
Ibu terus menerus berbicara agar aku tersadar dari kebodohan ini semua, namun tidak satu kata pun yang ku dengar dari mulut nya itu.
Bukan maksud ku untuk melawan orang tua, tapi aku masih mencintai suami ku itu. Aku sangat mencintai nya.
"Kamu itu harus sadar toh ndokk," ucap ibu.
"Mas Dani tidak seperti itu ko bu, dia setia ko dengan ku."
"Setia dari mana toh?"
"Bukti nya dia selama ini masih selalu memberikan aku dan Tiara nafkah bu."
"Ndok, nafkah itu bukan perihal materi saja toh. Coba kamu pikir-pikir lagi, apa pernah si Dani itu ikut menginap di rumah ini? Kalau tidak karena terpaksa."
"Tidak bu, tapi dia seperti itu ada alasan nya ko. Seperti sekarang ini kan, dia pamit pulang duluan karena dia ada pekerjaan mendadak." Ucap ku berbohong.
"Kamu berbohong ndok, sudah lah terserah kamu. Tapi jika terjadi sesuatu, kamu harus bilang sama ibu ya."
"Baik bu."
Hari sudah semakin petang, tapi mas Dani belum memberikan aku kabar. Ku putuskan untuk menelfon nya, karena tidak biasa nya ia seperti itu padaku.
Tuttt ...
Tuttt ...
Tuttt ...
Sambungan telfon nya terhubung, namun tidak ada jawaban dari mas Dani.
Aku jadi berpikir yang tidak-tidak tentang nya, aku pikir ia akan berpaling dari ku. Karena setahu ku jika mas Dani itu masih menyimpan rasa pada sang kekasih.
__ADS_1
Ku coba sekali lagi menfelon nya dan ...
"Hallo mas."
"Iya, kenapa?" Ucap nya sedikit ngos-ngosan.
"Kamu sedang apa mas? Kenapa tidak memberikan ku kabar?"
"Kamu ini ya, kita itu sudah tua."
"Tapi kan aku jiga masih ingin di manja mas."
"Sudah-sudah, jadi kenapa kamu menelfon? Apa kamu akan pulang?"
"Hmm tidak mas."
"Baik lah, aku tutup telfon nya. Aku sedang bekerja."
Sambungan telfon terputus, mas Dani memutuskan sepihak. Aku heran mas Dani bekerja apa di hari libur seperti ini? Kantor tempat nya bekerja sedang libur atau jangan-jangan ...
"Tidak, mas Dani itu setia padaku. Ia tidak mungkin selingkuh dari ku," ucapku dalam hati.
"Ibu ..." Ucap Tiara tiba-tiba.
"Kenapa sayang?"
"Tadi ayah kemari?" Aku mengangguk.
"Mau apa ayah kemari? Apa ibu terluka?"
"Ibu baik-baik saja nak."
__ADS_1
"Aku tidak ingin ibu terluka lagi."
"Shuttt ..." Aku mengarah kan jari telunjuk ku di atas bibir. Agar ibu tidak mendengar hal itu.
"Kenapa bu?"
"Jangan keras-keras, nanti nenek mu dengar."
"Bagus dong kalau nenek mendengar nya! Jadi nanti nenek yang akan bertindak. Karena ibu selama ini selalu diam jika ayah sedang marah."
Ya tuhan, anak kecil ku yang polos kini sudah besar. Dan dapat mencerna semua kejadian di depan mata nya itu.
Aku merasa malu dengan anak ku ini, bukan malu karena ia anak ku. Melain kan karena aku malu dengan sikap mas Dani pada kami selama ini.
Bahkan tak jarang Tiara melihat kekerasan yang di berikan oleh ayah nya itu padaku.
"Bu ..." Ucap nya berhasil mengagetkan aku.
"Ya. Kenapa sayang?"
"Apa ibu masih memikirkan laki-laki jahat itu?"
"laki-laki jahat?"
"Ayah kan laki-laki jahat, bu."
"Sudah biarkan saja mereka seperti itu. Asal kan jangan kita yang seperti mereka!"
"Baik bu."
"Anak pinter ..."
__ADS_1
Aku mengusap pucuk kepala nya itu dengan lembut.