Maduku Mantan Terindah Suamiku

Maduku Mantan Terindah Suamiku
Bab 49


__ADS_3

Mami melihat kedatangan kami berdua langsung menghentikan makan nya, dan menyuruh Tiara untuk masuk ke kamar lebih dulu karena ia ingin membicarakan sesuatu pada kami.


"Nak tunggu dulu di kamar ya!" ucap ku.


"Baik bu, nenek. Oma. Aku ke kamar dulu ya."


"Iya sayang." Ucap ibu dan mami.


Setelah Tiara tidak bersama kami lagi, mami langsung mengutarakan apa yang ia ingin sampai kan ada kami.


"Nak, alangkah lebih baik nya kalian percepat saja nikah nya" Ucap mami.


"Kenapa begitu mi?"


"Mami hanya khawatir jika mantan suami dari Ita akan menggangu kalian lagi, apa lagi mami melihat ibu nya yang silau dengan harta yang di miliki Ita. Bukan begitu jeng?" Ucap mami sambil menoleh ke arah ibu.


"Benar kata ibu mu itu Wahyu, kita percepat saja pernikahan nya."


"Tapi bu, bukan kah kita tinggal menunggu satu Minggu lagi?" Tanya mas Wahyu.


"Kita nikah sirih saja dulu, setelah itu kalian nikah resmi nanti seminggu lagi."


"Benar kata mami, sayang! Apa kamu mau kita menikah siri dulu?" Tanya mas Wahyu.


"Aku sih terserah mas saja, jika itu yang terbaik maka aku akan ikut."


"Baik lah lusa kita nikah kan mereka jeng!"


"Hah lusa?" Aku kaget saat mendengar penuturan mami yang mengatakan jika akan menikah kan ku dan mas Wahyu lusa.


Sedang kan kami tidak memiliki persiapan apapun untuk melaksanakan itu semua.


"Apa ada masalah sayang?"


"Bukan begitu mas, lagian kita belum menyiap kan apapun untuk itu semua!"


"Tidak perlu repot-repot, kita hanya perlu maskawin saja untuk syarat. Kata kan lah pada mami maskawin apa yang kamu ingin kan?"


"Aku tidak menginginkan apapun itu, aku hanya ingin sprangkat alat sholat saja."


"Oke nanti mami akan siap kan, untuk sekarang kalian jangan kemana-mana dan besok jangan bertemu dulu!"


"Kenapa?"


"Karena lusa kalian menikah! Tidak baik Calok pengantin kelayapan."

__ADS_1


"Baik mi."


"Kalau begitu kami permisi pulang dulu jeng, ingat ya sayang. Semua ini mami lakukan hanya demi kebaikan kalian semua."


"Iya mi."


Aku dan ibu mengantar kan mas Wahyu dan mami sampai depan rumah, aku masih belum bisa berpikir jernih dengan semua ini.


Aku tidak menyangka kedatangan mas Dani membuat ku dan mas Wahyu semakin mempercepat pernikahan kami berdua.


Saat di dalam rumah aku, ibu dan Tiara mengobrol kan semua ini. Tiara setuju dengan pemikiran mami karena memang dasar nya anakku itu tidak suka jika aku kembali dengan ayah kandung nya.


Hari pernikahan tiba ...


Hari ini hari yang paling menegang kan bagi ku dan mas Wahyu, bagaimana tidak? Hari ini aku dan dia akan menikah, dan nanti status ku akan berubah menjadi istri orang.


"Ibu sangat cantik sekali." Ucap Tiara.


"Anak ibu juga cantik!" Ia tersenyum lebar pada ku.


"Nak, kalau pun nanti ibu dan papah mu sudah memiliki adek bayi. Tapi kehatahui lah bahwa rasa sayang ibu dan papah akan tetap sama untuk Kaka."


"Iya bu, lagian aku sudah besar aku bisa tinggal di rumah nenek atau mami nanti."


"Benar kah anak ibu sudah besar?"


"Apa anak ibu sudah memiliki pacar?"


"Tidak bu, papah bilang jangan pacaran dulu karena aku baru saja mau lulus SMP aku harus membanggakan orang tua dan keluarga dulu."


"Papah mu benar, kamu harus menjadi anak kebanggaan kami semua. Bukti kan pada semua orang jika kamu bisa dan tetap rendah hati dengan sesama."


Sampai tiba waktu nya ijab kabul, aku semakin dag dig dug rasanya tidak karuan.


"Bagaimana sah?"


SAH


SAH


SAH


"Alhamdulillah ..."


Mereka semua berdoa di ruang tamu, sedangkan aku menunggu di kamar tamu depan.

__ADS_1


Kini tiba saat nya aku di panggil ke depan untuk bersanding dengan mas Wahyu yang kini menjadi suami ku.


Aku tersenyum malu-malu meskipun kami sudah kenal dengan dekat tetapi aku tetap saja malu jika berhadapan seperti ini dengan nya.


Saat kami sedang berbahagia tiba-tiba mas Dani muncul dengan mantan ibu mertua, mereka tidak terima aku menikah secepat ini dengan mas Wahyu.


"Pernikahan ini tidak sah!" Ucap mas Dani lantang.


"Apa maksud mu?" Tanya mami, karena ibu selalu lebih memilih untuk diam.


"Wahyu sudah memiliki anak, dan bahkan Ita menjadi sumber masalah nya. Wahyu meninggalkan wanita itu yang sedang hamil demi menikahi mantan istri ku ini! Memang ya dasar buaya darat yang hanya mau harta nya saja!"


Wah lancar sekali mas Dani bicara, dan apa kata nya tadi? Mas Wahyu menghamili wanita lain? Siapa? Apa Lidya? Karena selama ini hanya Lidya yang selalu mengangguk kami semua.


"Jaga ucapanmu itu karena jika tidak aku akan melapor kan mu pada polisi atas kasus pencemaran nama baik dan menganggu ketenangan kami!" Ancam mas Wahyu..


"Aku bicara dengan jujur, tadi kami bertemu perempuan itu di sini. Ia mengintip dari balik jendela karena ia tidak ingin menganggu acara pernikahan kalian! Sungguh picik sekali kalian itu."


Aku mengedarkan pandangan ku melihat-lihat siapa yang mas Dani maksud kan, namun aku tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di sana.


"Mas, apa samua ini ulah Lidya?" Tanya ku berbisik.


"Kamu benar! Selama ini hanya dia yang selalu saja mencari masalah dengan kita selain Dani."


"Lalu apa yang akan kita lakukan?"


"Kamu tenang saja dulu!" Lalu mas Wahyu mengeluarkan hp nya dan menghubungi seseorang.


"Jangan mencari pembelaan lah, kamu itu sudah ketahuan menghamili orang lain. Bukan nya menikahi wanita itu malah merebut istri ku!" Ucap mas Dani lagi.


Tak berselang lama muncul kedua bodyguard mas Wahyu dengan menyeret Lidya ke hadapan kami. Secepat ini mas Wahyu mendapatkan Lidya?


"Apa dia wanita yang kamu sebut kan tadi?" Tanyaas Wahyu pada mas Dani.


"Ya, mbak ini tadi bilang jika ia sudah hamil dengan mu."


"Tolong ya para tamu undangan yang terhormat, di sini saya akan meluruskan semua ini. Dia Lidya, dia mantan saya dulu sewaktu kuliah dia sudah menikah dengan laki-laki lain tetapi bercerai memang saat ini dia hamil tetapi bukan anak saya karena semenjak putus saya langsung dengan Ita."


"Apa sih kamu mas? Ini itu anak kamu tahu!" Sangkal Lidya.


"Apa perlu aku panggil kan polisi untuk membuat mu mengaku?"


Seketika wajah Lidya memerah menahan amarah pada suami ku ini, aku tahu ia marah sekaligus malu. Karena di rumah ini banyak saudara dan rekan kerja mas Wahyu.


"A-aku ..."

__ADS_1


"Aku benci dengan ayah!" Ucap anakku lantang. Seketika kami semua menoleh ke arah nya terkejut.


__ADS_2