
Satu Minggu berlalu aku mencari Bella dan juga kanza namun sampai saat ini belum di temukan juga, aku tidak tahu Bella membawa anakku ke mana.
Jika baby sitter nya aku sudah bertemu di halte menuju arah kampung halaman nya, ia bilang bahwa Bella menyuruh nya untuk pulang dan tidak perlu mengurus kanza lagi karena ia sendiri yang akan merawat kanza seorang diri.
"Maaf tuan! Aku benar-benar tidak tahu nyonya ada di mana? Karena terakhir kami bertemu saat itu di halte, nyonya mengantar kan aku sampai halte lalu setelah itu ia pergi menggunakan taxi dan entah kemana. Bahkan sebelum itu nyonya menyuruh ku untuk pulang saja dan tidak perlu merawat kanza, jujur hati nurani saya menolak namun saya tidak bisa berbuat apa-apa, saya kasihan dengan keadaan nyonya karena masih banyak lebam di tubuh nya akibat ..."
"Oke tidak perlu di teruskan lagi, aku sudah tahu ujung nya. Lalu sekarang kamu bekerja di mana?"
"Saya bekerja sebagai baby sitter untuk pasutri baru tuan."
"Baik lah terimakasih banyak ya bi."
"Siap tuan. Kalau begitu saya permisi dulu saya harus segera sampai di rumah karena sebentar lagi tuan besar akan pulang dari Amerika."
Aku membiar kan nya pergi sedangkan aku masih tetap lanjut mencari Bella, aku tidak akan pulang dan tidur dengan tenang sebelum Bella di temukan kembali.
Sungguh aku benar-benar menyesal telah memperlakukan Bella dengan sangat buruk, bahkan aku tidak memperdulikan mental nya yang mungkin saja sudah terguncang akibat ulah ku.
"Sudah lah Eka, jangan kau begini terus! Mungkin jodoh kau hanya cuman sampai di sini saja! Ihklas kan Bella dan mulai lah kehidupan yang baru" ucap ibu saat menemui ku di dalam kamar.
Aku hanya diam tanpa menjawab perkataan dari ibu, aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang aku benar-benar bingung dengan semua keadaan ini.
Andai aku tidak mendengar kan perkataan orang lain, mungkin Bella tidak akan pergi melarikan diri dari rumah sakit seperti sekarang.
Andai waktu bisa di putar aku akan memutar nya pada waktu di mana Bella masih hidup bahagia bersama ku.
Aku terus mencari nya dan berharap ada titik terang dengan semua ini, jika aku bertemu kembali dengan bella. Aku akan berubah dan aku tidak akan mendengar kan perkataan orang lain seperti saat ini.
Aku akan belajar lebih dewasa lagi dalam menyikapi permasalahan yang ada.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Eka ... Cepat ... Keluar nak ..." Teriak ibu di balik pintu kamar ku.
Dengan panik aku langsung membuka pintu dan mendapati bahwa ibu ku sudah berdiri di depan sana sambil memanangis.
"Ada apa bu? Kenapa ibu menangis?" Tanya ku penasaran.
"Ayokk ikut ibu turun ke bawah na! Dan kamu akan tahu apa yang terjadi."
__ADS_1
Aku menuruti apa yang di katakan ibu, aku mengekor dari belakang nya. Namun, saat hamil sampai di depan rumah ternyata ada dua orang polisi dan satu polwan di sana.
Aku kaget bukan main karena seingat ku aku tidak pernah melakukan kesalahan, bahkan saat aku melakukan kdrt terhadap Bella pun tidak ada yang tahu sedetail itu.
"Permisi apa di sini kediaman bapak Eka?"
"Ya saya sendiri, ada apa ya?"
"Begini pak, apa bapak mengenal orang di foto ini?" Ucap nya sambil memberikan foto dua orang yang selama ini ku cari.
"Astaga ... Itu istri dan anakku, di mana Bella dan kanza sekarang?" Tanya ku.
"Kedua korban sekarang ada di rumah sakit Harapan kita, untuk info lebih lanjut nya silahkan bapak ikut kami ke rumah sakit!"
"Baik pak saya akan ke sana, sebentar saya ambil kunci mobil dulu!"
Aku langsung bergegas masuk dan mengambil kunci saat aku di dalam ternyata imah dan papah sudah ada di sana juga. mereka ingin tahu ada apa kepolisian datang ke rumah ini?
"Bella dan kanza di temukan sudah tertabrak mah."
"Apa? Ya tuhan menantu ku ... Cucu ku ... Bagaimana keadaan mereka?"
"Mamah sama papah ikut!" Ucap papah.
"Ayok ..."
Akhirnya kami pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan kedua orang yang sangat ku cintai ini, di sana sudah ada ibu dan bapak mertua yang menunggu. Namun, mereka seperti ...
Aku terus berjalan mendekati mereka berdua yang sedang duduk menangis di kursi ruang tunggu!
"Pak, bu. Bagaimana keadaan Bella dan kanza?" Tanya ku.
Plakkkk
Bukan jawaban yang ku dapat melainkan tamparan keras dari ibu mertua, mata nya memerah menahan emosi yang tudak bisa di pungkiri.
"Astaga kenapa kamu menampar anakku?" Tanya mamah.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, kenapa anak mu menyiksa anakku hingga masuk rumah sakit?"
__ADS_1
Deg
Ibu mertua tahu semua ini? Siapa yang memberitahukan nya?
"Aku ... Aku ... Aku bisa jelaskan bu."
"Apa yang mau kamu jelas kan hah? Kamu bingung aku tahu dari mana? Saat itu Bella datang ke rumah bersama kanza, ia dalam keadaan banyak memar bahkan banyak bekas cambukan, di tambah lagi ada banyak sekali bekas cambukan di badan nya!" Jelas ibu mertua.
"Bagai ... Bagaimana ibu bisa ..."
"Aku tahu semua, aku tahu semua yang kamu perbuat itu Eka. Apa salah anakku hah?"
"Dia pernah jadi simpanan dan bahan kanza adalah anak dari laki-laki yang menjadikan nya simpanan."
"Jika kamu memilih untuk menikahi anakku, kamu harus terima masalalu nya ... Sekarang apa lagi kamu ke sini hah? Anak dan cucu ku sudah mati ... Setelah kamu siksa dan kamu rusak rahim nya! Aku tidak akan terima ini semua aku akan memperpanjang semuanya."
"Aku mohon jangan penjarakan anakku," ucap mamah berlutut. Tetapi ibu mertua ...
"Sudah minggir kalian, saya peringatkan kalian semua ya. Saya tidak terima jika anak saya di perlakukan tidak baik oleh kalian, memang dia pernah jadi simpanan tetapi jauh sebelum itu terjadi ia sudah menolak dan istri dari laki-laki itu memilih menikahi Bella karena istri pertama nya tidak kunjung hamil. Kanza cucu pertama dan terakhir ku tapi kalian bunuh ibu nya."
"Bella meninggal karena tertabrak bu, bukan kita yang membunuh nya."
"Ya, dia di rumah terus menjerit ketakutan karena trauma yang kamu ciptakan itu sangat membuat nya tertekan! Hingga dia berlari keluar dengan membawa kanza dan akhirnya ..."
"Sudah bu sudah, ayok kita ke rumah saja! Sebentar lagi jenasah anak kita akan di antar ke sana!" Ucap bapa mertua.
Aku hanya menatap kepergian mereka dengan tidak percaya, ku palingan wajah ku melihat mamah dan ia terus menangis karena mau bagaimana pun Bella tetap lah menantu mamah.
Mereka sangat dekat sekali seperti anak dan ibu ...
Plakkkk
Sebuah tamparan kembali mendarat bebas di pipi ku, mamah menampar ku dengan mata yang masih menetes kan air mata.
"Ini semua gara-gara kamu Eka ..." Hardik mamah.
Setelah itu mamah dan papah pergi meninggalkan aku yang masih mematung di sana, ku lihat jenazah anak dan istri ku mulai di bawa keluar ruangan mayat.
Aku berniat untuk melihat nya terakhir kali, namun para petugas medis melarang ku sesuai perintah dari ibu mertua.
__ADS_1
Sungguh hati ku sangat hancur mendengar semua ini, aku menyesal telah melakukan itu semua pada mereka berdua.