Maduku Mantan Terindah Suamiku

Maduku Mantan Terindah Suamiku
Bab 39


__ADS_3

Aku tidak bisa menerima semua ini, mas Dani sungguh keterlaluan pada ku! Apa dia juga tidak sadar jika ia dulu seperti apa? Bahkan dengan bangga nya dia menggunakan uang milik Ita istri pertama nya itu.


"Aku harus melakukan sesuatu untuk membalaskan semua nya, ia tidak bisa hidup bahagia seperti ini. Ia harus merasakan betapa sakit nya hati ini ia perlakuan seperti itu" ucap ku dalam hati.


Aku duduk termenung di tepi balkon maratapi semua yang terjadi, semua kebahagiaan yang ku dapat kan sebelum nya ternyata hanya lah sesaat.


Hanya karena aku belum mau memiliki anak mas Dani mencampakkan ku seperti itu, tak terasa hingga subuh tiba aku masih duduk di tepi balkon depan kamar ku.


Angin di subuh hari menusuk langsung masuk ke dalam tulang ku, mata ku memerah dan sembab. Aku yakin saat ini ibu mertua ku sudah mengetahui tentang semua ini.


Entah apa yang ia akan lakukan nanti nya, pukul enam pagi aku baru bisa memejam kan mata ku hingga pukul satu siang tiba.


Saat aku bangun rasanya badan ini remuk aku putuskan untuk mandi dan membersihkan semua ini, karena jika bukan aku siapa lagi? Kedua orang tua ku sudah meninggal dunia aku hanya hidup seorang diri. Sebenarnya aku bisa saja hidup tanpa mas Dani, hanya saja cinta ini yang membuat ku seolah tidak bisa bertahan tanpa sosok mas Dani di hidup ku.


Seperti biasa aku menggunakan daster selutut dan tanpa dalaman, ku pikir hanya aku saja di rumah ini tanpa ada orang lain.


Saat aku sedang mengepel lantai, tiba-tiba pintu depan di ketuk oleh seseorang dan saat ku lihat ternyata pak RT.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Permisi bu Dina ..."


"Ya pak RT ada apa?"


"Seperti biasa, saja mau menagih uang iuran bulanan komplek ini."


"Oh tunggu sebentar ya, silah kan duduk dulu pak RT.


"Oh ya makasih bu Dina!"


Aku masuk ke dalam kamar di lantai atas dan membuka lemari tempat penyimpanan uang, namun ada satu benda yang menarik perhatian ku.


Ya benda kotak sepatu kubus namun berwarna hitam, aku mendekat dan mengambil benda itu.


"Apa ini? Cctv? Siapa yang memasang nya? Apa mas Dani?" Aku bertanya-tanya dalam hati ku.


Ku ambil benda itu dan ku geprek menggunakan palu yang ada di kamar gudang lantai dua.


Aku melihat-lihat setiap sudut rumah karena takut jika ada cctv yang lainnya, dan ternyata memang benar ada. Ada beberapa benda kotak itu yang tersimpan rapih di tempat nya, terutama di atas lemari ruang tengah yang dapat melihat ke setiap penjuru ruangan.


Aku mengambil semua benda itu termasuk yang ada di dapur, aku kembali menggeprek nya hingga hancur. Setelah selesai aku menghampiri pak RT yang masih duduk menggu.


Saat ku lihat-lihat pak RT tampan juga, apa lagi ia menggunakan celana trening seperti itu. Benda menonjol di bawah sana menambah kesan macho pada pak RT. Bahkan ia juga terlihat masih muda tidak terlalu tua amat seperti Bu RT.


"Maaf lama pak, ini uang nya." ucap ku sambil menyodor kan uang lima puluh ribu.


"Makasih ya bu Dina."


"Sama-sama," aku berbalik mengambil pel di dekat pintu kamar tamu.


"Bu Dina ..."


"Ya pak RT apa ada lagi?"


"Maaf, kemarin saya dengar Bu Dina dan pak Dani ribut. Apa semua baik-baik saja?"


"Oh itu, biasa lah pak RT rumah tangga."


"Oh begitu, apa saya masih boleh mencicipi bu Dina?" Tanya nya langsung.


Aku diam terpana saat mendengar pertanyaan nya itu, saat ini semua cctv sudah musnah. Mas Dani pun sudah mencerai kan ku.


Tidak ada yang tahu mengenai skandal ku dengan pak RT sekarang.


"Istri saya sedang pulang kampung selama satu bulan, saya kesepian di rumah seorang diri."


"Lalu?"


"Saya juga mendengar bahwa pak Dani mencerai kan bu Dina."


"Iya memang benar, lalu?"


"Kita bisa bebas melakukan nya."


"Tapi kali ini tidak gratis, karena saya sebentar lagi akan menjadi janda. Tidak ada yang menafkahi saya."


"Tidak masalah, berapa yang bu Dina minta saya akan memberikan nya."


"Saya mau lima juta semalam."


"Apa tidak bisa kurang? Lima juta untuk lima hari, bagaimana?"


"Hmmm baiklah, berhubung saya janda jadi tidak masalah."


"Oke kalau begitu, besok kita ketemu di hotel tempat biasa!"

__ADS_1


"Ya, jam tujuh malam saya berangkat."


"Permisi."


Pak RT pergi meninggalkan ku di rumah, aku kembali melanjutkan pekerjaan ku yang sempat tertunda tadi.


Aku tidak peduli dengan masa idah ku yang belum selesai, yang penting aku bisa mendapatkan uang untuk menambah modal ku di toko.


Setelah selesai aku mencari-cari kembali di berbagai sudut ruangan karena aku masih yakin jika mas Dani masih menyimpan benda itu, setelah puas mencari benar saja masih ada lima ccvt berukuran kecil yang menyelip di pot bunga dan boneka.


Aku kembali membereskan semuanya, aku mengambil sertifikat rumah dan surat-surat penting lain nya.


Bodoh nya mas Dani membiar kan sertifikat rumah ibu nya berada di rumah ini, dan tentu saja aku sudah mendapatkan tanda tangan mas Dani saat kami belum bertengkar hebat.


Aku pergi ke notaris dan menjual rumah milik sang ibu mertua, bukan hanya itu saja aku juga pergi ke perusahaan milik mas Dani untuk membuat nama nya hancur.


Setelah selesai menjual rumah itu, dengan cepat uang hasil penjualan masuk ke dalam rekening ku.


"Rasain kamu mas, kamu sih main-main sama aku."


Aku melajukan mobil ku menuju kantor milik mas Dani, kantor yang sangat megah dan besar.


"Permisi mbak, saya mau bertemu dengan CEO perusahaan ini." ucap ku pada resepsionis.


"Maaf apa ibu ini sebelumnya sudah membuat janji?"


"Belum sih, tapi saya teman beliau sewaktu SMA."


"Oh begitu, baik tunggu sebentar ya bu."


"Iya pak, oh baik pak."


Tak lama kemudian resepsionis itu memanggil nama ku, dan mengantar kan ku bertemu dengan CEO perusahaan nya.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Masuk ..."


"Permisi pak, saya mau mengantar kan tamu bapak."


"Oh ya makasih."


Aku melenggang masuk ke dalam ruangan besar itu, di sana terdapat seorang pria yang sangat tampan dan tentu nya banyak uang.


"Silah kan duduk."


"Sama-sama, saya tidak mengenal anda. Kenapa anda mengaku teman SMA saya?"


"Saya hanya ingin bertemu dengan anda itu saja."


"Sekarang sudah bertemu lalu ada apa?"


"Saya tahu permainan anda di Surabaya bersama kedua karyawan anda, bahkan sekretaris anda adalah mantan pacar anda sekaligus istri sirih anda. Bukan begitu?"


"Da-dari mana kamu tahu? Apa Anton atau Dani yang memberitahukan nya?"


"Saya melihat nya sendiri, oh ya. Perkenalkan saya Dina mantan istri Dani."


"Dina? Mantan istri Dani?"


"Ya."


"Setahu saya istri dari Dani itu Ita bukan Dina."


"Ia berselingkuh dengan saya, dan menikah lalu mencerai kan saya."


"Dani mencerai istri yang secantik dan seseksi anda? Sungguh bodoh anak itu."


"Benar kah saya cantik?" Aku bangkit dari duduk ku dan berjalan mendekati nya."


"Tentu saja."


"Tapi sayang nya mas Dani tidak bersyukur memiliki ku." Ucap ku lagi, kali ini aku sudah duduk di atas pangkuan nya dengan mengangkang kaki.


Aku menggunakan dres hitam di atas lutut.


"Kamu mau apa cantik? Jangan memancing ku, karena itu akan membuat mu menyesal."


"Aku tidak memancing mu tampan, jika kamu menginginkan nya maka lakukan lah. Tapi dengan satu syarat!"


"Benar kah? Kata kan apa itu?"


"Pertama, berapa gaji mas Dani selama ini?"


"Sekitar tiga atau lima puluh juta."

__ADS_1


Deg


Ternyata mas Dani selama ini membohongi ku, uang sebanyak itu hanya memberikan ku sebanyak lima juta.


"Aku mau gaji mas Dani masuk ke dalam rekening ku, dan memberi kan nya sebanyak lima juta."


"Lalu?"


"Apa itu bisa?"


"Saya bisa atur itu. Cepat katakan, aku sudah tidak tahan kasian yang di bawah sudah semakin tegang."


"Aku setelah semua itu, aku mau mas Dani di pecat tanpa pesangon apapun."


"Lalu bagaimana jika ia membocorkan rahasia ku pada istri pertama ku?"


"Anda pintar dan banyak uang, anda bisa melakukan apa saja bukan?"


"Baik lah, apa sudah?"


"Bermain dengan ku tentu ada harga nya bukan?"


"Tentu saja, semua permintaan mu itu akan segera di laksanakan. Tapi kamu harus menjadi selir ku, jujur saja aku sudah bosan dengan istri kedua ku itu. Sekarang ia sedang mengandung dan aku tidak bisa melakukan itu."


"Bisa saja, tapi aku tidak ingin memiliki anak!"


"Bagus itu, tapi jika nanti aku menginginkan mu mengandung anakku maka kamu harus melakukan itu. Jika tidak, aku akan melapor kan mu pada polisi atas kasus penipuan."


"Aku juga bisa melaporkan mu atas kasus perselingkuhan."


"Oke-oke baik lah, sudah? Jika sudah kita lakukan sekarang."


"Ya."


Ia langsung memasukkan semua nya ke dalam milik ku tanpa aba-aba, perih pedih semua bercampur jadi satu.


Setelah lima belas menit berlalu ia meracau tidak tentu dan akhirnya ia menyembur kan lahar itu di dalam sana dan tiba-tiba ...


Tok ... Tok ... Tok ...


"Siapa?" Tanya nya. Yang kebetulan kami berada tepat di belakang pintu.


"Saya Anastasya, pak."


"Ada apa?"


"Ada berkas yang harus bapak tanda tangani."


"Tunggu."


"Baik pak."


Ia mencabut nya dan menggunakan celana nya kembali. Begitu juga dengan ku.


"Ayok kita ke kursi saya, saya masih ingin menikmati mu."


Kami menuju kursi tempat nya duduk, ia duduk di atas kursi sedangkan aku duduk di bawah dengan m3 n6u Lum milik nya.


"Ma-masuk ..." Ucap nya terbata.


Ceklekkk


"Ini pak berkas nya silahkan di baca dulu."


"Ba-baik lah."


"Ahh ..."


Tanpa sengaja ia mengeluarkan suara itu, dan membuat sang pegawai heran dengan nya.


"Apa bapak baik-baik saja?"


"Ya, sa-saya baik-baik. Sudah?"


"Sudah pak, terimakasih banyak."


"Ya."


Ia melihat ke bawah dan menarik ku untuk duduk di pangkuan nya. Setelah setengah jam berlalu ia mengakhiri semuanya dan memberikan ku uang sebanyak sepuluh juta.


"Pergi lah, karena sebentar lagi jam istirahat tiba. Semua pegawai akan keluar menuju kantin, gunakan masker agar tidak bertemu dengan Dani dan membuat nya curiga. Karena jika ia curiga maka rencana mu akan gagal!"


"Baik, terimakasih sayang!"


Aku melenggang keluar dari ruangan itu, sebelum itu aku sudah merapikan semua nya lebih dulu begitu juga dengan baju dan rambut ku.

__ADS_1


Aku keluar menggunakan masker sesuai instruksi nya, dan benar saja saat aku sudah sampai loby semua karyawan keluar menuju arah kantin. Terlihat juga mas Dani bersama teman nya yang saat itu ke rumah ku.


"Kita lihat saja mas, sebentar lagi kamu akan mendapatkan semua balasan nya" gunam ku dalam hati.


__ADS_2