
Keesokan harinya aku keluar kamar untuk sarapan, saat ku lihat mas Dani masih tidur di atas sofa ruang tamu. Aku heran kenapa ia bisa tidur di sana sedang kan ia bisa saja tidur dengan istri baru nya itu di kosan.
Aku berlalu menuju dapur tanpa menghiraukan mas Dani, aku membiarkan nya bangun kesiangan untuk berangkat kerja. Rencana ku hari ini akan langsung ke pengadilan agama untuk membuat gugatan cerai dengan mas Dani.
Biar kan saja ia menjadi duda dua kali, aku tidak peduli itu
"Pagi bi," sapa ku pada bi inem.
"Pagi neng, mau sarapan?"
"Iya nih. Setelah ini mau keluar dulu!"
"Silahkan neng!"
"Makasih ya bi."
Aku makan dengan sangat lahap setelah selesai aku bangkit dan pergi menuju garasi mobil, saat melewati ruang tamu mas Dani masih terlelap hingga aku menghidupkan mesin. Ia langsung bangun dan berlari ke arah mobil ku.
"Dek, kamu mau kemana sepagi ini?"
"Dek. Buka kaca mobil nya, dek ..."
"Bella Saphira ..." Mas Dani berteriak sangat kencang. Namun, tidak membuat ku berhenti aku langsung menancap gas menuju pengadilan agama.
Setelah setengah jam berada di pengadilan, akhirnya aku bisa pulang. Saat di dalam ruangan mas Dani tidak henti nya menelfon dan mengirim kan pesan pada ku. Karena kamar utama kami di kunci aku sengaja mengunci nya agar ia tidak bisa masuk ke dalam sana dan mengambil surat-surat berharga ku.
Aku belum menyimpan semua nya di tempat yang aman karena tadi saat aku akan mengambil nya, aku takut jika mas Dani terbangun dan menghalangi ku lalu mengambil paksa semua itu.
[Dek, kenapa pintu kamar di kunci?]
[Dek, kamu dimana sih? Aku lapar, aku tidak bisa makan tanpa lihat kamu!]
[Bella sayang. Kamu marah ya? Mas, minta maaf ya karena sudah membuat mu marah seperti itu. Mas janji tidak akan mengulangi nya lagi, ayok dek pulang ke sini dan buka pintu kamar! Karena mas harus mandi dan berangkat ke kantor, tidak mungkin kan mas mandi dan bersiap di kamar pembantu]
[Ayok lah Bella jangan egois seperti itu, kamu juga harus memikirkan bagaimana keadaan anak kita di dalam sana!]
Begitu lah bunyi nya pesan dari mas Dani, saat aku sampai di rumah ternyata ia masih menunggu di depan.
Aku berjalan masuk ke dalam tanpa menghiraukan keberadaan nya di sana.
"Dek, kamu dari mana sih? Kenapa tidak menjawab telfon ku?"
Aku diam.
__ADS_1
"Dek, kalau di tanya itu ya jawab lah jangan kaya gini. Mau kamu jadi istri durhaka?" Aku menoleh ke arah nya dengan tatapan tajam.
"Apa kamu bilang? Aku istri durhaka? Lantas suami macam apa kamu? Pantas saja mbak Ita menceraikan kamu, rupa nya begitu kelakuan kamu di luar sana mas!"
"Jaga ucapanmu itu Bella, atau aku akan ..."
"Akan apa mas? Akan menampar ku begitu? Silahkan jika itu mau kamu, lagian ngapain sih kamu pulang ke rumah ini?"
"Ini rumah ku dek."
"Apa kamu lupa jika saat membeli itu semua atas nama ku? Dan aku sudah mengganti nya dengan atas nama bapak."
"Kenapa kamu lancang sekali dek?"
"Karena kamu yang memulai semua nya, andai saja kamu tidak bermain api dengan si Ria itu."
"Da-dari mana kamu tahu tentang dia?"
"Mas, aku bukan wanita bodoh yang selalu manut saja apa kata mu ya. Semua kata sandi sosial media mu ada di hp ku, apa kamu lupa juga soal itu? Oh wajar sih lupa karena kamu selalu mengingat j4 l4 n6 itu daripada anak istri di rumah!" Aku berlalu meninggalkan mas Dani yang mematung di sana.
"Dek, tunggu aku bisa jelas kan semua nya dek."
"Pulang lah ke rumah istri muda mu itu mas, dan tunggu saja surat pengadilan perceraian kita datang."
"Kamu tidak bisa mencerai kan aku, karena aku yang berhak melakukan itu. Aku kepala rumah tangga di sini!"
"Kamu tidak pantas di sebut kepala rumah tangga mas, kamu lebih cocok di sebut p3 l4 cur."
"Sekali lagi kamu bilang kaya gitu ku robek mulut mu itu."
"Silahkan, kalau pun aku mati sekarang itu karena aku sudah tidak mau lagi hidup dengan mu mas."
Jederr ...!
Aku membanting pintu kamar dengan sangat kuat, hingga pasti terdengar juga oleh para pekerja ku.
Aku menagis sejadi-jadinya di kamar, aku menyesali pernikahan ini hanya bertahan sebentar saja.
Aku tidak ingin membuat batin ku dan juga anakku tersiksa, lebih baik aku mengalah demi kebaikan kami berdua. Setelah perceraian ini, rumah kado pernikahan kami akan aku jual dan aku akan membawa ibu dan bapak untuk pindah dari kampung
Setelah beberapa menit berlalu tidak terdengar lagi suara mas Dani yang memanggil ku dari luar kamar, aku penasaran dan membuka pintu ternyata ia sudah tidak ada di sana.
Aku menuruni anak tangg untuk mengambil buah yang segar di kulkas, saat aku sedang mengupas buah tiba-tiba bi inem menghampiri ku di dapur.
__ADS_1
"Neng, tadi mas Dani menitip pesan kata nya ia akan pulang ke rumah ibu nya. Dan jika neng susah membaik di suruh meneflon beliau."
"Makasih ya bi."
"Baik neng yang sabar ya!" Aku mengangguk sambil tersenyum ke arah nya.
Aku tidak akan menghubungi mu sekarang mas, aku tidak mau hidup terlalu dengan semua ini.
Aku bermain hp dan membuka kembali sosial media milik mas Dani, dan benar saja mereka sekarang sudah menjadi sepasang suami istri karena di nikah kan oleh ketua RT di sana.
Aku bersimpuh menangis menahan semua ini, aku tidak kuat dengan semua yang terjadi saat ini.
Pernikahan yang ku impikan akan bertahan hingga kake Nene nanti, ternyata akan kandas di tengah jalan seperti ini.
"Mas Dani ... Kenapa kamu tega ..."
"Kamu jahat mas ... Aku pikir kamu sudah berubah, tapi nyata nya kamu masih tetap sama saja."
"Aku benci sama kamu mas," racau ku.
Aku menangis di depan kulkas yang tengah terbuka setengah hingga hampir satu jam lama nya.
Setelah puas menangis aku kembali ke dalam kamar, aku memberih kan tubuh ku dan bercermin di sana.
"Aku cantik aku bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari mas Dani."
Tok ... Tok ... Tok ...
"Neng, ayok makan dulu. Jangan membiarkan kelaparan seperti itu tidak baik."
"Iya ini mau keluar ko."
Ceklekkk
Aku membuka pintu dan terdapat bi inem di sana.
"Di bawah ada mas Dani dengan seorang wanita!"
"Siapa?"
"Bibi kurang tahu neng."
Karena aku penasaran jadi aku memutuskan untuk melihat nya dan saat aku turun ke bawah ternyata wanita yang bersama mas Dani ...
__ADS_1
"Kamu ..."