
Sudah tiga hari ini mas Dani dan ibu mertua tidak pulang ke rumah, entah kemana mereka pergi meninggalkan rumah ini.
Aku menggunakan kesempatan ini untuk mencari sertifikat rumah ini, akan ku gunakan nanti jika dalam keadaan mendesak.
Saat aku sedang duduk santai di teras rumah, tiba-tiba saja tetangga memanggil ku. Ia datang bersama seorang wanita memakai baju lengkap polisi, aku kaget bukan main pasal nya aku tidak melakukan kejahatan apapun tetapi di datangi oleh polisi ke rumah.
"Ria, ini loh ibu ini kemarin ke sini tapi di rumah ini tidak ada orang."
"Kenapa bu?"
"Perkenalkan saya Briptu Rani ingin memberitahukan bahwa saudari Ida dan saudara Dani sedang di dalam penjara!"
"Hah? Ngapain mereka di sana?"
"Kamu ini pertanyaan semacam apa sih Ria?" Ucap bu Kokom.
"Lah kan aku cuman nanya bu."
"Mereke terjerat kasus pencemaran nama baik kepada saudara Ita dan keluarga, untuk lebih jelasnya silahkan untuk datang ke kantor polisi."
"Baik bu terimakasih."
Setelah mengatakan itu mereka pergi meninggalkan aku sendiri lagi di rumah ini, tanpa basa-basi aku langsung bersiap untuk mendatangi mereka di kantor polisi.
Hanya butuh lima puluh lima menit saja untuk sampai di kantor polisi, memang jauh dari rumah ibu mertua itu lah sebab nya aku malas tinggal di kampung. Tapi apa boleh buat? Aku tidak ada pilihan lain lagi.
Sesampainya di sana aku langsung menghampiri petugas kepolisian yang berjaga.
"Permisi pak, saya mau membesuk mas Dani dan ibu Ida"
"Baik bu, mari ikut saya ke dalam!"
Aku mengikuti nya dari belakang dan menunggu di ruang besuk. Tak lama kemudian keluar lah mereka dengan menggunakan baju oren yang sangat cocok bila di pakai oleh suami zalim kaya dia.
"Kenapa baru datang?" Tanya ibu mertua.
"Masih untung mau datang! Tuh aku bawa kan makanan, aku tahu kalian pasti sangat kelaparan memakan makanan di sini."
"Jangan sombong kamu!" Ucap ibu mertua lagi. Ku lirik mas Dani yang langsung memakan makanan yang ku bawa tanpa bertanya lebih dulu.
"Makan yang banyak mas" Ucap ku yang hanya di balas dengan anggukan saja.
Setelah selesai makan, baru lah mas Dani berbicara pada ku.
"Ria, tolong keluarkan mas dari sini, Ria!"
__ADS_1
"Hah?"
"Tolong lah Ria, mas dan ibu akan melakukan apapun asal kamu mau mengeluarkan kami dari sini."
"Benar begitu bu?" Tanya ku melirik ibu mertua. Namun, ia malah menatap ku seolah ...
"Ya sudah kalau tidak benar, aku tidak akan membantu kalian untuk keluar dari sini."
"Oke-oke ibu setuju!" Pada akhirnya ia menyetujui semua nya.
"Oke, besok aku akan datang lagi ke sini dan membawa jaminan. Namun, sebelum itu kalian harus menandatangani surat perjanjian lebih dulu!"
"Apa harus menggunakan itu?" Tanya ibu.
"Oh jelas dong bu, jika tidak aku akan rugi."
"Tapi aku ini ibu mertua dan juga suami mu, Ria. Seharusnya kamu tidak perlu begitu!"
"Ya kalian memang mertua dan suami ku, tapi apa kalian selama ini memperlakukan aku seperti menantu? Jelas tidak bukan? Bahkan aku lah yang memberikan uang bulanan pada kalian, sedang kan yang di katakan suami malah ..." Ucap ku terpotong dan menatap sinis pada mas Dani.
Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, aku yakin ia merasa malu dengan semua yang ku kata kan barusan.
"Oke-oke kami setuju!"
"Maaf jam besuk sudah habis, silahkan kalian kembali lagi ke sel!" Ucap salah satu petugas di sana.
Aku harus mengeluarkan uang bukan dalam jumlah sedikit, namun dalam jumlah yang sangat banyak sekali.
Keesokan harinya ...
Aku bersiap untuk pergi ke kantor polisi, dan membawa jaminan untuk mereka berdua. Sesampainya nya di sana, di saksikan oleh petugas dan yang lainnya mereka menandatangani perjanjian yang telah kami sepakati sebelum nya.
Kami pulang menggunakan taxi online, surat itu aku titip kan pada rekan sekaligus asisten papah. Mas Dani tidak mengetahui jika sekarang papah ku sudah sukses dan memiliki perusahaan di kota.
"Apa rumah ini tidak pernah di bersih kan?" Tanya ibu mertua.
"Aduh ibu, aku ini bekerja mana sempat mau beres kan rumah? Lagian selama ini aku tidak pernah beres kan rumah. Bukan?"
"Tapi kan ..."
"Sudah lah aku capek, di dapur ada sayuran, ayam dan lain lain. Ibu masak saja apa yang mau di masak, nanti setelah aku bangun semua sudah beres!" Ucap ku berlalu masuk ke dalam kamar.
Terdengar ibu memprotes tindakan ku barusan, lagian mereka sudah menandatangani surat perjanjian itu. Bahwa aku tidak perlu memasak, bereskan rumah, belanja sayuran, atau lain sebagainya. Aku hanya memberikan uang sebesar satu juta untuk satu bulan.
Aku tidak peduli itu semua cukup atau tidak, yang penting uang segitu aku sudah berikan tampa di potong.
__ADS_1
Ceklekkk
Terlihat mas Dani masuk ke dalam kamar dan menegur ku saat aku berbicara seperti tadi pada ibu nya.
"Dek, kamu wong jangan kaya gitu lah!"
"Kaya gitu gimana mas?"
"Ya itu, memperlakukan ibu seenak nya."
"Hei mas, apa kamu lupa dengan perjanjian kita tadi?"
"Alah dek, kita ini kan keluarga jangan kaya gitu lah."
Enak sekali dia bicara, di kira nya uang sebanyak itu hasil metik dari pohon kali.
"Ya sudah kalau begitu, kembali kan uang ku sebesar lima ratus juta!"
"A-apa?"
"Iya, di kira mengeluar kan kalian dari sana uang hasil apa? Uang sebanyak itu bukan hasil dari metik pohon ya mas."
"Tapi dek ..."
"Sudah lah mas, jika kamu dan ibu mu tidak terima dengan perlakuan dan perkataan ku. Maka kembali kan uang ku dalam waktu satu malam."
"G1 l4 kamu dek mana bisa aku dapat kan uang sebanyak itu dalam satu malam."
"Lah di kira aku gampang gitu? Dapat kan uang sebanyak itu hah? Aku sampai menguras habis tabungan ku mas!" Ucap ku berbohong.
"Banyak sekali uang mu."
"Ya iyalah, karena aku bekerja dan tidak pengangguran."
"Jaga bicaramu atau aku akan ..." Ucap nya terpotong.
"Apa? Berani kamu menampar ku, akan ku pastikan kamu kembali masuk ke dalam penjara." Ucap ku lantang.
"Dani ..." Teriak ibu dari luar.
Aku yakin jika ibu mendengar semua itu, bagus lah jika ia pun mendengar jadi tidak perlu aku berdebat apapun dengan nya.
Mas Dani keluar kamar dan mengahmpiri ibu di sana, ibu memarahi mas Dani karena berani kasar pada ku.
Aku yakin jika ibu melakukan itu semua karena ibu takut, takut jika aku benar-benar menjebloskan mereka lagi.
__ADS_1
Aku merebahkan tubuh ku di atas kasur, dan mulai terlelap tidur.