
"Maaf kan aku mas, aku terpaksa melakukan ini semua. Karena aku sudah tidak tahan dengan mu. Aku merasa tidak di hargai sebagai istri." Gunam ku.
Aku berencana akan menjemput ibu serta Tiara, dan akan membawa mereka pergi jauh dari kota ini. Agar suamiku tidak dapat menemukan kami, bukan hanya itu aku juga berencana akan mengajukan gugatan cerai pada nya.
Setelah beberapa saat perjalanan, akhir nya aku sampai di rumah ibu. Ia heran melihat ku yang tidak seperti biasanya datang dengan hanya menggunakan motor saja.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumssalam, tumben kamu pakai mobi"
"Ayok kita bicara di dalam bu."
"Ada apa ini, Ita?"
"Ayok bu."
Ibu mengikuti ku dari belakang masuk ke dalam rumah, tak lupa aku mengunci pintu agar tidak ada tetangga yang kepo.
Aku duduk di samping ibu, dan saat aku akan menceritakan semuanya. Tiba-tiba Tiara datang dari arah dapur, ia heran kenapa aku tiba-tiba datang terlebih lagi aku bilang padanya bahwa aku akan menjemputnya satu Minggu lagi.
"Loh bu, bukan nya aku di jemput satu Minggu lagi ya?"
"Tidak nak, ibu datang bukan ingin menjemput mu."
__ADS_1
"Lalu apa?" ia ikut duduk bersama ku dan ibu.
"Ceritakan apa yang terjadi, Ita."
"Jadi begini bu ..."
Aku mulai menceritakan semuanya pada ibu, dan menceritakan juga tujuan serta rencana ku ke depan nya. Terlihat ibu dan Tiara sangat antusias mendengar kan nya, ternyata Tiara sudah tahu permainan sang ayah di belakang ku.
Bahkan rupanya mas Dani kemarin menghubungi nya menanyakan ku sudah tidur apa belum.
"Aku sudah tahu sejak awal bu." Ucap nya mengagetkan aku.
"Kamu sudah tahu nak?" tanya ibu.
"Benar nek, bahkan teman-teman ku juga sering melihat ayah jalan dengan Tante Dina, aku pernah sekali mengikut nya hingga sampai di rumah yang menurut ku masih baru. Ayah masuk ke dalam rumah itu bersama Tante Dina."
"Teman ku ada bertetangga dengan wanita itu bu, bahkan ia mengatakan bahwa Tante Dina itu mantan pacar ayah dulu sejak SMA. Mereka pisah karena Tante Dina harus bekerja keluar negri, dan menjalin hubungan dengan teman majikan nya."
"Ya tuhan, rupanya anakku sudah tahu segala hal yang tidak aku ketahui. Maaf kan ibu nak, ibu tidak bisa menjaga ayah mu dengan baik. Hingga ia memilih untuk selingkuh." Ucap ku putus asa.
"Tidak apa ibu, ibu tidak salah. Yang salah itu ayah, kenpa masih saja tergoda dengan wanita lain? Padahal sudah ada aku dan ibu."
"Jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan nak?" tanya ibu.
__ADS_1
"Aku akan menggugat cerai mas Dani, Bu."
"Lakukan lah, lalu dimana sertifikat rumah dan surat-surat berharga lainnya.?"
"Aku akan menitipkan pada ibu."
"Jangan nak, simpan lah di bank jauh lebih aman. Kita tidak tahu, kapan saja Dani akan datang kemari. Jika akan pindah, rasanya ibu sangat berat terlebih lagi rumah ini peninggalan ayah mu dulu."
"Kita akan pergi hanya sementara bu, hingga urusan ku dengan mas Dani selesai nanti kita akan kembali lagi."
"Benar nek, aku sangat tahu ayah. Ia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang ia mau."
Ternyata putri ku sudah semakin dewasa, bahkan ia dengan tegas nya membela dan mendukung keputusan ku ini.
Tuhan sungguh beruntung nua aku dapat melahirkan anak secerdas Tiara. Akhirnya ibu menyetujui keputusan ku untuk pergi sementara dari kampung ku ini.
Sebenarnya aku belum tahu pasti akan pergi kemana, namun aku akan berusaha mencari yang terbaik untuk anak dan ibu ku.
Aku juga berencana akan mengubah ATM ku agar tidak bisa di lacak oleh mas Dani.
"Ayok kita berangkat bu, tabung gas sudah ibu lepas dari selang?"
"Sudah nak, semua sudah ibu siap kan. Ayok kita berangkat sebelum suami mu datang."
__ADS_1
"Ayok bu, bismillah semoga saja keputusan ku sudah benar bu."
"Aamiin."