Maduku Mantan Terindah Suamiku

Maduku Mantan Terindah Suamiku
Bab 31


__ADS_3

Saat aku pulang ke rumah Dina, tiba-tiba saja Bella mengirimkan pesan pada ku bahwa perut nya merasakan sakit seperti kram.


Beruntung di rumah nya ia tidak sendirian, aku memang sengaja meminta nya tinggal bersama seorang pembantu agar membantu pekerjaan rumah menjadi lebih ringan. Dan ia memilih untuk mempekerjakan seorang yang sudah sedikit berumur karena takut aku akan bermain gila di belakang nya.


"Sayang, apa kah kamu yakin untuk tinggal sendirian di rumah?" Tanya ku.


"Ya, aku sangat yakin mas. Memang nya kenapa?"


"Bukan apa dek, besok mas kan jatah di rumah Dina dan lusa hingga Minggu depan mas harus keluar kota untuk survei pekerjaan. Mas hanya khawatir dengan kandungan mu itu, mengingat usia kandungan mu masih terlalu muda."


"Aku akan baik-baik saja mas, kamu tenang saja."


"Bagaimana kalau kita mempekerjakan orang lain saja, sekalian menjaga mu kalau aku sedang tidak ada di rumah."


"Tapi ..."


"Kamu bebas memilih orang seperti apa yang ingin kamu pekerjakan."


"Baiklah, kebetulan sekali di kampung ku ada yang sudah mengurusi ku sejak kecil jika ibu dan Abah pergi ke ladang."


"Masih muda?"


"Enak saja, kalau masih muda nanti kamu malah nakal sama dia. Sudah lumayan sepuh mas."


"Apa kamu yakin akan mempekerjakan nya?"


"Ya, aku yakin. Lagian rumah kita tidak terlalu besar dan luas, kami berdua bisa saling tolong menolong bukan?"


"Baik lah, atur saja semua oleh mu sisa nya biar kan aku saja."


"Tapi mas."


"Apa sayang?"


"Apa kamu sudah menanyakan rumah yang di samping rumah dengan mbak Dina itu?"


"Sudah, kata nya bulan depan kosong kalau sekarang masih ada orang yang sewa. Apa kamu yakin akan pindah ke sana?"


"Ya mas."


"Baik lah kalau begitu, itu pun akan memudah kan aku untuk melihat mu dan perkembangan si buah hati kita. Tapi mas mohon untuk kamu jangan sampai keceplosan bicara dengan orang lain mengenai setatus kita."


"Kamu tenang saja mas, jadi kapan kita akan menjemput bi inem?"


"Besok kita jemput beliau."


Keesokan hari nya ...


Kami pergi ke rumah bi inem untuk menjemput nya, belum itu Bella sudah memberitahu kan pada belau lebih dulu agar saat kami sampai langsung berangkat karena aku di kejar dengan waktu ku ke kantor.


Singkat cerita kami sampai di rumah kembali dengan keadaan selamat dan aku langsung berangkat ke kantor untuk kembali bekerja.


"Bi tolong jaga Bella ya, telfon saya kalau ada apa-apa."


"Baik pak."


"Sayang, mas berangkat dulu ya! Pulang nanti mas langsung ke rumah Dina."


"Hati-hati ya mas."


"Sayang, papah kerja dulu ya nak. Kamu baik-baik di dalam perut mami," ucap ku sambil mengecup perut Bella yang belum membuncit itu.


Aku mulai melajukan mobil ku menuju kantor, beruntung hari ini jalanan tidak macet seperti biasanya. Sekitar empat puluh lima menit aku sampai di kantor ku, kantor dimana pertama kali aku mulai bekerja setelah kesana kemari mencari lowongan. Dan tentu saja semua itu ada campur tangan dari Ita.

__ADS_1


Kemana dia sekarang? Rasanya aku merindukan wanita itu, hanya dia lah yang selama ini bersabar menghadapi ku dan sikap ibu selama ini.


"Senang nya dalam hati punya istri dua," ledek Anton.


"Apaan sih ton."


"Jadi hari ini giliran di rumah siapa bro?"


"Rumah istri tua, kenapa?"


"Gue penasaran sama si Dina itu kaya gimana modelan nya, secara Lo sampe tega ninggalin si Ita yang udah jelas-jelas ngebantu lo sampe ke titik sekarang."


"Dina jauh lebih cantik dari Ita, bahkan ia juga memiliki usaha sendiri hasil kerja keras nya di Bangkok."


"Bangkok?"


"ya kenapa?"


"Kerja apa dia bro?"


"Dia bilang sih jaga ibu majikan nya."


"Dan Lo percaya?"


"Ya gue percaya aja lah selagi uang dia mengalir begitu deras."


"Gila sih ini, Bangkok bro. Di sana itu bebas ya bisa di bilang hampir sama kaya jepang lah."


"Kenapa?"


"Tidak, Lo coba deh liburan ke Bangkok tanpa kedua istri Lo."


"Kenapa?"


"Oke semangat."


Semenjak percakapan itu aku menjadi kepikiran tentang pekerjaan Dina sebenarnya, apakah ia benar-benar menjaga ibu majikan nya atau hanya kedok semata.


Tidak terasa jam istirahat sudah tiba, aku dan rekan-rekan yang lainnya menuju kantin kantor. Di sana terlihat ada gadis muda dan cantik menjadi pelayan.


"Mau pesan apa mas?"


"Mau pesan nasi goreng rames sama minum nya es jeruk ya, oh ya. Nasi goreng nya sedang aja jangan pedas."


"Oke kalau mas ini?"


"Mau ayam geprek sambal nya yang sedang sama minum nya es jeruk lemon."


"Silahkan di tunggu ya mas."


Ia berlalu meninggalkan kami yang menunggu makanan tiba, sambil menunggu aku mengirimkan pesan ada kedua istri dan anak ku.


["Anak ayah sedang apa?"] send.


["Sayang, kamu sedang apa? Apa sudah maka"] send.


Ku kirim kan pesan itu kedua orang sekaligus, agar aku tidak bingung nanti nya harus membalas apa.


"Bro, bening ya pelayan baru itu mana masih muda lagi."


"Iya," jawab ku singkat.


"Lo enggak tertarik gitu?"

__ADS_1


"Dih gue udah ada bini dua, buat Lo aja lah."


"Yakin Lo?"


"Iya."


"Ya udah, tapi gue enggak jadikan bini. Gue mau bawa dia satu malam aja buat nyicip."


"Ih gila Lo, anak orang mau di icip. Gue juga mau dong."


"Sama aja Jalaludin."


"Ha ha ha," kami tertawa bersama. Hingga akhirnya pesanan kami pun tiba.


Kami makan dengan sangat lahap hingga jam kembali untuk bekerja tiba. Aku kembali masuk ke dalam ruangan ku, kini aku memiliki ruangan sendiri karena aku sudah naik pangkat Minggu lalu.


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul lima sore dan waktu nya bagi kami untuk pulang. Aku langsung pulang ke rumah Dina dan beberapa teman ku yang lainnya karena mereka begitu penasaran dengan Dina.


Sesampainya di rumah betapa terkejut nya aku saat melihat pakaian yang di pakai oleh istri ku itu, ia memakai baju yang sangat sexy dan tipis. Sontak saja hal itu membuat kejantanan kedua teman ku bangun.


Terbesit ide jail di kepala ku untuk mengerjai mereka berdua, aku sengaja mendudukkan Dina di atas pangkuan ku dan mulai menggoda nya di depan kedua teman ku.


Singkat cerita mereka pulang karena tidak tahan dengan apa yang aku lakukan, memang aku dengan kedua orang itu sudah sangat dekat bahkan seperti saudara.


Setelah kedua nya pulang, di tempat itu dan detik itu juga aku memulai aksi ku pada Dina. Namun, siapa sangka mereka kembali lagi dan mengintip di balik tirai yang tidak tertutup rapat.


Setelah beberapa jam tempur, aku menyudahi permainan ku dan ku lihat Dina juga sangat kelelahan tidak seperti biasanya.


Ting!


["Mas, apa kah kamu sudah tidur?"] Satu pesan masuk dari Bella.


["Belum sayang, kenapa?"] send.


Ting!


["Ah tidak, hanya ingin mengirim pesan saja. Ya sudah aku tidur dulu ya mas. Besok jangan lupa sarapan dulu ya. Di mobil juga aku sudah siap kan baju kemeja kesukaan mu."]


Aku tersenyum membaca pesan dari Bella, jujur aku merasa senang berumah tangga dengan nya. Karena sifat yang ia miliki hampir sama dengan Ita. yang berhati lembut dan sabar bahkan semua keperluan ku ia siap kan berbeda jauh dengan Dina yang selalu menuntut ini dan itu.


Ting!


["Mas, perut ku ko sakit ya?"] Pesan masuk lagi dari Bella.


Tuttt ... Aku langsung menelfon nya tanpa basa-basi lagi.


"Sakit kenapa sayang?"


"Kata bi inem bilang hanya kram biasa ibu hamil."


"Syukur lah kalau begitu, maaf kan mas tidak ada di samping mu sayang."


"Tidak apa mas, mas istirahat lah ini sudah malam. Aku mau tidur lagi, oh ya aku malam ini tidur berdua di kamar tamu dengan bi inem."


"Iya tidak masalah sayang."


"Aku tutup ya, dah sayang." Tuttt


Aku kembali bermain hp membuka sosial media dan tiba-tiba ...


"Mas kamu menelfon dengan siapa? Kenapa nelfon nya jauh sekali dari kamar? Apa kamu menyembunyikan sesuatu yang tidak ku ketahui?" Cecar Dina tiba-tiba.


"Aku ... Eee ... Aku ..."

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2