
Aku bingung harus bagaimana lagi karena setalah ini ibu sudah tidak ingin lagi mengurus ku, dan bahkan ia bicara bahwa ia akan ikut Yoga yang entah kemana.
Saat aku sedang termenung memikirkan semua nya dengan Ira tiba-tiba di luar sana sudah ramai penduduk.
Ku bangkit dan keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi, saat aku keluar betapa terkejut nya aku ketika banyak warga yang mengamuk pada ku.
"Nah ini dia pe z*n* nya, ayok bawa dan usir dia dari sini" ucap salah satu warga. Aku kaget mendengar itu semua sekaligus heran kenapa mereka bisa tahu? Apa dari Yoga? Karena tadi ia sempat merekam kami berdua.
"Apa kalian hanya fitnah" Sangkal ku.
"Kami memilik saksi"
"Aku melihat dan mendengar nya sendiri jika dia sedang main kuda dengan Ira, sungguh men j1 J1 k4 n sekali."
Deg
Ternyata ada yang melihat kami sedang melakukan itu semua, saat suasana masih riuh Ira keluar dan ikut berkumpul dengan kami di sana.
"Nah itu wanita nya ..."
"Astaghfirullah nakk kenapa kamu membuat ibu dan bapak malu nak?" Ucap seorang wanita yang pasti itu adalah ibunya Ira.
"Maaf kan Ira, bu ..."
"Ayok lepas kan semua baju mereka dan kita arak keliling kampung, kita tidak mau jika di kampung ini ada yang seperti mereka lagi."
"Ampun bu, jangan ..." Ucap Ira. Pada ibu-ibu yang mulai melakukan aksi nya.
Dan bapak-bapak melakukan aksi mereka pada ku, aku heran kemana ibu dan Yoga? Apa mereka sengaja tidak ingin membantu ku? Sungguh aku merasa tidak berguna memiliki keluarga.
Aku di arak keliling kampung, Ira tak henti nya menangis dan menyalah kan atas apa yang terjadi tadi.
Setalah beberapa saat kami di perbolehkan memakai pakaian kami kembali, tetapi kami juga tidak di perbolehkan untuk tinggal di kampung ini lagi.
Aku menemani Ira mengambil pakaian nya di rumah, setelah ia menunggu ku mengemasi pakaian.
__ADS_1
Bahkan saat aku sudah ingin pergi pun ibu dan Yoga tidak keluar kamar mereka, mereka masih diam di kamar seolah tidak terjadi apa-apa.
Sesampainya di rumah Ira yang sangat besar sekali, aku baru tahu jika Ira anak dari orang kaya.
"Assalamualaikum," ucap Ira.
"Waalaikumssalam" Ucap ibu nya.
"Itu baju mu dan cepat pergi dari sini!" Ucap ayah Ira.
"Ayah maaf kan Ira."
Plakkkk
Satu tamparan melayang di pipi Ira, aku terkejut melihat ini semua. Lalu ayah nya menoleh ke arah ku.
plakkkk
Ia menampar ku juga dengan sangat kuat, mata nya melotot melihat ke arah ku dan Ira bergantian.
"Dasar tidak tahu malu, sudah tua juga masih saja seperti itu. Dan lihat akibat perbuatan mu! Anak ku Ira kini sudah tidak bisa lagi hidup dengan kami, bahkan ia tidak bisa menikah dengan pria lain. Apa kamu berpikir akan seperti ini jadi nya?"
Bugh
Satu pukulan mendarat pada ku, Ira yang melihat itu menjerit kaget dengan apa yang terjadi saat ini.
"Pergi kalian!" Bentak sang ayah.
Aku dan Ira bangkit dan keluar, Ira membawa mobil milik nya dan tentu saja aku yang membawa nya.
Kami keluar kampung tanpa tahu arah dah tujuan selanjutnya, ku lirik Ira masih saja menangis berbeda saat kami melakukan nya. Ia sangat bahagia dan berbinar.
Semua aman terkendali tanpa ada apapun yang menghambat kami di perjalanan, meskipun pada kenyataannya kami sama-sama bingung harus kemana arah dan tujuan ini.
Aku tidak tahu harus membawa nya Ira karena ia sejak tadi hanya diam menangis, sesekali aku menegur nya agar tidak menangis terus karena mengganggu konsentrasi ku membawa mobil.
__ADS_1
Suasana jalanan terbilang sepi tidak seramai seperti biasa nya, bahkan tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang hilir dan mudik.
Ira terlelap setelah sepanjang jalan menangis, sedang kan aku masih menyetir meskipun mata ini sudah terasa berat. Namun, jika aku berhenti sekarang tidak ada tempat untuk sekedar parkir sebentar karena posisi kami saat ini sedang berada di jalan tol.
Aku mengambil hp ku dan menyetel musik agar aku tidak terlalu mengantuk, terlintas teringat masa lalu dengan para istri ku yang mungkin sekarang mereka sudah bahagia dengan kehidupan nya saat ini.
Sedangkan aku? Aku masih begini-begini saja! Saat di lampu merah aku bisa beristirahat sejenak hanya sekedar meregang kan tangan dan pinggangku.
Lampu merah yang sangat sepi dan hanya ada beberapa mobil dan motor di saja, entah mengapa malam ini suana nya sangat sepi dan menyeramkan di tambah lagi aku tidak tahu sekarang berada di jalan apa.
Aku melanjutkan perjalanan dengan mata yang semakin berat tidak tertahan kan lagi, hingga aku tidak terlalu melihat mobil truk di depan sana.
"Astaghfirullah ya tuhan ku ..." Teriakku melihat hal itu. Aku mengelak sampai aku menerobos lawan arah dan ...
JEDERRR
Aku menabrak pagar pembatas antara jalan tol dan jurang, hampir saja mobil yang ku kendarai masuk ke jurang.
Aku masih setengah sadar dan mencari Ira yang entah kemana, banyak orang yang mengahmpiri kami.
"To ... Tolong ..." Suara ku parau.
"Tolong Istri saya! Di ... Dia ... Sedang ... Hamil ..."
Banyak yang ricuh di sekitar kami, aku tidak bisa merasakan kaki ku dan rasanya sangat berat sekali kepala ini hanya sekedar mendongak ke atas.
Dani mengalami luka yang sangat parah sedang kan Ira meninggal di tempat karena ia terhimpit badan pintu mobil, Dani tidak bisa menggerakkan sebagian anggota tubuh nya.
Dan ada p*t*n*a* t*n*a* di dekat pintu mobil yang di yakini milik Ira, banyak warga yang melihat ke lokasi kejadian.
Saat melihat cctv jalanan terlihat Dani mengalami kecelakaan tunggal, tidak ada apapun yang membuat nya celaka.
Dani di larikan ke rumah sakit namun saat di perjalanan ia meninggal dunia, ia kehabisan darah dan ada k*b*c*r*n di kepala nya yang mengakibatkan pembuluh darah nya pecah.
Pihak kepolisian menghubungi sanak saudara mereka, Ida selalu orang tua Dani merasa terpukul dengan kepergian anak tersayang nya.
__ADS_1
Begitu juga dengan kedua orang tua Ira, mereka menyalah kan Dani yang sudah membuat putri mereka satu-satunya meninggal.
Yoga hanya bisa diam membisu meratapi kepergian sang Kaka, sedang kan para mantan istri Dani sudah enggan untuk menghadiri acara pemakaman nya. Kecuali Ita dan Tiara mereka pergi di antar oleh Wahyu dan beberapa bodyguard, Wahyu merasa cemas jika Ita dan Tiara pergi seorang diri.