berada? Dan saat aku lihat ke arah kamar tamu rupa nya adek ku sedang tertidur pulas, jelas aku dapat melihat nya karena pintu kamar itu tidak di tutup oleh nya.
Dengan prasaan kesal dan emosi aku pulang ke rumah namun lebih dulu berpamitan pada Bella, aku tidak ingin ia mencari ku kemana-mana saat bangun nanti.
Setelah berpamitan aku melajukan mobil ku dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di rumah, dan setelah beberapa menit perjalanan aku sampai di rumah itu.
Masih terdengar suara ******* demi ******* yang tercipta karena permainan mereka berdua di dalam sana. Aku terus melangkah kan kaki ku masuk ke dalam rumah, tidak lupa aku menghidupkan camera dan menyimpan hp di saku baju ku agar seolah aku tidak sedang merekam kegiatan mereka.
"Ahh ... Ya ... Begitu mbak Dina. Mbak Dina sangat nikmat berbeda dengan istri saya yang sudah longgar baud nya."
"Suami mbak Dina kapan pulang? Apa ia masih lama?"
"Saya tidak tahu pak RT, saya tidak berkomunikasi selama seharian kemarin. Ah sudah lah saya tidak peduli lagian di rumah ini ada adik ipar saya yang bisa memuaskan saya!"
Aku terus mendengar kan mereka dari arah belakang, mereka melakukan itu semua di dapur dan posisi menghadap ke arah kompor jelas saja mereka tidak akan sadar dengan kehadiran ku di sini.
"Ahh ... Tidak masalah jika mas Dani tidak pulang pun, saya akan jauh lebih suka menikmati tubuh mbak Dina."
"Mbak, saya mau keluar ini keluar di dalam saja ya?"
"Terserah pak RT saja."
Mereka hampir menyelesaikan aktivitas nya, aku langsung mematikan kamera itu dan berlalu menuju arah mobil ku terparkir aku akan berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Aku ingin tahu sampai mana mereka melakukan hal keji seperti itu, aku memang bukan laki-laki yang baik tapi aku tidak sembarang masuk ke sana dan kemari. Meskipun tidak ku pungkiri waktu di Surabaya aku mencicipi Ria.
Saat aku sampai di luar aku bertemu dengan salah satu bapak-bapak yang ada di pos ronda dekat rumah ku, mereka melihat ku kembali keluar rumah dengan tergesa.
"Loh mas Dani kenapa keluar lagi bukan nya baru saja pulang ya?" Tanya nya.
"Iya ini saya mau beli mie instan sama telur kebetulan saya sangat lapar."
"Oh ya sudah."
"Mari pak!"
Aku benar-benar berjalan menuju warung dekat pos ronda, aku heran kenapa orang-orang di sini tidak tahu kelakuan bejad pak RT dan istri ku? Apa mereka juga mencicipi nya? Sungguh aku merasa jijik dengan Dina.
Awas saja akan aku buat pelajaran dia, akan aku buat dia menyerah dengan semua permainan ini.
Aku kembali ke dalam rumah dan melihat pak RT sudah tidak ada di dapur, aku yakin pak RT masuk lewat pintu belakang karena di depan rumah sedang ramai orang nongkrong.
"Ma-mas Dani!" Ucap Dina gugup.
"Hai sayang apa kabar?" Sapa ku.
"Aku baik-baik saja mas, aku rindu dengan mu!"
__ADS_1
"Aku juga rindu sama kamu sayang, sayang aku sedang kepingin nih. Ayok kita lakukan nya di sini saja."
"Di-disin?"
"Ya. Karena aku sudah tidak tahan lagi."
"Ta-tapi ..."
Aku langsung membalikkan badan nya mengarah ke arah kompor, aku membuat nya b3r g41 r4h saat ia sudah berada di puncak nya. aku meninggal kan nya di dapur begitu saja.
Sungguh aku tidak sudi menyentuh nya lagi, aku masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan panggilan nya itu. Aku tidak menyesal pulang ke dalam rumah karena aku bisa melihat nya secara langsung di depan mata ku ini.
Setelah aku selesai mandi, ternyata dengan percaya diri nya dia masih saja menggoda ku dengan kemolekan tubuh nya itu.
"Mas, kenapa kamu tidak tergoda lagi dengan ku?" Tanya nya.
"Aku hanya sedang letih saja, lebih baik kita tidur saja dulu."
"Tapi mas ..."
Aku tidur membelakangi nya dan menyimpan hp ku di atas nakas, sebelum nya sudah aku kunci ganda agar Dina tidak dapat membuka nya sesuka hati lagi.
Bukan hanya tentang bukti-bukti saja yang ada di dalam sana, tetapu foto-foto ku dengan Bella pun ada di dalam galeri itu.
Aku tidak takut ketahuan karena aku yang memilih ini semua, terdengar Dina mengomel melihat ku tidur duluan malam ini.
keesokan harinya ...
Aku pasti kan tidak akan menyesal karena memilih bercerai dengan Dina. Lain hal nya saat berpisah dengan Ita, meskipun di luaran aku terlihat bahagia dan biasa saja. Tetapi jauh di dalam hati ini aku menyesal aku merutuki diri ku yang bodoh ini.
"Mas Dani, kenapa bikin kopi sendiri? Kan ada aku!"
"Aku hanya tidak ingin mengganggu mu yang sedang repot itu," jawab ku cuek.
"Ya sudah, aku sudah masak makan yuk! Aku juga masak kepiting saus Padang kesukaan mu."
"Aku masih kenyang, apa adik ku sudah bangun?"
"Seperti nya sudah. Kenapa mas?"
"Aku akan menyuruh nya untuk pulang ke rumah ibu," ucap ku bangkit dari duduk ku.
"Kenapa?" Tanya Dina spontan.
"Kenapa? Memang nya kamu masih mau dia di sini? Kan sudah ada aku di rumah ini."
"Ee ... Maksud ku, kenapa sepagi ini? Mungkin saja ia masih tidur kan mas!"
Aku tidak memperdulikan nya dan langsung masuk ke dalam rumah, aku mengantongi semua baju-baju adikku dan saat aku memindahkan kantong kecil ke dalam tas milik nya tiba-tiba alat pencegah kehamilan berceceran dari dalam.
__ADS_1
"Mas!" Ucap nya melongo saat melihat ku memegang salah satu nya.
"Mas. Kenapa sih masuk tanpa izin? Dan membongkar barang orang tanpa izin juga? Enggak sopan tahu ih, bilangin ibu lohh nanti!"
"Kamu berkemas lah, hari ini kamu pulang lagi ke rumah ibu."
"Kenapa?"
"Kenapa kalian ini hah? Ada apa? Kenapa kalian kompak sekali menanyakan kenapa?" Tanya ku sedikit menekan.
"Ah tidak, sudah awas dulu mas nya. Aku mau di baju, apa mas juga mau lihat milik ku?"
"Lihat juga? Maksudnya?"
"Sudah lah mas, awas dulu minggir."
Aku berlalu keluar kamar dan melihat istri ku sedang duduk manis di depan meja makan, ku lirik sampai bawah kursi. Terlihat kaki nya sedikit bejarak satu sama lain.
"Sayang, maaf kan mas ya. Karena tadi mas cuek pada mu." Ucap ku.
"Tidak apa mas, ayok makan."
Dina mulai mengambil kan nasi dan lauk untuk ku, aku terus memperhatikan raut wajah nya yang terlihat sedikit sedih setelah mendengar bahwa adikku akan pulang hari ini.
"Sayang, kenapa kamu terlihat sedih?"
"Hah? Tidak ko, aku hanya lelah saja tadi masak banyak tapi kamu menyuruh adik mu untuk pulang. Lalu ini semua siapa yang menghabiskan?"
Pada akhirnya aku memanggil adik ku untuk makan bersama di meja makan. Kami makan dengan tanpa suara kecuali suara dentingan sendok dan piring yang beradu.
Adikku berpamitan pulang ke rumah ibu setelah sarapan, sedang kan aku dan Dina masih duduk di kursi meja makan.
"Sayang."
"Ya?"
"Kenapa kita belum di berikan keturunan ya? Apa jangan-jangan kamu mandul?"
"Apa? Sembarang kamu kalau bicara mas."
"Lalu apa?"
"Ya mungkin belum di kasih sama tuhan."
"Bagaimana mau di kasih kalau kamu nya aja makan obat pencegah kehamilan terus tiap hari," ucap ku sambil melempar beberapa obat pencegah kehamilan ke atas meja.
"Ka-kamu dapat ini dari mana mas? Itu bukan milikku ko."
"Sudah lah Dina, aku bahkan tahu semua nya tentang kamu."
__ADS_1
"Apa? Bagaimana bisa?"