Maduku Mantan Terindah Suamiku

Maduku Mantan Terindah Suamiku
Bab 18


__ADS_3

Hari ini aku berencana untuk mengajak ibu dan Tiara pergi melihat rumah baru, tadi malam kami sudah membicarakan semua nya dan Tiara pun ternyata sudah bosan berada di dalam kamar hotel ini.


Flashback


"Maaf kan ibu ya nak, karena ibu kamu harus bosan seperti ini."


"Tidak apa bu, aku baik-baik saja. Hanya sedikit bosan saja."


"Tenang lah nak, sebentar lagi kita pindah rumah. Nenek sudah tidak sabar ingin melihat rumah baru ibumu itu."


"Tidur lah dulu besok kita akan ke sana, tadi ibu sudah menelfon pak Sanusi untuk bertemu kembali di rumah itu."


"Asyik senang nya."


Aku melihat binar mata putri ku sangat bahagia, begitu juga dengan ibu. Ibu selalu menanyakan aku apakah aku baik-baik saja atau tidak.


"Nak, apakah kamu benar-benar tidak apa-apa sayang? Maksu ibu, kamu harus melewati semua ini dengan usaha sendiri. Maaf kan ibu mu ini yang sudah rentan nak ibu tidak bisa membantu mu dengan maksimal."


"Aku baik-baik saja bu, ibu tenang saja. Di komplek baru kita itu warga nya sangat ramah dan juga penjagaan ketat jadi kita tidak perlu khawatir dengan keamanan untuk Tiara."


"Maafkan ibu karena dulu ibu merestui mu menikah dengan laki-laki buaya itu, andai saja ayah mu masih hidup. Mungkin ia tidak akan membiarkan mu terluka seperti ini."


"Sudah bu, bapak sudah bahagia di surga. Lebih baik kita tidur saja dulu besok pagi-pagi kita pergi ke rumah yang baru."


"Selamat tidur nak."


Ibu bangkit dari duduk nya dan naik ke atas ranjang bersamaan dengan putri ku, mereka tertidur dengan sangat lelap.


Sedangkan aku? Aku masih harus mengetik. cerita ku, karena aku sudah mengambil libur selama tiga hari akibat mengurus semua ini seorang diri.


"Andai saja kamu tidak selingkuh dan memberikan ku nafkah yang layak mas, mungkin semua ini tidak akan terjadi" Ucap ku menyesali perbuatan mas Dani.


Flashback off

__ADS_1


Setelah ibu dan Tiara bersiap, aku membawa mereka menuju rumah baru di jalan karet.


Tiara tak hentinya berbicara tidak sabar untuk tinggal di rumah baru, ibu pun akhirnya ingin tinggal bersama kami setelah ia melihat betapa terluka nya hari ini akibat perbuatan mas Dani.


Aku sudah menceritakan semua nya pada ibu, tanpa ada yang ku tutupi lagi. Karena selama ini ibu hanya mengetahui jika aku tidak di berikan nafkah saja tetapi kali ini aku memberitahu nya bahwa ia berselingkuh dengan sang mantan kekasih.


Bahkan dengan tidak tahu malu nya mereka bertetanggaan, Ita yang selama ini diam saja melihat gelagat mas Dani yang aneh akhirnya memutuskan untuk meninggalkan semua nya.


Mobil milik nya yang dulu sudah ia jual, dan kali ini ia membeli mobil baru yang cukup untuk mereka bertiga dan barang-barang milik nya itu.


Sesampainya di sana ternyata pak Sanusi sudah menunggu kedatangan kami, di sana pun terlihat ia bersama istri dan anak laki-lakinya.


Tin ... Tin ...


Aku membunyikan klakson mobil untuk memberitahu satpam di rumah itu.


Kami turun dari mobil di sambung dengan senyuman hangat mereka bertiga.


"Selamat datang nak Ita" ucap wanita itu.


"Mari masuk bu,"


Kami semua masuk ke dalam rumah, ibu dan Tiara sibuk melihat-lihat isi rumah ini. Sedang kan aku memilih untuk mengobrol dengan beliau di ruang tamu, setelah puas berkeliling ibu dan Tiara kembali bergabung dengan kami.


"Ibu ... Aku sangat suka rumah ini, rumah ini luas dan ada kolam renang nya bu."


"Ibu juga setuju saja jika kamu suka maka lakukan lah nak."


"Jadi bapak sudah mendengar nya bukan? Saya juga suka dengan rumah ini, saya jadi membeli nya dengan harga yang sudah di sepakati kemarin."


"Alhamdulillah pak, akhirnya rumah kita terjual juga" ucap Bu Masinah istri dari pak Sanusi.


"Benar bu, Alhamdulillah."

__ADS_1


Kami melakukan ijab Kabul dalam jual beli, ruang ini ku beli dengan harga tiga ratus lima puluh juta dengan harga awal senilai lima ratus juta.


Pak Sanusi memberikan ku harga potongan yang fantastis, urusan surat menyurat Andi anak pak Sanusi yang mengurus nya.


"Kalau begitu terimakasih banyak ya bu dan nak Ita. Semoga kalian betah di rumah ini, jika kalian bosan di rumah main lah ke rumah kami hanya terhalang tiga rumah saja dari sini."


"Insyaallah, nanti kami akan mampir main ke rumah ibu."


"Nak Tiara main lah ke rumah ibu, di sana juga ada Fajar anak dari Andi. Ia juga baru saja bercerai tiga bulan lalu," ucap bu Masinah.


"Shutt bu, apaan sih?" Ucap Andi.


"Kan memang begitu adanya, ndi."


"Tidak apa bu, anak saya juga baru akan bercerai."


"Kami pamit ya bu, nak Tiara. Mari" ucap pak Sanusi.


Setelah itu aku dan mereka berdua masuk ke dalam rumah, saat di dalam rumah. Mang Jajang dan bi Neneng menghampiri kami.


"Bu, maaf jika saya lancang tapi saya harus mengatakan ini sekarang."


"Kenapa bi?"


"Kami mohon jangan pecat kami untuk bekerja di rumah ini bu."


"Lah siapa yang mau pecat kalian?"


"Ibu ..."


"Tidak, saya tidak akan pecat kalian. Kalian tetap lah bekerja di sini, tapi ..."


"Alhamdulillah, tapi kenapa bu?"

__ADS_1


"Saya tidak tahu berapa gaji kalian yang di berikan pak Sanusi."


"Kami di gaji ..."


__ADS_2