
Hari menuju pernikahan tiba aku dan mas Wahyu semakin di sibukan dengan segala persiapan untuk pernikahan kami nanti nya.
Namun entah dari mana mas Dani mengetahui tempat tinggal ku yang baru, ia tiba-tiba saja sudah berada di depan rumah ku.
"Hallo pak Ujang, kenapa?" Tanya ku saat mendapati telfon dari pak Ujang.
"Begini bu, di depan pagar ada seorang laki-laki dan perempuan paruh baya. Mereka mengaku jika mereka kenal dengan ibu?" Jelas nya.
"Siapa mereka pak?"
"Nama nya pak Dani dan bu ... Aduh saya lupa bu maaf."
"Ya sudah, kalau begitu saya ke depan sekarang ya!"
Setelah mematikan telfon aku langsung menghampiri pak Ujang di post satpam, saat ku lihat dari celah pagar ternyata mas Dani dengan mantan ibu mertua yang datang ke rumah ku.
Aku heran mau apa lagi mereka datang kemari? Apa mereka ingin membuat masalah lagi?
"Apa jangan di buka saja bu?" Tanya mang Ujang lagi.
"Buka saja pak! Suruh langsung masuk saja ke dalam rumah."
"Baik bu."
Aku langsung berbalik menuju rumah ku lagi, saat sudah sampai di rumah ternyata ibu, Tiara dan mas Wahyu sudah berada di dapur.
Memang mas Wahyu sudah sering datang ke rumah ini karena kami juga mempersiapkan nya di rumah ini juga.
"Permisi bu, tamu ibu sudah ada di depan!" Ucap bi Neneng.
"Makasih ya bi." Bi Neneng langsung kembali lagi ke pekerjaan nya di belakang.
"Siapa bu?" Tanya Tiara.
"Ayah dan nenek mu! Ibu ke depan dulu ya, kamu diam di sini sama papah sama Mbah!"
"Iya Bu."
Aku berjalan menuju ruang tamu tak lupa juga sebelum aku ke depan, aku sudah menyuruh bi Neneng untuk membuat kan Oren just untuk mereka berdua.
Terlihat mereka celingak-celinguk melirik ke sana kemari di dalam rumah ini.
"Assalamualaikum bu." Ucap ku ramah.
"Waalaikumssalam, gede juga rumah baru mu ini Ita!" Ucap nya sinis.
"Alhamdulillah bu hasil dari kerja keras ku selama ini."
"Alah palingan ini uang dari hasil menjual barang-barang milik anak saya si Dani."
"Astaghfirullah ibu tidak baik bicara seperti itu!"
"Alah atau mungkin kamu menjadi istri simpanan om-om ya?" Ucap nya lagi.
"permisi bu, ini air nya!" Ucap bi Neneng langsung menyimpan air itu di atas meja.
"Makasih ya bi." Bi Neneng langsung kembali lagi ke belakang.
"Jadi ada ibu datang kemari? Dan kalian tahu dari mana rumah ku yang baru?"
__ADS_1
"Mudah bagi ku untuk mengetahui alamat rumah yang baru istri ku tercinta" Ucap mas Dani.
"Jaga ucapanmu itu mas, aku sudus bukan istri mu lagi."
"Oke-oke, dimana anak ku?"
"Kenapa tanya Tiara?"
"Aku ayah nya, Ita. Aku berhak tahu dimana anak ku sekarang."
"Ayah yang tidak pernah memberikan nafkah untuk anak nya sendiri itu tidak pantas di sebut ayah."
"Oke-oke."
"Sudah-sudah, kami ke sini bukan ingin mencari ribut!" Ucap mantan ibu mertua.
"Lalu?"
"Kami ingin meminta maaf pada mu, Ita. Kami tahu kami sudah sangat banyak sekali salah pada mu dan juga keluarga mu dulu."
"Oke."
"Dan lagi ..."
"Apa bu?"
"Ibu mau kamu kembali dengan Dani, dan biar kan kamu tinggal di rumah mu yang bagus ini."
"Apa?"
Aku kaget bukan maen mendengar perkataan ibu barusan, ia meminta ku kembali lagi dengan mas Dani? Padahal sudah jelas ia tahu jika aku akan menikah dengan mas Wahyu. Di tambah lagi ia meminta ku untuk membiarkan mereka tinggal di rumah ku.
"Tidak mungkin bu, aku sudah akan menikah sebentar lagi!" Tolak ku.
"Kamu bisa membatalkan nya dan menkakh kembali dengan Dani."
"Itu adalah pemikiran yang sangat konyol."
"Tidak, jika kamu tidak ingin kami tinggal di sini. Kamu bisa membeli nya lagi dan membiar kan kami tinggal di rumah baru itu" Ucap ibu.
"Tidak mungkin juga itu, sudah lah bu. Aku tidak mungkin bisa menikah dengan mas Dani lagi, karena aku sudah akan menjadi istri orang!"
"Kamu selingkuh saja dengan ..."
"Ada apa ini? Dan siapa yang selingkuh?" Tanya mas Wahyu tiba-tiba. Memotong ucapan mantan ibu mertua ku.
"Mas, ayok duduk di sini!" Ucap ku menyuruh mas Wahyu duduk di dekat ku.
"Jadi dia yang akan menjadi suami mu?" Tunjuk mas Dani.
"Jangan tunjuk-tunjuk calon suami ku mas!"
"Kemana-mana juga lebih gantengan aku, Ita." Ucap nya pede sekali. Padahal sudah jelas ganteng mas Wahyu dari pada dia.
"Pede boleh tapi tahu diri jauh lebih baik. Saya mendengar semua nya, dan saya ucapkan terimakasih banyak sudah mau berkunjung di rumah saya ini."
"Hei ini rumah Ita, bukan rumah mu" Ucap mas Dani sewot.
"Apa kamu lupa? Jika saya sebentar lagi akan menikah dengan Ita."
__ADS_1
"Tapi ini tetap rumah Ita. Kenapa kamu miskin ya? Kamu tidak mampu membeli rumah sebesar ini ya?"
"Apa saya tidak salah dengar? Begini ya bu, dari tadi saya mendengar semua niatan ibu datang ke rumah istri saya ini. Dan saya juga tahu jika ibu menginginkan untuk tinggal di rumah ini, saya bisa saja memberikan apa yang ibu mau. Tapi ..."
"Ya sudah berikan saja, dengan begitu kamu bisa pergi dari kehidupan Ita!" Ucap ibu mertua sewot.
"Oh bukan seperti itu, tapi ..."
Tok ... Tok ... Tok ...
"Assalamualaikum ..." Ucap hu dini. Calon ibu mertua ku.
"Mami ..." Ucap mas Wahyu terkejut, pasal nya mami datang dengan dandanan seperti ibu sosialita.
"Oh ada tamu ya?" Tanya mami.
"Perkenalkan bu saya Ida, mantan ibu mertua Ita dan akan menjadi mertua nya lagi," ucap ibu percaya diri.
"Hah?" Mami menoleh ke arah kami berdua meminta penjelasan dari kami.
"Tidak benar itu mi, mereka datang ke sini dan meminta Ita untuk kembali dengan Dani. Lalu mereka tinggal di rumah ini," Jelas mas Wahyu.
"Apa?"
"Wajar dong Ita itu menantu ku yang baik dan penurut. Kalian pasti hanya memanfaatkan nya saja!" Hardik ibu.
"Jaga ucapan anda ya!"
Aku dan mas Wahyu saling beradu pandang, aku sudah bisa menebak bagaimana ke depan nya jika mami dan ibu masih tetap bertemu.
"Ayok mi, kita ke belakang saja! Tadi Ita membuat kue lapis" Ajak mas Wahyu.
Setelah mereka ke belakang, aku menoleh ke arah ibu dan mas Dani yang kaget melihat ini semua.
"Lebih baik kalian pergi dari rumah ku, jangan merusak kebahagiaan ku lagi. Tolong!" Ucap ku memohon.
"Kamu harus kembali dengan anakku."
"Aku tidak bisaa, bukan kah mas Dani sudah bahagia dengan ketiga istri baru nya itu? Lebih baik kalian pergi, sebelum aku panggil kan polisi. Dan satu lagi, kerugian di restoran ku yang ibu perbuat belum sepenuhnya pulih. Jadi sebelum aku memanggil kan polisi untuk menangkap ibu, lebih baik ibu pergi dari rumah ini."
"Apa? Ibu buat hal apa di restoran nya Ita?" Tanya mas Dani kaget.
"Itu ... E ..."
"Hallo pak Ujang, tolong masuk ke ruang ajak mang Jajang untuk menyeret kedua tamu tidak penting ini" Ucap ku di telfon memanggil kedua satpam ku.
"Kamu jangan kurang ajar Ita ..." Ucap ibu tidak terima.
"Permisi bu, ayok keluar dan jangan membuat bos saja marah dan tidak nyaman," seret mang Jajang.
"Saya bisa jalan sendiri!"
"Ya sudah lebih bagus lagi itu."
"Jadi cowok ko mokondo sih?" Tanya Jajang.
"Dari pada kamu cuman jadi satpam aja belagu!" Ucap ibu mertua.
"Lebih baik saya jadi satpam dari pada datang mengemis agar bisa hidup kaya raya!" Jawab nya.
__ADS_1
Seketika ibu mertua terdiam mendengar hal itu. Aku sendiri masuk ke dalam dan menemui yang lainnya yang sedang makan kue lapis.