Maduku Mantan Terindah Suamiku

Maduku Mantan Terindah Suamiku
Bab 38


__ADS_3

Aku pulang menuju rumah ibu, aku tidak mungkin kembali ke rumah Bella dengan keadaan seperti ini! Di tambah lagi di sana ada Tiara anakku, aku tidak ingin membuat nya terluka kembali melihat keadaan ku yang seperti ini.


Di sepanjang jalan tak hentinya hp ku berdering karena telfon dari Dina, aku benar-benar muak dengan kelakuan nya. Mungkin kah ini semua karma untuk ku? Karena aku dulu menyakiti dua wanita sekaligus? Sungguh hati ini menyesal karena telah melukai dua wanita berharga dalam hidup ku selama ini.


Beberapa saat kemudian aku sampai di depan rumah ibu ku, ibu heran melihat ku pulang dengan tiba-tiba karena biasa nya aku pulang dengan Dina.


"Loh Dani, pulang ko sendirian? Dina mana?"


"Di rumah!" Aku berlalu masuk ke dalam rumah, di susul oleh ibu di belakang ku.


"Kamu kenapa Dani? Ayok duduk dulu nak," aku duduk di kursi ruang tamu bersama ibu.


"Yoga ambil kan minum untuk Abang mu" teriak ibu pada Yoga.


Saat Yoga hampir sampai di dekat ku, ia sangat gemetar membawa gelas berisi air putih di tangan nya.


Aku bangkit dari duduk ku dan menghajar nya tanpa aba-aba, ibu kaget melihat ku tiba-tiba memukul adik ku itu.


Bugh


Bugh


Dua pukulan melayang ke arah pipi dan perut adikku.


"Astaga Dani ... Apa yang kamu lakukan nak? Sudah henti kan!" Teriak ibu.


"Dia menggauli istri ku bu, aku menyuruh nya untuk menemani Dina bukan untuk menyetubuhi Dina." Teriak ku.


"Apa?" ibu kaget mendengar hal itu.


"Ta-tapi mbak Dina yang menggoda ku, bang."


"Persetan dengan itu, kamu mengambil kesempatan dalam semua ini."


"Su-sumpah bang ka Dina yang menggoda ku."


"Sudah-sudah, ayok duduk dan bicara kan semua dengan kepala dingin." Ucap ibu, yang masih memegangi tangan ku agar aku tidak memukul Yoga kembali.


Kami duduk di ruang tamu nafas ku masih memburu setiap kali melihat wajah adikku Yoga.


"Yoga apa yang sebenarnya terjadi?"


"A-aku ..."


"KATAKAN YANG BENAR!" bentak ku pada Yoga.


"I-iya ... Aku melihat mbak Dina sedang memadu kasih dengan pak RT di rumah bang Dani, bahkan bukan cuman sekali tapi beberapa kali. Saat aku melihat itu semua, mbak Dina menghampiri ku dengan tanpa menggunakan sehelai benang pun. Lalu ia mencoba untuk merayu dan menggoda ku agar tidak mengadukan semua pada bang Dani. Lalu ..."


"Apa?"


"Aku tidak mau karena aku tahu itu semua dosa, aku lebih baik menggauli lajang sekalian."

__ADS_1


Aku hanya tersenyum sinis mendengar semua itu, karena aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya saja aku ingin mendengar dari mulut adikku itu.


Kamera yang ku pasang di setiap sudut rumah itu juga menangkap suara mereka yang sedang mengobrol dan merencanakan sesuatu.


"Benar begitu Yog?" Tanya ibu.


"Benar bu, dan semenjak itu aku juga ketagihan dengan pelayanan istri bang Dani. Di tambah lagi ia selalu memakai baju sexy saat di rumah bahkan pernah sekali ia hanya memakai daster di atas lutut tanpa dalaman."


"Aku muak dengan kalian berdua," aku bangkit dari duduk ku menuju ke kamar.


"Aku sudah mencerai kan Dina."


"Apa?"


Ibu terkejut kembali saat aku memberitahu bahwa aku mencerai kan istri kedua ku, saat ini ibu tidak mengetahui pernikahan ku dengan Bella.


Terdengar ibu memarahi Yoga karena perbuatan nya dengan sang Kaka ipar, Yoga seperti menangis mendengar kan semua perkataan ibu.


"Dek! Aku merindukan mu sayang." Ucap ku dalam hati.


Kamar ini menjadi saksi bisu antara cinta ku dengan Ita, ia wanita yang selalu sabar menghadapi semua perangai ku.


Malam hari nya aku keluar dan berniat untuk berpamitan untuk pulang ke rumah Bella, keesokan hari nya aku akan mengirimkan gugatan cerai di pengadilan untuk Dina.


"Bu, aku pamit pulang."


"Pulang kemana nak?"


"Ke rumah ku."


"Bukan ke rumah Dina."


"Lalu?"


"Sudah aku pulang dulu bu, dan bilang anak ibu itu jika ia mau dengan Dina maka silahkan di ambil saja karena aku sudah tidak butuh dia lagi."


"Dani, jangan seperti itu nak. Bukan kah dulu kalian saling mencintai?"


"Memang, tapi apa ibu lupa? Bahwa aku dan Ita pun dulu saling mencintai tapi kenyataannya? Kami bercerai juga akibat rayuan ****** itu."


"Shuttt nak jangan emosi, tahan emosi mu. Istighfar sayang!"


"Sudah ah bu. Ini juga semua salah ibu, ibu yang selalu mendesak ku agar menikah dengan Dina karena ia memiliki ruko dan usaha yang lain. Apa ibu tahu? Bahwa selama ini Dina tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun, bahkan hanya untuk membeli air galon juga."


"Berarti dia lebih parah dari Ita? Bahkan lebih baik Ita!"


"Jelas saja sangat berbeda jauh bu, Ita tidak asal masuk ke sana kemari berbeda dengan Dina yang keluar masuk jangkar!"


"Sudah-sudah, kamu mau pulang kemana? Kenapa tidak tidur saja di sini? Ibu masih ingin bicara dengan mu."


"Kata kan lah bu."

__ADS_1


"Nak, jika kamu bercerai dengan Dina. Kenapa tidak kembali lagi dengan Ita? Ibu rasa ia masih mau dengan mu, karena kalian mempunyai Tiara bukan?"


Deg


"Apa aku harus memberitahu ibu mengenai Bella sekarang?" ucap ku dalam hati.


"Kenapa diam nak?"


"Anu bu ... Nanti saja lah aku pikir kan dulu."


"Ibu dulu tidak suka dengan dia karena dia mendominasi mu."


"Mendominasi bagaimana bu? Bukan kah uang gaji ku selama ini selalu ibu yang megang? Bahkan Ita selalu ku beri uang dua ratus ribu paling besar lima ratus ribu, dan dia tidak pernah mengeluh dengan semua ini."


"Kenapa kamu membela dia? Ini lah yang ibu tidak suka, kamu selalu saja membela dia dan membuat seolah ibu yang salah."


"Sudah lah, aku pamit dulu!"


Dengan cepat aku keluar rumah tanpa mendengar kan ucapan ibu lagi, ibu selalu saja seperti itu. Ia selalu tidak suka dengan Ita padahal Ita sudah sangat baik dengan ibu selama ini.


Aku melajukan mobil ku menuju rumah Bella, lima puluh menit kemudian aku sampai di depan rumah nya.


Aku langsung masuk karena memiliki kunci cadangan, ku edar kan pandangan ku di penjuru ruangan rumah ini. Tidak mendapati keberadaan Bella.


Aku naik menuju kamar atas dan membuka kamar milik kami, nanti tidak menemukan nya juga. Aku panik dan langsung menuju kamar anak kami nanti nya, ternyata dia ada di dalam sana dengan Tiara.


Mereka tidur berdua di ranjang yang sama sambil berpelukan, aku bangga pada putri ku itu ia dapat bersikap dengan dewasa meskipun sebelum nya ia pasti merasakan kecewa yang teramat amat.


Aku mencium kedua kening wanita di hadapan ku ini.


"Ayah sayang kalian, maaf kan ayah belum bisa menjadi orang tua yang baik." bisikku.


Aku keluar kamar saat hp ku berdering.


Kringgg ... Kringgg ... Kringgg ...


"Halo ..."


"Sudah lah Dina, jangan menggangguku lagi. Lanjutkan saja permainan mu dengan pak RT, bukan kah kamu lebih puas dengan nya di bandingkan dengan aku?"


"Besok aku akan menuju pengadilan dan bersiap lah untuk menerima amplop undangan sidang!"


Aku langsung mematikan telfon seperti, dan saat aku berbalik badan ternyata Bella terbangun.


"Mas, kamu sudah pulang?"


"Sayang, kenapa kamu bangun? Apa suara ku berisik hingga membangun kan mu?"


"Tidak mas, aku pingin ke toilet."


"Ya sudah aku ke kamar dulu ya sayang."

__ADS_1


"Iya. Nanti aku akan menyusul ke sana."


Aku berlalu menuju kamar ku, melihat wajah Bella seketika hati ku menjadi tenang dan damai. Karena memang wajah nya yang membuat semua orang yang menatap nya akan merasa nyaman dan tentram. Wajah yang teduh dan cantik menambah keistimewaan di diri Bella yang menarik.


__ADS_2