
Aku dan ibu menelusuri jalanan yang entah akan membawa kami kemana, ku lirik ibu yang duduk di samping ku sudah terlelap begitu juga dengan Tiara yang duduk di kursi belakang.
Mereka tidur dengan sangat nyenyak, sudah dua jam lamanya aku mengendarai mobil ini. Aku masih bingung mau bawa kedua orang yang paling ku sayangi ini kemana.
Aku juga bingung harus apa lagi yang aku lakukan, setelah mutar-mutar tidak karuan akhirnya aku menemukan hotel di depan mata ku. Mungkin aku akan membawa mereka masuk ke dalam hotel itu dulu untuk beristirahat.
"Bu, Tiara. bangun kita akan istirahat di sini dulu ya."
"Kita dimana nak?"
"Aku juga tidak tahu ini daerah mana bu, tapi tidak masalah yang penting ini daerah ramai penduduk dan kita bisa menginap di sini dengan tenang."
"Kita akan nginap dimana bu?"
"Kita akan nginap di sana sayang. Ayok bantu ibu dan nenek mu keluar."
"Baik bu."
Ibu dan Tiara duduk di kursi yang tersedia di dalam hotel, sedangkan aku memesan kamar dengan ekrta kasur untuk kami pakai.
"Ini kunci nya bu, nanti akan ada petugas yang mengantarkan kasur ke dalam kamar ibu."
"Terimakasih mbak."
"Sama-sama bu, selamat beristirahat." Ucap nya ramah.
Aku memboyong mereka masuk ke dalam kamar, yang berukuran sedikit lebih besar di dalam nya ada dapur.
Ibu masih enggan untuk masuk, ia ingin aku memesan kamar yang biasa saja karena menurut nya ini terlalu mahal.
__ADS_1
"Nak, kenapa kamu membuang-buang uang seperti ini nak?"
"Tadi aku sudah pesan kamar biasa bu, tapi kata nya kamar biasa habis dan tersisa hanya ini saja." Ucap ku berbohong. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anak dan ibuku.
Setelah membersihkan diri, kami makan dengan makanan yang di antarkan oleh petugas di hotel.
Tak lupa juga dengan kasur tambahan yang ku minta, mereka mengantar kan nya masuk ke dalam kamar.
Aku diam di balik jendela menatap lurus ke arah jalan raya yang padat dengan kendaraan, aku sangat menyayangkan tindakan bodoh suami ku itu.
Kenapa ia tidak pandai bersyukur sudah hidup enak di dalam rumah ku dan dengan tanpa malu nya ia malah memberikan nafkah untuk pelakor itu.
"Ibu pasti sedang mikir kan ayah ya.?"
"Loh, kamu kenapa belum tidur nak?"
"Aku tidak bisa tidur bu."
"Aku tidak tahu, bu bagaimana dengan sekolah ku nanti?"
"Kamu akan tetap sekolah nak, mungkin ibu akan menjual mobil itu dan menggantinya dengan yang lebih kecil saja."
"Kenapa ayah jahat dengan kita bu?"
"Ayah tidak jahat nak, ayah hanya khilaf saja."
"Lebih baik kamu tidur saja dengan nenek." Sambungku.
Ia mengangguk dan naik ke atas kasur, sedang kan aku tidur di kasur tambahan tadi.
__ADS_1
Mungkin karena terlalu lelah, aku jadi tidur sangat nyenyak dan bangun sudah semakin siang.
"Astaga. Kenapa kalian tidak membangun kan aku?"
"Sudah istirahat saja kamu, Ta. kamu sudah seharian membawa mobil, tidak salah nya juga kamu istirahat yang cukup."
"Aku harus pergi dulu ke sekolah Tiara untuk meminta surat pindah, dan aku pun harus ke pengadilan untuk memasukkan berkas perceraian."
"Aku ikut ya bu."
"Kamu tunggu saja di sini sama nenek." Ucap ibuku.
Setelah beberapa saat bersiap, aku keluar kamar dan saat aku membuka pintu. Aku di kaget kan dengan suara mas Dani di sini.
Terlihat ia bersama wanita lain dan aku putuskan, ternyata kami berada di dalam satu lift yang sama.
"Makasih ya om." Ucap wanita itu dengan gemulai.
"Sama-sama sayang. Makasih juga atas servis nya tadi malam ya." Ucap suamiku.
Aku berada di belakang mereka, oleh karena itu mereka tidak mengetahui bahwa aku di dekat nya.
"Sungguh menjijikan sekali kamu mas." Ucapku dalam hati.
Ting.
Aku sampai ke loby, dan ternyata mereka pun hendak keluar.
Saat aku menuju parkiran mas Dani melihat ku, beruntung sebelum memesan kamar aku sudah memberitahu pada petugas agar tidak membocorkan keberadaan ku terlebih dengan mas Dani.
__ADS_1
"I-ita ..." Ucap nya kaget. Namun aku abaikan.
"Ita tunggu ..."