
Ternyata saat aku pulang ke rumah Dina, bukan bahagia yang ku dapat. Melainkan cecar dari Dina yang terus menerus menanyai ku tentang ini dan itu yang membuat ku jengah terlalu lama berada di rumah itu.
"Mas, mau kemana?"
"Aku mau pulang saja ke rumah ibu atau ke rumah lama ku, kenapa?"
"Mas kan baru saja sampai rumah."
"Ya habis nya kamu buat aku malas berlama-lama di rumah, seharusnya suami baru pulang itu di sambung dengan sangat baik bukan malah seperti itu. Kamu tidak lebih baik dari Ita."
"Kenapa kamu jadi membandingkan aku dengan dia? Apa kalian rujuk kembali?"
"Tahu dari mana kamu kalau kami akan bercerai?"
"Tadi aku mendengar nya dari ibu, saat aku ke rumah ibumu."
"Untuk apa kamu pergi ke rumah ibu ku?"
"Memang nya kenapa mas? Kan ia juga ibu ku, lagian di dekat rumah mu pun ada rumah serta toko ku. Kamu ini kenapa sih?"
Benar juga yang di katakan Dina, saking aku menikmati nya dengan Bella hingga aku lupa dengan segala nya yang berhubungan dengan Dina.
"Sudah lah, aku mau pulang saja ke rumah ibu ku. Jika kamu seperti ini terus jangan salah kan aku jika aku menikah lagi."
__ADS_1
"Apa? Berani nya kamu bicara seperti itu mas."
"Hei, apa kamu lupa? Jika aku ini laki-laki dan berhak menikah berapa kali pun aku mau."
"Baik lah, aku akui aku salah. Tapi ku mohon kamu jangan menikah lagi, aku akan menurut apa mau mu mas. Kemari lah, kita sudah lama tidak melakukan aktivitas seperti biasa bukan?"
"Tapi ini masih siang sayang."
"Tidak apa mas, aku sudah rindu dengan si Otong mu itu."
Seketika wajah ku kembali berbinar, aku merasa senang seperti ini. Aku merasa sangat puas karena di sana dapat di sini pun dapat. Andai saja Ita tidak menceraikan aku mungkin aku akan menjadi lebih nyaman lagi.
Bisa saja aku membuat mereka bertiga melakukan nya secara bersamaan bukan? Sungguh sangat menyenangkan, meskipun baru membayangkan nya saja.
"Baik lah mas, mandi lah dulu setelah mandi makanan akan siap kebetulan sekali aku baru saja memasak makanan kesukaan mu."
Aku berlalu menuju kamar mandi, dan tidak lupa hp ku bawa karena akan berbahaya jika Dina mengecek isi hp ku. Meskipun hp ini selalu terkunci dengan kata sandi yang tidak mungkin ia ketahui kecuali Bella.
Bahkan aku sengaja membuat rekening dua yang satu ku isikan lima juta agar Dina tidak curiga, karena menurut nya setelah ini gaji ku akan ia pegang sebagai nafkah untuk nya.
Sedang kan yang satu lagi ku pegang, dan sebagian ku kirim kan pada istri muda ku itu. Sungguh aku menjadi rindu dengan nya.
Setelah selesai semua nya, aku melayani Dina meskipun aku merasa sangat lelah akibat permainan terus menerus yang Bella main kan dengan sangat luar biasa. Tetapi aku tetap memberikan yang maksimal untuk Dina agar ia tidak curiga dengan ku.
__ADS_1
Setelah setengah jam berlalu, aku dan Dina mengakhiri aktivitas kami. Ku lihat Dina begitu kelelahan dengan semua ini, berbeda dengan Bella. Ia pasti selalu minta nambah lagi dan lagi hingga aku kehabisan tenaga.
"Dek."
"Sejak kapan kamu memanggil ku dengan sebutan dek, mas?"
"Sejak hari ini, aku akan memanggil mu dengan sebutan dek. Karena sebentar lagi aku akan bercerai dengan Ita dan kamu akan menjadi istri satu-satunya yang aku miliki."
"Benar kah?"
"Ya benar."
"Tapi apa tidak terlalu cepat mas?"
"Bukan nya itu yang kamu mau?"
"Maksud ku ..."
"Terserah kamu sih, kalau pun kamu belum siap dengan pernikahan resmi juga tidak masalah mas akan menunggu mu hingga kamu siap."
"Terimakasih mas."
Kami berpelukan dengan keadaan masih belum memakai apapun, jelas saja aku tidak masalah. Karena jika Dina tidak mau maka aku akan membuat Bella menjadi istri sah ku di mata agama dan hukum.
__ADS_1
Ku lihat juga Bella anak yang baik sebenarnya, hanya saja perekonomian mereka yang memaksa Bella seperti itu. Itulah sebab nya ketika aku melamar nya, kedua orang tua Bella langsung menyetujui nya.