
Hari persidangan pun tiba Ita dan Dani hadir di hari pertama persidangan. Kedua nya di tanyai oleh hakim apakah sudah bulat untuk bercerai atau tidak. Bahkan mereka juga di berikan waktu untuk mediasi namun Ita menolak nya dengan mentah-mentah.
"Tidak pak. Saya akan tetap bercerai dengan mas Dani."
"Kenapa sih dek? Kenapa harus bercerai? Bukan kah selama ini kita baik-baik saja?" Sangkal Dani.
"Oh ya? Masa? Lalu apa kabar hubungan gelap mu dengan mantan mu itu mas? Dan bodoh nya aku masih saja percaya bahwa mbak Dina itu hanya tetangga biasa namun nyatanya kalian berdua itu sudah menikah sirih dan lebih lagi kamu tidak memberikan ku nafkah."
Deg
Dani kaget bukan main mendengar penuturan dari Ita. Pasal nya ia sudah berusaha sekuat mungkin untuk menutupi perselingkuhan nya itu dengan Dina. Namun ternyata masih saja tercium oleh Ita. Bahkan ia juga tidak mengetahui bahwa Ita menyimpan banyak sekali bukti perselingkuhan nya selama ini.
"Kamu jangan ngarang deh dek."
"Bapak bisa putar kan video yang tempo hari saya berikan sebagai barang bukti untuk bercerai?" Tanya Ita pada bapak hakim di sana.
Setelah kurang lebih tiga puluh detik putaran video itu, Dani lagi-lagi di buat mati kutu oleh perbuatan Ita.
Ternyata Ita selangkah lebih maju daripada Dani, Dani benar-benar tidak bisa menebak pergerakan sang istri selama ini.
Bukan hanya itu, bahkan kwitansi dan lain-lain nya pun ikut serta menjadi barang bukti perselingkuhan Dani dan sang mantan.
"Itu semua tidak benar dek, mas bisa jelas kan."
"Saya akan tetap bercerai."
"Tapi dek, bagaimana dengan Tiara? Ia masih butuh sosok ayah."
"Silahkan saja datang jika nanti Tiara membutuhkan mu mas, tapi aku rasa ia tidak akan membutuhkan mu terkecuali saat ia akan menikah nanti nya. Tapi itu masih panjang, karena Tiara akan kuliah di luar negeri."
"Apa?"
"Apakah sudah pak hakim?"
"Baik lah, persidangan pertama kita sudahi dulu. Nanti kita lanjut kan lagi, untuk sidang kedua masalah hak asuh. Dan jangan lupa bawa anak nya datang agar ia memilih dengan sendirinya ingin ikut dengan siapa. Untuk kedua belah pihak di mohon tidak melakukan provokasi pada sang anak."
Tok ... Tok ... Tok ...
__ADS_1
Setelah selesai ia keluar ruangan persidangan, namun Dani terus saja mengikuti nya. Ia tidak terima dengan keputusan Ita yang akan menyekolahkan anak nya sampai ke luar negeri.
"Dek, kenapa sih kamu tidak berdiskusi dulu dengan mas."
"Apa yang perlu di diskusikan?"
"Masalah Tiara. Kenapa kamu main ambil keputusan saja akan menyekolahkan Tiara hingga keluar negeri?"
"Urusan nya dengan mu apa mas?"
"Aku ayah nya."
"Ayah yang selama ini tidak memberikan nafkah untuk sang anak?"
"Bu-bukan seperti itu dek."
"Lalu seperti apa?"
"Argh sudah lah, intinya Tiara harus ikut dengan mas titik."
"Dia tidak akan mau ikut dengan mu mas. Sudah ya, supir ku sudah menjemput sampai bertemu di persidangan kedua."
"Bro, Lo kenapa sih? Muka nya di tekuk aja." Tanya teman Dani yang mengenal kan Bella pada nya.
"Gue tadi abis sidang pertama dengan Ita."
"Lalu?"
"Ia tetap mau bercerai dengan ku."
"Bagus dong."
"Masalah nya ia juga akan membawa anak ku keluar negeri."
"Sudah lah bro, jangan di pikirkan toh sekarang Lo masih ada dua bini. Eh ngomong-ngomong Lo keren juga ya bisa mempersunting si Bella."
"Lah emang kenapa?"
__ADS_1
"Dia itu bukan sembarang wanita malam bro, gue udah berapa kali tawarkan dia ke teman-teman yang lain. Namun, ia menolak bahkan kata si mamih tuh ya. Dia paling mahal bro karena paling muda, eh si t41 ini malah nikah kan dia. Gimana pelayanan nya? Mantap ga?"
"Jelas mantap bro, gue sampe seharian full kemarin bikin adonan sampai-sampai gue lupa sama tuh bini kedua."
"anjir lo, bisa-bisa nya kata gitu. Eh kapan-kapan kita main ke rumah Lo ya."
"Rumah yang mana nih?"
"Anjir belagu ha ha ha, rumah Lo sama si Dina. Gue penasaran gimana bentukan istri kedua Lo sampe Lo tetep selingkuh."
"Boleh, nanti saja setelah selesai dari kantor kebetulan malam ini jatah bini kedua ha ha ha."
Kedua sekawan itu tertawa bersama, hingga tidak terasa pukul lima sore pun tiba. Mereka pulang ke rumah Dani dan Dina.
Dina yang sudah di beritahu oleh Dani pun sudah berdandan sangat cantik, ia menggunakan gaun merah selutut dengan riasan wajah natural yang menambah kesan cantik dan elegan pada nya.
"Gila, bini Lo cantik wey."
"Iya bener, kenapa lo masih mau sama si Bella?"
"Beda coy, Bella itu sangat wah pokok nya kalau Dina pun wah juga sih. Tapi seru juga kali ya gue buat mereka bermain bersama ha ha ha."
"Benar-benar sudah gila kawan kita satu ini bro."
"Ayok di makan" ucap Dina.
"Sayang kemari lah," ucap Dani. Dan menyuruh Dina untuk duduk di pangkuan nya.
"Woy bro hargai kita yang jomblo ini lah."
"Kenapa mau?"
"Ya mau ha ha ha."
Lagi-lagi mereka hanya tertawa bersama, lain hal dengan Dina yang cemberut akibat guyonan Dani dengan teman-teman nya yang menawari nya melayani kedua teman nya itu.
Dina merasakan hal berbeda dari Dani, ia merasa Dani sedah sangat berubah. Suami mana yang rela jika istri nya bermain dengan laki-laki lain? Tapi lain hal dengan Dani, ia malah menawari teman-teman nya itu.
__ADS_1
"Mas, kamu itu apaan sih?"