
Aku benar-benar emosi saat mengetahui bahwa Bella dulunya seorang simpanan, aku sangat membenci hal itu pasal nya dulu mantan istri ku pun menjadi simpanan pria hidung belang itulah sebab nya aku membenci nya.
Emosi ku tidak bisa di bendung lagi aku sangat marah dengan Bella hingga aku lupa batasan ku saat itu.
Aku menyiksa Bella habis-habisan sampai ia tidak berdaya lagi dan bahkan ia sampai berlumuran darah akibat ulah ku.
Ia pingsan di dekat ranjang dan di temui oleh ibu saat ingin mengajak Bella belanja, memang ibu dan Bella sangat lah dekat.
Ibu sangat menyukai Bella entah setelah mengetahui bahwa Bella bekas simpanan, ibu akan tetap suka atau malah justru menjauh dari nya.
Apa lagi Bella berniat kabur membawa kanza dan tanpa ragu ia meminta cerai dari ku, sungguh wanita yang sangat picik.
"Bella ayok kita ..." Ucapan dan langkah ibu terhenti saat membuka pintu kamar ku dan mendapati Bella sudah tidak bisa bangun lagi.
Lalu ibu menoleh ke arah ku yang masih memegang ikat pinggang di tangan, ibu langsung menjerit dan membuat ku panik.
"Astaga Eka ... Apa yang kamu lakukan terhadap Bella? Kenapa ia seperti itu? Ayah ... Cepat kemari dan tolong menantu kita ... Ayah ..." Teriak ibu.
Tak lama kemudian ayah muncul dengan sangat tergesa. Saat ayah akan menggendong Bella, aku berniat untuk membantu nya namun ayah tak mengizinkan aku dan menyuruh ku menjauh dari Bella.
Kenapa mereka semua membela istri ku ini? Apa yang sudah Bella perbuat hingga membuat kedua orang tua ku berpihak dengan nya?
"Biar aku yang gendong dia, ayah!" Ucap ku.
"Apa yang telah kamu lakukan ini Eka? Ayah tidak pernah mengajar kan melakukan seperti ini!" Bentak ayah.
"Dia itu pernah jadi wanita simpanan ayah, dan aku tidak suka itu."
Plakkkk
Ayah menampar ku dengan kuat, bahkan aku sampai hampir jatuh ke lantai.
"Aku tidak pernah mengajar kan anak ku melakukan hal keji seperti ini, dan asal kamu tahu! Bahkan p*l*c* sekali pun tuhan mampu memaafkan nya! Memang nya kenapa jika Bella mantan simpanan? Seharusnya sebelum kamu menikahi nya kau harus yakin bisa menerima semua kekurangan dan kelebihan nya!" Ucap ayah panjang lebar.
Setelah mengatakan hal itu mereka pergi meninggalkan aku di dalam kamar, masih dalam keadaan mematung tidak percaya dengan ucapan ayah.
__ADS_1
Aku merenungi semua perkataan ayah memang tidak suka jika terjadi kdrt di dalam rumah tangga nya maupun rumah tangga ku, aku tidak tahu kenapa aku bisa melakukan itu semua.
Rasanya aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lakukan barusan. Aku melihat ke kamar kanza namun tak ada orang satu pun, aku bingung mereka semua pergi kemana? Dan kenapa tidak ada satu pun di rumah ini? Apa mereka semua ketakutan dengan apa yang aku lakukan barusan terhadap Bella? Di tambah lagi ayah membawa nya saat dalam keadaan mengenaskan.
Aku menelfon ibu tapi tak ada jawaban sama sekali, aku menelfon baby sitter anakku pun sama hal nya tidak ada jawaban sama sekali dari mereka. Apa lagi jika aku menelfon ayah, yang ada aku akan semakin di marahi nya. Hingga akhirnya telfon ku pun di jawab oleh ibu.
"Ibu bagaimana keadaan Bella?" Tanya ku.
"Kamu datang kah ke rumah sakit kartika Husada."
"Apa ada yang serius ibu?"
"Cepat lah datang kemari."
"Baik ibu ..."
Aku langsung mematikan telfon dan langsung bergerak pergi menuju rumah sakit yang di tuju.
Aku masih memakai baju yang sama, baju yang saat menyiksa nya dan masih ada bercak darah di sana.
Plakkkk
Plakkkk
Ayah kembali menampar ku berulang kali dan aksi ayah kali ini berhasil mengundang perhatian orang yang ada di rumah sakit.
Ibu mencoba menenang kan ayah namun ayah sangat emosi, aku tidak tahu ayah emosi karena apa tetapi aku melihat di sana pun ada baby sitter dan bibi inem.
"Ada apa ayah?"
"Kau lihat ke ruangan yang ujung sana!" Tunjuk ayah. Menuju ruangan ICU.
Aku langsung menuju ruangan itu dan betapa terkejut nya saat melihat Bella terbaring di sana.
Aku kembali menghampiri ayah dengan ibu, aku memandang mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Bella kenapa bu?"
"Ia mengalami cidera otak dan alat kelamin nya rusak akibat tendangan dari mu yang cukup keras. Bagaimana jika keluarga nya tahu?"
"Jangan beritahu mereka ayah, aku tidak ingin kehilangan Bella."
"Ini semua karena ulah mu, apa kamu tahu jika ia sangat mencintai mu tetapi ia bersikap seolah ingin mengakhiri semua nya karena ia tidak ingin menganggu hubungan mu, ia bercerita semua nya pada ibu. Itulah sebab nya ibu dan ayah tidak mempermasalahkan semua itu. Tetapi kamu ..."
Aku diam mendengar perkataan ibu, sejahat itu kah aku sekarang? Kenapa aku melakukan hal itu pada Bella? Seharusnya yang berhak mendapatkan ini semua adalah sekretaris ku, kuat saja aku akan memecat nya menjadi karyawan ku besok.
"Aku akan tetap menemani mu di sini, Aurel tidak ada hubungan apapun dengan ku. Percayalah Bella. Aku tahu meskipun kamu sedang sakit tetapi aku tetap setia menunggu mu sadar."
Aku masih duduk memegang kunci kamar rawat Bella. Namun hal yang sangat harus ku tahu mengenai Bella.
Hingga akhirnya Bella tersadar dari tidur nya yang panjang, hati ini sangat senang karena ia sudah mulai pulih.
Namun, ia hanya diam melihat ku ada di samping nya ia hanya menetes kan air mata saat menatap ku.
"Sayang, maaf kan aku karena aku telah ..."
"Aku mau kita bercerai" Ucap nya.
Deg
Lagi-lagi ia mengucap kan kata yang tidak ingin aku dengar sama sekali. Aku diam mematung saat mendengar hal itu. Aku takut jika aku kembali membuat nya takut.
"Kamu masih sakit, jadi istirahat lah yang cukup" Aku bangkit dari duduk ku dan berniat pergi ke kantin untuk hanya sekedar minum kopi.
Selang beberapa lama kemudian aku kembali ke kamar rawat Bella, namun betapa terkejut nya aku saat melihat Bella sudah tidak ada lagi di tempat ia pergi di saat masih sakit.
Aku berlari memanggil suster untuk menanyakan kemana Bella pergi, namun ternyata mereka pun tidak mengetahui nya.
Aku menelfon ke rumah tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari mereka semua.
"Ya tuhan Bella maaf kan aku! Kamu dimana sayang" Gunam ku, aku terus mencari nya.
__ADS_1