
Aku heran kenapa mas Dani pulang dengan keadaan marah seperti itu, apa ia bertikai lagi dengan mbak Dina? Tapi kenapa?
Aku tidak berani menanyakan hal itu padanya karena aku takut jika nanti akan menjadi semakin emosi, aku biar kan ia tidur dengan nyenyak.
Hingga keesokan harinya ia pergi ke kantor dan kebetulan sekali hari ini adalah hari gajian mas Dani, aku sudah merencanakan untuk pergi periksa kandungan ku.
"Mas, hari ini gajian kan?"
"Iya sayang, kenapa?"
"Apa mas lupa jika hari ini adalah jadwal ku untuk periksa si kecil?"
"Oh astaga sayang, maaf kan mas. Oke nanti mas akan izin bekerja setengah hari untuk menemani mu pergi ke dokter!" Aku mengangguk dan melihat mas Dani sarapan dengan sangat lahap.
Hari ini juga Tiara pulang ke rumah mbak Ita, sungguh mas Dani sangat beruntung bisa mendapatkan wanita sebaik mbak Ita. Mas Dani berangkat ke kantor dan aku lebih memilih kembali ke dalam kamar hanya sekedar beramin hp atau game.
Saat aku membuka-buka sosial media milik mas Danu, aku terpana saat melihat sebuah pesan masuk dari akun bernama RiaAmelia.
[Hai om, apa kabar? Sudah lama nih tidak bertemu, aku kangen dengan om! Apa om juga kangen dengan ku? Aku dengar istri om sedang hamil ya? Jadi tidak bisa dong layani om lagi? Aku sedang berada di kota xxx ni]
[Hai juga cantik, kabar om baik ko. Iya nih, istri om sedang hamil muda jadi om tidak bisa melakukan nya! Wah dimana nya kamu? Biar om datang ke sana!]
[Aku kirim lokasi ya om, beneran ya dateng! Soal nya aku sendirian di sini, temani aku tidur di sini om]
[Iya beneran sayang! Om akan datang ke sana nanti setelah mengantar istri om periksa kandungan ya.]
[Udah tinggalin aja lah, lagian belum tentu juga anak itu anak om kan? Jadi lebih baik ke tempat ku saja!]
[Baik lah kalau begitu nanti om akan mencari alasan untuk tidak mengantar nya ke rumah sakit.]
[Nah gitu dong, om kirim aku uang dong. Uang ku habis nih untuk bayar sewa kamar selama aku tinggal di sini, aku kelaparan.]
[Ya sudah, om transfer ya!]
[Om baik deh! Aku janji akan memberikan servis yang terbaik untuk om.]
[Sudah om kirim ya. (Foto bukti transfer)]
[Wah banyak sekali om.]
[Tidak apa, untuk keperluan yang lain nya! Ya sudah om kembali bekerja dulu ya, dadah cantik!]
[Dah sayang.]
Hati ku benar-benar hancur saat membaca itu semua, aku memang bukan wanita baik-baik dan aku juga bekas wanita malam. Tapi aku juga masih memiliki hati, mas Dani benar-benar tidak pernah berubah. Semua ucapan nya hanya lah bohong!
Kringgg ... Kringgg ... Kringgg ...
Ku lirik hp ternyata mas Dani menelfon ku, ada apa dia menelfon? Bukan nya masih jam kerja?
"Hallo sayang!"
"Ya mas, kenapa?"
"Sayang maaf ya, mas tidak bisa menemani mu periksa karena mas tidak di ijin kan oleh bos pergi!"
Deg
Mas Dani benar-benar mengikuti kata perempuan itu, apa jadi nya jika mas Dani di rebut oleh wanita itu? Kan tidak lucu jika pelakor janda karena pelakor?
"Sayang, apa kamu masih di sana?"
"Ah iya mas, ya sudah kalau begitu aku bisa pergi sendiri ko tidak masalah! Tapi nanti aku mampir ke kantor mas ya!"
"Mau apa sayang? E ... Maksud mas, kenapa mampir dulu? Apa anak kita rindu dengan papah nya?"
"Aku mau memakai mobil ku, kebetulan sekali teman ku mengajak reuni!"
"Oh ... Apa tidak bisa besok saja?"
"Kenapa memang nya? Itu kan mobil ku mas. Jadi terserah aku dong."
"I-iya sayang, boleh ko. Nanti tunggu saja di loby kantor mas akan turun kebawah."
"Iya mas."
"Ya sudah, mas kerja lagi ya!"
"Iya." Tutttt
Tak akan ku biar kan mas Dani membawa mobil ku menemui wanita itu, enak saja dia mau membawa mobil ku sendiri.
Aku bersiap untuk mandi dan dandan secantik mungkin, aku tidak akan membiarkan wanita itu mengambil suami ku. Bisa-bisa semua berpindah tangan jadi ke tangan dia, terus nanti anakku tidak akan mendapatkan apa-apa dari semua ini?
Setelah berdandan dengan balutan mini dress selutu berwana merah dan di padu kan dengan sweter hitam. Aku pergi menuju kantor mas Dani dengan menggunakan taxi online.
__ADS_1
"Bi, aku pergi ke dokter dulu ya!"
"Oh tidak sama mas Dani?"
"Mas Dani sibuk, ya sudah aku pergi dulu ya! Itu taxi nya sudah datang."
"Iya hati-hati di jalan ya nak."
"Iya bi."
Aku pergi dengan perasaan kesal terhadap mas Dani dan perempuan itu, bisa-bisa nya ia menghasut mas Dani jika anak ini belum tentu anak nya.
Setelah beberapa saat kemudian aku sampai di kantor nya, dan menunggu di loby. Banyak pasang mata melirik ku yang sedang duduk di sana hingga tak lama kemudian mas Dani muncul dari dalam lift.
"Hai sayang, apa sudah lama menunggu?"
"Tidak, aku baru saja sampai."
"Ya sudah ayok, mas ambil kan mobil nya di parkiran." Aku bangkit dan mengikuti mas Dani di samping nya.
"Sayang, kenapa memakai baju itu ke sini?"
"Lah memang nya kenapa?"
"Banyak pasang mata yang melirik mu sayang!"
"Oh bagus dong, istri seorang Dani manajer keuangan sangat cantik dan muda!"
"Aduh bukan seperti itu"
"Lalu apa?"
"Ah ya sudah lah, mas ambil mobil nya dulu ya." Aku mengangguk.
Aku tahu mas Dani merasa tidak nyaman karena semua ini, tapi andai saja mas Dani tidak membuat hal lebih dulu mungkin ku tidak akan melakukan hal semacam ini.
Singkat cerita aku sudah selesai memeriksa kandungan ku, dan aku membuka media sosial milik mas Dani kembali.
Ternyata ia benar-benar pergi menggunakan taxi hanya untuk bertemu dengan perempuan itu.
"Ternyata janji mu untuk berubah tidak di tepati mas!" Gunam ku.
Setelah membayar obat dan vitamin, aku pergi ke alamat yang di kirim kan oleh akun bernama RiaAmelia.
Aku memperhatikan nya dari dalam mobil yang ku parkir di tepi jalan, setelah mas Dani masuk aku turun dari mobil dan mencari mas Dani di sana.
Aku mendengar kan suara dari satu pintu ke pintu lain, hingga aku mendengar suara mas Dani sedang tertawa di dalam sana.
Hati ku kembali hancur dengan semua ini, apa yang harus aku lakukan? Aku melihat semua penghuni kosan ini sepi, dan tidak ada orang di dalam sana.
"Mbak sedang apa?" Tegur seseorang. Berhasil mengkaget kan ku.
"Astaga mas dan mbak ini bikin kaget saja" ucap ku berbisik. Lalu aku menghampiri mereka berdua yang seperti nya sepasang suami istri karena ada anak kecil juga di sana.
"Jadi mbak ngapain?" Bisik mbak tadi.
"Di dalam sana ada suami saya dengan wanita lain, apa mbak tahu siapa wanita di dalam sana? Dan apa kau kosan ini bebas?"
"Oh, di sana nama nya Ria. Dia baru datang seminggu yang lalu dari Surabaya mbak. Tidak, kosan ini tidak bebas dan isinya mahasiswa rata-rata."
"Oh begitu ya!"
"Apa benar di dalam sana suami mbak? Karena sudah beberapa kali saya mendengar ada suara laki-laki di sana."
"Iya benar mbak, bentar saya tunjukin pesan mereka ya!" Aku langsung mengeluarkan hp ku dan menunjukkan pesan mas Dani dan dia.
"Astaga, benaran dong mas!" Ucap nya pada sang suami.
"Lalu mbak mau gimana? Kalau mbak mau melabrak nya, saya saran kan hubungi ibu kosan nya biar di usir sekalian karena meresahkan sekali setiap malam berisik kasihan anak saya susah tidur."
"Saya tidak punya nomor hp yang punya kosan!"
"Biar saya hubungi ya."
"Iya mbak."
Setelah menunggu beberapa saat datang seorang wanita dan laki-laki ke kosan ini, mereka memperkenalkan diri nya sebagai pemilik kos dan ketua RT setempat.
Dengan kesungguhan dan keyakinan hati aku memantapkan diri untuk melabrak mas Dani di dalam sana, terdengar suara sedang keenakan saling bersahutan.
Sungguh aku malu sekali mendengar nya meskipun dulu aku mantan wanita malam, tapi aku tidak melakukan nya di kosan yang tidak kedap suara seperti ini.
Tidak lupa juga aku menghidupkan camera untuk memvidio mas Dani di sana. Akan aku jadikan barang bukti jika suatu saat aku membutuhkan semua ini.
Tok ... Tok ... Tok ...
__ADS_1
"Permisi!" Suara pak Bu kosan mengetuk pintu.
Namun, mereka tidak peduli dan masih melanjutkan nya seolah tidak ada orang di luar kamar itu.
Ceklekkk
Pintu di buka dengan menggunakan kunci cadangan yang di bawa oleh pemilik kosan.
"Ayok pakai baju nya ayok," ucap ketua RT.
Wajah mereka seketika pucat saat pintu berhasil di buka oleh kami, mas Dani belum menyadari bahwa ada aku di antara mereka.
Tubuh mereka yang tidak mengenakan sehelai benang pun terpangpang jelas, aku masih diam melihat semua ini.
"Astaga mas, jadi begini kelakuan mu? Bilang banyak pekerjaan tapi malah berduaan dengan wanita ini!" Akhirnya aku bersuara.
"Sa-sayang ..." Ucap nya, sambil berdiri dan sudah memakai baju lengkap.
"Duduk kalian di sana, kalian sudah mencoreng nama baik kosan ini. Dan kalian harus cepat di nikah kan karena sudah melakukan hal yang tidak terpuji," ucap tegas ibu kosan.
"A-aku sudah memiliki istri dan anak, jadi jangan nikah kan kami. Aku akan membayar berapa pun itu."
"Bukan masalah nominal tapi masalah pencemaran nama baik kosan ini yang sudah saya bangun susah payah!"
"Sa-sayang tolong mas!"
"Aku mau kita cerai mas."
"Apa?"
"Selesai kan semua nya, aku akan tunggu di rumah untuk menyelesaikan permasalahan kita!"
Aku pergi meninggalkan mas Dani yang tengah di kerumuni banyak orang di dalam sana, aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku lebih memilih untuk bercerai daripada harus menyiksa batin ku jika terus bersama mas Dani.
Malam hari tiba ...
Mas Dani pulang ke rumah dengan tatapan kosong, bahkan ia tidak melihat ku yang sedang duduk di kursi ruang tengah memperhatikan nya berjalan.
"Dek ..." Teriak nya di dalam kamar sana. Aku masih diam menunggu ia tersadar bahwa aku ada di sini.
"Dek ... Kamu di ..."
"Ya tuhan dek, kenapa tidak bicara? Aku mencari mu kemana-mana!"
"Tanda tangan ini mas!" Ucap ku.
Menyodor kan kertas berisi surat perceraian.
"Apa ini?"
"Baca saja!"
"Apa? Kamu minta cerai? Bagaimana bisa? Ayolah dek, maaf kan mas. Kamu juga dulu kan sama seperti dia! Apa salah nya sih mas punya istri dua dalam satu rumah? Kalian bisa hidup dengan rukun di rumah ini."
Plakkkk
Aku menampar nya dengan kuat, apa dia bicara seperti itu mikir dulu?
"Aku memang bekas wanita malam, tapi aku melakukan itu semua karena aku tidak seberuntung orang lain mas. Jika aku dapat memilih aku akan memilih untuk tidak melakukan semua itu, bahkan aku tidak akan memilih menjadi istri siri mu. Dan aku tidak sudi wanita itu tinggal di rumah ku!"
"Hei ini rumah yang ku beli."
"Apa kamu lupa mas? Semua aset di rumah ini atas nama bapak ku, semua kamu beli dengan nama ku tetapi aku sudah mengantikan nya dengan nama bapak. Karena aku takut jika kita akan bercerai dan semua ini menjadi harta goni gini."
"Tidak bisa begitu dong, ini tetap rumah ku."
"Baik lah, aku akan berikan kamu waktu dalam dua hari etapi dalam jangka dua hari kamu tidak mengosongkan rumah ini maka siap-siap saja akan di usir paksa oleh orang-orang suruhan ku!"
"Hah?"
Aku pergi meninggalkan mas Dani dan masuk ke dalam kamar ku, namun sebelum aku mengunci pintu aku lebih dulu mengeluar kan semua barang-barang milik mas Dani.
Tidak lupa juga aku memberitahu pada semua pegawai ku di rumah ini agar tidak melayani semua kebutuhan mas Dani, dan semua kunci kamar di rumah ini aku simpan dengan rapat di dalam laci kamar ku.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Dek buka pintu nya, kamu tidak berhak melakukan ini semua."
"Dek buka atau aku dobrak pintu nya!"
Aku masih tidak menghiraukan mas Dani, apa dia lupa jika pintu itu di desain kokoh meskipun di bobrak? Sungguh miris sekali kamu mas.
Aku tidak memperdulikan semua teriakan yang di lakukan mas Dani, bahkan ia juga memanggil semua pegawai di rumah ini.
Setidaknya semua uang mas Dani sudah ku pindah kan ke dalam rekening bapak, bahkan uang gaji hari ini pun sudah ku pindah kan semua ke dalam rekening bapak di kampung. Aku sudah menceritakan semua pada bapak, dan bapak mendukung ku untuk bercerai karena ia tidak ingin anak sulung nya tersakiti.
__ADS_1