Maduku Mantan Terindah Suamiku

Maduku Mantan Terindah Suamiku
Bab 64


__ADS_3

Rasanya aku ingin mati saja aku tidak menyangka jika mas Eka sangat menyeramkan sekali, bahkan ia dengan brutal nya menghajar ku tanpa ampun sama sekali.


Hingga tubuh ini sudah tidak mampu lag untuk bertahan akhirnya aku tidak sadar kan diri, aku mencoba untuk tetap hidup karena masih ada Kanza yang membutuhkan ibu nya.


Aku sudah menceritakan semua nya pada papah dan mamah mertua namun belum dengan mas Eka, karena ia sama sekali tidak ingin aku membahas soal almarhum mas Dani.


"Mas ... Berdosa kah aku jika merindukan mu? Kamu memang mata keranjang mas, tapi kamu tidak pernah memperlakukan aku dengan buruk! Mas ... Boleh kah aku menyusul mu membawa anak kita?" Ucap ku dalam hati.


Hungga akhirnya aku tidak mengingat apapun lagi terkahir ingatan ku berhenti di saat mas Eka selesai memukuli ku tanpa ampun.


Aku tersadar saat sudah berada di rumah sakit, terlibat anakku Kanza dengan baby sitter nya sedang duduk menemani ku.


Aku tidak tahu mas Eka ada di mana, yang jelas terlintas dalam pikiran ku untuk kabur kan diri dari jeratan mas Eka. Aku tidak ingin semakin dalam mencintai laki-laki yang tidak pernah menghargai istri.


"Bi ..." Ucap ku lirih.


"Ya ampun nyonya! Alhamdulillah, nyonya sudah sadar" ucap nya sangat bahagia.


"Di mana semua orang?" Tanya ku lagi.


"Tuan sedang ke ruangan dokter, nyonya. Apa nyonya membutuhkan sesuatu?"


"Bantu aku pergi dari sini!"


"Hah? Tapi nyonya ..."


"Aku akan membayar mu berapa pun yang kamu minta, apa kamu memiliki ATM lain selain ATM yang biasa ku transfer uang gaji?"


"Ada nyonya, memang nya kenapa?"


"Kirim kan nomor rekening nya, tapi tunggu ..."


"Ini nyonya. Tadi saat sedang buru-buru ke rumah sakit tuan tidak sengaja menjatuhkan hp milik nyonya!"


"Oke terimakasih, mana sini kirim nomor rekening nya."


"Tapi apa akan baik-baik saja nyonya?"


"Ya, selagi kamu tidak banyak bicara. Ayok cepat sebelum mas Eka datang lagi."


"Ba-baik nyonya ..."


Setelah mengirimkan semua uang ku di ATM, aku langsung di bantu oleh nya untuk pergi dari ruangan ini.


Aku sebenarnya tidak apa-apa hanya saja aku sedikit trauma, dan aku melihat hasil pemeriksaan ku di atas meja.


Aku mengambil nya tanpa membaca nya lebih dulu, karena jika aku membaca sekarang aku takut jika mas Eka datang.


Aku berjalan dengan hati-hati karena ternyata di bagian bawahku sangat sakit sekali entah karena apa.

__ADS_1


Aku berhasil keluar rumah sakit dan langsung memanggil taxi yang ada di parkiran, beruntung tempat ku memanggil taxi tidak terlalu terjangkau oleh cctv rumah sakit.


Kami naik ke dalam taxi dan menuju bank terdekat. Aku menyuruh nya untuk mengambil uang yang tadi ku kirim kan dan langsung memblokir ATM milik nya.


Singkat cerita ...


Aku kini sudah berada di depan rumah ibu, aku pulang ke rumah ibu dengan baby sitter nya sekalian.


Namun, saat kami sampai aku menyuruhnya untuk pulang kampung dan tidak memberitahu siapapun mengenai ini semua, termasuk mas Eka dan kepolisian tetapi aku yakin jika mas Eka tidak akan berani melaporkan kepergian ku kepada polisi karena jika itu terjadi maka sama saja ia menyerah kan diri.


"Astaga nak ..." Pekik ibu.


"Ibu ... Bapak ..."


"Kamu kenapa sayang?" Tanya ibu masih histeris melihat keadaan saat ini.


"Bu, aku ..."


"Masuk nak dan ceritakan semua mandi dalam" titah bapak.


Saat kami sudah di dalam rumah lebih tepat nya berada di kamar ku, aku mulai menceritakan semua nya pada mereka.


Bapak marah karena mas Eka telah berani berbuat hal yang tidak pernah bapak perbuat selama ini.


"K*r*n* a*a* sekali si Eka itu, biar bapak kasih perhitungan dua!" Ucap bapak bangkit.


"Tidak pak ..."


"Aku ingin berpisah dengan nya bu, jujur saja aku takut dengan mas Eka. Andai waktu bisa di ulang aku pasti tidak akan meminta bercerai dari mas Dani, aku akan menerima jika mas Dani memadu ku dengan wanita lain!"


"Istighfar nak ... Dani sudah tenang di alam sana!"


"Lalu apa rencana mu?" Tanya bapak.


"Aku hanya ingin istirahat dulu bu, jika ada orang baru yang bapak atau ibu tidak kenal. Jangan buka pintu nya biar kan saja mereka, kita akan pindah dari rumah ini bu ..."


"Tapi nak, rumah ini kan saksi bisu kamu dengan Dani dulu! Bukan kah kamu sangat menyayangi rumah ini?"


"Ibu tenang saja rumah ini tidak akan aku jual, tadi aku sudah menarik uang dari bank mungkin cukup untuk membeli rumah yang tidak terlalu besar!"


"Baik lah, istirahat lah dulu nak. Kanza biar sama ibu saja! Itu baby sitter nya pulang kampung hari ini juga?" Tanya ibu.


"Siti ..."


"Ya bu ..."


"Kamu mau pulang kapan? Jangan lama-lama Siti bukan maksud ku mengusir mu hanya saja, aku tidak ingin melibatkan mu dalam masalah ini. Kau pergi lah bersama keluarga mu itu! Tapi ingat jangan bicara apapun pada siapapun mengenai aku dan keluarga mu!"


"Baik nyonya, mungkin sebentar lagi saya akan pulang. Saya merasa sedih karena harus pisah dengan Kanza padahal jika saya di izin kan terus menerus mengurs Kanza saya akan dengan senang hati meskipun tidak di gaji," ucap nya dengan lesu.

__ADS_1


"Istirahat lah dulu Siti di kamar Ningsih, kebetulan dia lagi pacaran sama supir nya tetangga!" Ucap ibu.


"Terimakasih oma."


Aku beristirahat di kamar ku yang sangat empuk ini, rasanya aku masih berasa mimpi dengan semua yang terjadi pada diriku ini.


Aku merasa jika ini semua adalah karma untuk ku, aku membuka map hasil pemeriksaan ku saat itu ku baca satu persatu surat itu hingga terkahir membaca salah satu dari semua itu.


Hampir membuat ku merasa dunia ini berhenti sejenak.


"Astaga ... Separah ini Efek dari apa yang kamu lakukan pada ku mas! Setelah ini siapa lagi yang akan menikahi ku?" Gunam ku.


Ku lirik Kanza sedang terlelap di sana, terbesit di dalam pikiran untuk mengakhiri semua ini.


Aku berjalan mencari pena dan kertas kosong, aku menulis beberapa kalimat di atas kertas itu.


Setelah selesai aku masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil pembersih lantai, aku mencampakkan sedikit pada susu anakku dan sisa nya aku yang minum.


Terlihat anakku kejang-kejang setelah meminum itu semua dan tak lama kemudian keluar buih dari dalam mulut mungil nya itu. Ku kecup kening anakku yang tertidur untuk selama nya.


"Maaf kan mami ya nak, mami hanya tidak mau jika kamu akan merasakan apa yang mami rasakan saat ini!"


"Ya tuhan ... Maaf kan aku karena aku sudah banyak berbuat dosa hingga kau tegur aku dengan begitu dahsyat nya."


Ucapan demi ucapan aku keluar kan sebelum akhirnya aku tidak akan pernah ada lagi di dunia ini, untuk selama nya karena aku akan menyusul mas Dani beserta anakku di sana.


Aku merasa tidak akan ada lagi yang mau bersamaku.


Aku mengambil mukena dan sholat taubat, setelah selesai dan masih mengenakan mukena yang lengkap. Aku pergi ke kamar mandi untuk mencari taki yang sekira nya kuat.


Sebelum itu aku meminum pembersih lantai terlebih dahulu dan aku memasukkan kepala ku ke dalam tali yang sudah bergantung di atas sana.


"Maaf kan aku ..." Ucap ku lirih.


Klinting ...


Brak ...


Kursi yang ku naiki terjatuh dan saat bersamaan busa keluar dari dalam mulut ku.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Nak ada apa?" Terdengar suara ibu di luar sana.


Aku masih memiliki kesadaran sedikit. Hingga ibu akhirnya menerobos masuk ke dalam kamarku.


Ceklekkk ...


Ibu membuka pintu kamar ku dan ia terkejut melihat ku ...

__ADS_1


"Astaga Bella ...." Teriak nya.


Aku tersenyum ke arah ibu dengan senyuman terakhir ku karena setelah ini aku tidak akan melihat senyum ibu lagi.


__ADS_2