
"Berapa? Katakan lah jangan takut."
"Kami di gaji tiga juta sebulan bu."
"Baik lah, saya akan gaji kalian sebanyak tiga juta setengah. Hitung-hitung bonus kalian, mulai bulan depan."
"Terimakasih banyak bu, kalau begitu kami permisi."
"Ya kembali lah bekerja, untuk mang Jajang. Mamang bisa nyetir mobil?"
"Bisa bu."
"Nanti siang teman kan saya mengambil barang di rumah lama, tapi sebelum itu kita ke hotel dulu untuk mengambil barang yang tertinggal."
"Siap laksanakan bu."
Mang Jajang sudah kembali ke post nya, aku melihat Tiara sudah berada di dalam kamar yang ia pilih sendiri.
Ia memilih kamar di atas bersampingan dengan kamar ku, sedang kan ibu memilih kamar di sebrang kamar kami berdua.
"Nak, apa kamu suka dengan kamar ini?"
"Aku sangat suka bu, nanti kalau boleh aku minta gambar kartun di dinding ya Bu."
"Tentu saja boleh sayang, nanti kita minta tolong mang Jajang untuk mencarikan tukang untuk menggambar nya."
"Oh ya, nanti siang ibu akan ke rumah lama untuk mengambil barang. Tolong bilang nenek mu ya sayang. Karena tadi ibu lihat nenek sudah tidur, mungkin kecapean."
"Siap bu, lalu sekolah ku bagaimana?"
__ADS_1
"Kamu akan sekolah tidak jauh dari rumah kita, ibu dengar Fajar juga sekolah di sana. Jadi kamu akan ada teman nya."
"Baik bu."
"Ibu keluar dulu ya sayang," ia mengangguk.
Aku masuk ke dalam kamar ku, dan merebah kan badan di atas kasur empuk ini.
Tiba-tiba hp ku mendapatkan notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal.
Ting!
["Ita, kamu ada di mana? dan dimana Tiara? Aku mencari kalin kemana-mana."] pesan dari nomor 0895xxxxx
["Ita, apa kamu sudah benar-benar ingin berpisah dengan ku? Tadi pagi aku mendapatkan surat dari pengadilan untuk bercerai. Apa kamu juga mendapatkan nya?"]
Secepat ini? Surat itu sudah keluar, aku menjadi semakin tidak sabar untuk menyandang status baru ku itu.
Aku dan mang Jajang sudah berada di rumah lama ku, terlihat rumah ini begitu banyak debu seperti tidak di rawat sama sekali. Bahkan rerumputan di depan rumah pun sudah tumbuh dengan sangat subur.
"Eh mbak Ita."
"Iya bu RT kenapa?"
"Saya dengar mbak Ita dan mas Dani akan bercerai ya?"
"Ya."
"Memang nya kenapa sih mbak? saya lihat mas Dani ganteng dan baik loh."
__ADS_1
"Ada masalah pribadi bu."
"Ya kalau ada masalah dalam rumah tangga itu wajar saja bu, namanya juga rumah tangga."
"Saya permisi ya bu mau beresin dulu barang-barang."
"Itu laki-laki siapa? Apa papah baru nya Tiara?"
"Bukan urusan ibu."
Rasanya kesal sekali mendengar komentar Bu RT itu, ia tahu apa sih tentang rumah tangga kami.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Mbak Ita ..." Teriak seseorang di luar pintu.
"Ya."
"Mbak mau pindah kemana?"
"Aku mau pindah rumah jeng."
"Yah jadi aku enggak ada tetangga lagi dong, mas Amar tidak mau ku ajak pindah, ia tetap bersikukuh ingin tinggal dekat dengan ibunya."
Ajeng adalah tetangga ku yang lumayan dekat, selama ini kami selalu mengobrol bersama. Ia sama seperti ku yang selalu di recoki oleh mertua mengenai segala hal. Bahkan lebih parah nya lagi Ajeng di katai mandul oleh ibu mertua nya itu.
"Mbak beneran cerai sama mas Dani?"
"Iya ..."
__ADS_1
"Ita ..."