Maduku Mantan Terindah Suamiku

Maduku Mantan Terindah Suamiku
Bab 46


__ADS_3

Tepat seminggu lagi aku akan menikah dengan mas Wahyu, ia laki-laki yang selalu memberikan ku semangat di setiap kali aku sedang merasa tidak memiliki siapa-siapa untuk bertahan hidup.


Bahkan setelah ketok palu persidangan ku dengan mas Dani, aku merasa menjadi wanita sekaligus istri yang gagal dalam menjaga suami.


Bahkan ia setelah aku resmi menjada, mas Dani langsung meresmi kan pernikahan nya dengan Dina dan itu di dukung penuh oleh ibu mertua. Hati ku sangat hancur saat itu namun di sisi lain aku berusaha tegar untuk melawan semua nya. Ada ibu dan juga anakku yang menjadi sumber kekuatan ku hingga sekarang aku sudah berhasil mendirikan beberapa usaha ku sendiri, dari hasil menulis dan berjualan online dulu.


Tepat setelah masa Iddah ku berakhir mas Wahyu langsung melamar ku pada ibu, namun tidak mudah untuk nya bisa mendapatkan kata iya dari ku. Ia sudah berulang kali menerima penolakan dari ku baik secara halus maupun secara kasar tapi dengan kegigihan nya dan ketangguhan nya ia dapat meyakin kan ku agar bisa menerima nya sebagai ayah sambung Tiara.


Tiara pun sudah sangat dekat dengan mas Wahyu itulah sebab nya aku menerima pinangan dari nya untuk menjadi suami ku.


Saat aku berkunjung ke restoran yang baru saja di buka, aku bertemu dengan mantan ibu mertua dan Dina. Mereka tampak berbahagia bisa makan bersama di restoran ku bahkan dengan bangga nya ia menghina ku dan mencemoohnya status baru ku itu. Padahal mantan ibu mertua ku juga seorang janda tapi bisa-bisa nya ia mengatai ku janda!


"Ibu, apa papah Wahyu tidak datang ke rumah?" Tanya Tiara tiba-tiba menghampiri ku yang duduk di taman.


"Hai sayang, apa kamu baru saja pulang?" Pasal nya ia menginap di rumah mas Dani beberapa hari ini.


Ia begitu gampang akrab dengan Bella, berbeda dengan Dina ia sangat membencinya bahkan karana ulah Dina lah anakku menjadi benci dengan ayah kandung nya. Begitu juga dengan ku, aku membenci mas Dani saat itu bukan benci karena apa tapi karena aku kecewa dengan nya.


Kehidupan rumah tangga kami yang lama tidak menjamin keutuhan rumah tangga ku, pada akhir nya aku lah yang harus menyerah dengan drama ini.


"Sudah ibu, aku pulang sendiri karena aku tidak mau ikut campur dengan urusan ayah! Ayah bertengkar dengan bunda."


"Loh kenapa sayang? Apa kamu menyakiti salah satu dari mereka?"


"Tidak bu, bunda memergoki ayah sedang berduaan dengan wanita lain. Bu, kenapa ya ayah masih saja seperti itu? Apa ayah tidak malu? Aku pernah mendengar dan membaca, jika seorang ayah berbuat dosa di masa lalu maka akan berimbas pada anak nya atau saudara perempuan nya kelak. Jadi semua karma ayah akan menghampiri ku, bu?" Tanya anakku panjang lebar.


"Tidak ada yang nama nya karma ayah untuk mu nak, semua sudah takdir bukan karena perbuatan siapa dan untuk siapa. Lihat lah ibu, apakah dulu kake mu juga mencerai kan dan menyakiti nenek mu? Karena ibu bercerai dengan ayah mu."


"Tidak bu, nenek pernah bercerita jika dulu kake sangat lah setia pada nya hingga nafas terakhir kake.*


"Nah begitu juga dengan mu sayang, jika suatu saat kamu menyakiti atau di sakiti oleh seorang laki-laki. Itu bukan berati kamu menanggung semua karma dari ayah di masa lalu!"


"Begitu ya bu, ibu tadi tidak menjawab pertanyaan ku.!"


"Pertanyaan yang mana?"


"Kenapa papah Wahyu tidak datang ke rumah?"


"Oh papah lagi mengurus cuti, sayang. Karena sebentar lagi kan papah Wahyu akan menjadi papah nya kamu."


"Begitu ya bu! Nenek dimana?"


"Nenek di kamar nya, pergi lah melihat nenek. Ia sangat rindu dengan cucu kesayangan nya itu."


"Aku mau ke kamar nenek dulu ya Bu." Aku mengangguk dan melihat punggung anak gadis ku itu.


Meskipun usia nya sudah setengah matang, tetapi sampai saat ini aku tidak pernah dan tidak pernah mendengar ia membahas laki-laki lain selain ayah dan juga papah nya.


Aku melanjutkan minum teh ku, hingga tiba-tiba hp ku mendapatkan notifikasi dari nomor yang tidak di kenal.


Ting!


[Ita, apa kamu masih sendiri? Maksud nya, apa kah kamu masih menjadi single mom?] Aku mengkerut kan kening saat membaca pesan itu.


Dari bahasa nya aku bisa menebak jika ini adalah mantan ibu mertua atau mungkin mas Dani yang mengirim kan ku pesan dengan nomor baru.


Merasa tidak mendapatkan balasan dari ku, ia langsung menelfon ku berkali-kali hp ku berdering dengan durasi yang lama.


Aku membiar kan nya dan meletakkan hp ku kembali di atas lantai beralaskan karpet bambu. Namun, semakin ku biar kan semakin lama pula hp ku berdering.


"Hallo."


"Hallo Ita. Ini ibu mertua mu."


"Sudah kuduga!" gunam ku.


"Apa Ita? Kamu bicara apa nak? Ibu tidak jelas mendengar nya."


"Tidak ada bu, ibu ada apa menelfon ku?"


"Kamu tidak menjawab pertanyaan ibu."


Aku sudah akan menikah lagi bu."


"Kapan nak?"


"Kenapa?"


"Ibu hanya ingin tahu saja!"

__ADS_1


"Tiga hari lagi," ucap ku bohong.


"Batal kan saja nak dan kembali lah dengan Dani. Ibu tahu ibu sudah banyak sekali dosa pada mu dan juga anakmu. Itu lah sebab nya ibu ingin menebus kesalahan ibu dulu dengan meminta mu kembali dengan Dani."


"Tidak bisa bu, aku sudah akan menikah dan kalau pun aku masih single aku tidak akan pernah mau untuk kembali dengan mas Dani. Lagian bukan kah ia sudah memiliki istri? Bahkan bukan hanya satu kan?"


"Da-dari mana kamu tahu?"


"Sudah lah bu, aku sedang sibuk mempersiapkan diri untuk menjadi istri orang lagi yang insya Allah akan lebih baik dari mas Dani."


"Jangan sombong kamu, Ita. Kalau bukan karena aku tidak suka dengan istri muda Dani tidak mungkin aku meminta mu untuk kembali pada Dani anakku! Ia tidak seburuk yang kamu pikirkan kan, ia melakukan itu semua karena kamu tak kunjung hamil lagi" Kini suara mantan ibu mertua terdengar sangat emosi saat aku bilang jika aku tidak ingin kembali dengan mas Dani.


"Aku tidak sombong bu, tapi ini kenyataan nya aku akan menjadi istri orang dan mas Dani pun sudah menjadi suami orang."


"Ibu akan meminta nya mencerai kan Ria dan kembali pada mu."


"Sudah dulu ya bu, aku harus kebutik dan ke gedung untuk mengecek sejauh mana persiapan ku nanti!" Lagi-lagi aku berbohong pada ibu.


Aku tidak mungkin berkata sejujurnya dengan ia, karena bisa saja ia berbuat jahat dan memgagalkan pernikahan ku dengan mas Wahyu.


"Ibu akan membuat mu kembali lagi dengan Dani, apapun cara nya!" Tuttt.


Ibu mertua langsung mematikan telfon nya, aku hanya bisa mengelus dada saat melihat kelakuan ibu.


Saat aku sedang duduk, ternyata mas Wahyu sudah berada di rumah sejak tadi. Dan ia mengobrol banyak hal dengan ibu dan juga Tiara.


"Kamu kenapa sayang? Kelihatan nya seperti sedang menahan emosi saja."


"Mantan ibu mertua ku menelfon, kaya nya meminta ku untuk kembali pada mas Dani."


"Lalu?"


"Aku tidak mau mas, lagian kamu sendiri tahu jika mas Dani seperti apa bukan?"


"Ya aku tahu dan aku juga tahu segala nya tentang dia."


"Tahu dari mana?"


"Tadi Tiara bercerita dengan ku dan juga ibu."


"Benar kah?"


"Kamu benar."


"Ini ada titipan dari memah kata nya suruh kamu makan."


"Apa ini?"


"Mana aku tahu!"


"Makasih ya mas, bilang mamah makasih!"


"Iya, sudah sanah makan ajak ibu dan juga Tiara!"


"Lalu kamu?"


"Lah aku mau liat ikan ku di belakang sana."


"Ya sudah, hati-hati mas."


Memang di rumah ini ada kolam ikan lebih tepat nya di halaman belakang rumah ku, dan itu semua mas Wahyu yang mengisi serta mengurus segala nya karena aku tidak mengerti tentang semua itu.


Bahkan bukan hanya itu saja mas Wahyu membuat mini kebun di samping kolam, kata nya agar aku bisa makan sayur dan buah yang hasil panen sendiri.


Saat aku sampai di dalam rumah, ternyata ibu dan Tiara sedang duduk di meja makan d dengan masing-masing segelas teh di depan nya.


"Ini ada titipan dari mamah nya mas Wahyu, ayok kita makan bareng!"


"Kamu saja, kami sudah makan tadi Wahyu yang membawa nya kemari."


"Wah kenapa tidak memberitahu ku?"


"Tiara sudah memanggil mu, tapi kamu malah asyik menelfon. Memang nya kamu meneflon dengan siapa? Karena calon suami mu ada di rumah ini sejak tadi," cecar ibu pada ku.


"Itu mantan mertua bu,"


"Mau apa lagi ia menghubungi mu?"


"Ia meminta aku kembali dengan mas Dani."

__ADS_1


"Apa jawaban mu?"


"Aku tidak mau, karena aku sudah akan menikah dengan mas Wahyu. Lagian kalau pun aku single aku tidak akan pernah mau kembali pada nya bu."


"Bagus kalau begitu!"


Aku mulai menata makanan di atas meja makan, terlihat Tiara juga menyimak semua percakapan ku dengan ibu.


Entah apa yang ia pikirkan saat ini tentang ku dan juga mas Dani, karena tatapan mata nya seolah ia sedang berpikir keras.


Sadar aku perhatikan, Tiara bangkit dari duduk nya dan masuk ke dalam kamar tanpa menegur ku lebih dulu.


Aku merasa ada yang aneh dengan putri ku itu karena dengan sangat mudah nya ia berubah seperti itu. Ku ikuti ia sampai di dalam kamar


Sesampainya di kamar aku langsung duduk di samping nya, dan mulai mengajak nya berbicara dari hati ke hati.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Aku tidak apa bu. Aku baik-baik saja ko."


"Apa kamu mau ibu kembali pada ayah mu? Dan memutus kan untuk membatal kan pernikahan ibu dan papah Wahyu?"


"Tidak bu ..."


"Lalu apa nak?"


"Aku hanya malu saja mempunyai ayah seperti, ayah Dani."


"Kenapa harus malu? Nak, ayah mu sudah berjuang untuk menyekolahkan mu sampai seperti sekarang ini!"


"Ibu jangan membuat ayah seolah laki-laki baik yang menafkahi anak istri nya, sedangkan kenyataannya berbanding terbalik!"


Deg


Aku kaget bukan main saat Tiara berkata seperti itu, karena selama ini aku selalu berkata jika ia bisa sekolah dan mendapatkan segala nya adalah hasil kerja keras ayah nya bukan hasil uang milik ku.


"Kamu dengar itu semua dari siapa nak?"


"Aku mendengar nya dari orang-orang bu. Dan nenek juga membenar kan semua itu. Kenapa? Kenapa ibu selalu membela ayah?"


"Nak, kamu masih SMP dan belum mengetahui apapun soal rumah tangga. Jadi alangkah lebih baiknya kamu belajar saja yang giat dan menjadi anak kebanggaan ibu dan juga papah Wahyu dan ayah Dani."


"Baik bu."


"Ibu keluar dulu ya sayang! Sudah jangan berpikir macam-macam lagi."


"Iya bu."


Aku keluar kamar Tiara dan langsung menuju dapur untuk bertemu dengan ibu dan menyakan semua ini.


Di sana ternyata sudah ada mas Wahyu yang sedang duduk berdua dengan ibu sambil mengobrol dengan sangat asyik nya.


"Kenapa Tiara?" Tanya mas Wahyu.


"Ia hanya malu memiliki ayah seperti mas Dani!"


"Loh ko?"


"Ia tahu semua nya, dan kata nya ibu juga membenar kan semua perkataan orang-orang di luar sana."


"Astaga, jadi seperti itu. Biar kan saja, Tiara belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat ini."


"Iya mas."


"Maaf kan ibu ya Ita."


"Tidak masalah bu. Ayok sekarang kita makan masakan mamah."


"Makan saja, ibu sudah makan tadi dengan tiara. Apa kamu lupa?"


"Tidak bu."


"Oh ya sayang, tadi aku sdusu mengecek gedung untuk acara nikah kita nanti. Semua sudah oke tapi mungkin kamu juga ingin melihat nya lagi!" Ucap mas Wahyu.


"Nanti saja mas."


"Oke sayang!"


Mas Wahyu memiliki banyak pegawai jadi ia bisa dengan mudah melihat semua persiapan ini, bahkan ia juga melarang ku untuk bekerja lagi. Namun, aku lebih suka bekerja daripada hanya di rumah bengong saja tidak ada kegiatan apapun.

__ADS_1


__ADS_2