Maduku Mantan Terindah Suamiku

Maduku Mantan Terindah Suamiku
Bab 37


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, semenjak kejadian saat itu mas Dani menjadi dingin dan acuh pada ku bahkan ia juga jarang tidur di rumah.


Pernah sekali aku menanyakan kemana saja ia selama ini tidak pernah tidur di rumah lagi, namun ia menjawab dengan sangat lantang dan menusuk hati.


"Mas kenapa sih akhir-akhir ini kamu menjadi dingin dan cuek padaku?" Tanya ku saat kau sedang makan malam bersama.


"Apa perlu untuk aku jawab, Din?"


"Tentu saja mas, aku menjadi bingung harus berbuat apa? Jika masalah anak, bukan kah semenjak saat itu aku sudah tidak memakan obat itu lagi! Lalu apa lagi yang sekarang menjadi permasalahan nya mas?"


"Kamu mau dengar?"


"Ya, tentu saja."


"Sudah lah, aku mau tidur ngantuk!"


Mas Dani bangkit dan tidak melanjutkan makan nya, ia masuk ke dalam kamar dengan sedikit membanting pintu kamar yang membuat ku terkejut.


Aku merasa ada yang salah dengan nya, aku takut ia memiliki kekasih lain di luar sana.


Aku menyusul nya masuk ke dalam kamar dan sayup-sayup aku mendengar suara ia sedang menelfon dengan seseorang, namun saat aku masuk telfon itu langsung di matikan oleh nya.


Aku berbaring di samping nya, tetapi ia bangkit dan pindah tidur di kamar tamu.


Memang mungkin aku yang salah juga saat Yoga pamit pulang dan mas Dani di toilet karena buang hajat, aku dan Yoga sempat memadu kasih sebentar dan tanpa kami ketahui mas Dani sudah berada tepat di belakang kami yang tengah memadu kasih.


"Emang kurang ajar kalian berdua ya! Padahal aku hanya meninggalkan kalian ke toilet dua puluh menit tapi kalian bisa-bisa nya seperti ini!" Bentak mas Dani.


Aku dan Yoga masih setengah telanjang, kami tidak memakai celana dan bahkan baju ku bagian depan nya sudah terbuka lebar.


Dengan cepat aku merapikan semua nya, dan mendekati mas Dani. Namun, ia malah menjauh tanpa mengucapkan apapun pada ku dan hal itu lah yang membuat ku semakin takut pada nya.


Saat Yoga pamit pergi pada mas Dani, tetapi ia menahan nya agar tidak pulang lebih dulu. Aku tidak tahu apa yang akan mas Dani lakukan.


"Kalian duduk di ruang tamu dan jangan sesekali mencoba untuk kabur, atau tidak aku akan mengarak kalian keliling komplek ini tanpa busana."


Deg


Aku dan Yoga sudah keringat dingin bercucuran, aku takut sekali dengan ancaman nya itu.


Selama ini aku tidak pernah melihat mas Dani marah hingga memilih untuk diam dan tidak banyak bicara seperti ini.


Tak lama kemudian suars ketukan pintu terdengar dari depan, dan muncul lah sosok ibu mertua ku di rumah ini.


"Astaga, apa mas Dani memanggil ibunya?" Tanya ku dalam hati.


Yoga bangkit dan berniat untuk bersalaman pada ibu mertua, begitu juga aku. Meskipun kami sudah sangat dekat tetapi aku tidak tahu bagaimana marahnya ibu mertua ku itu.


Plakkkk


Sebuah tamparan melayang pada pipi nya yang mulus dan tirus itu.


"Apa kamu sudah gila Yoga? Dia itu Kaka ipar mu, dan kamu menggauli nya dengan tanpa malu dan bahkan kalian melakukan nya di siang hari? Di dapur pula!" Bentak ibu mertua pada anak nya.


Ia menoleh ke arah ku dengan tatapan marah, bahkan aku sampai tidak Bernai menatap nya lebih lama lagi.


Plakkkk


Satu tamparan lagi melayang di pipi ku yang glowing ini, sungguh ini sangat sakit dan perih sekali rasanya.


"Kamu juga, pantas saja aku lama mendapatkan cucu dari mu. Rupa nya kamu memakan obat penunda kehamilan, apa kamu tidak ingin memiliki anak dari putra ku Dani hah? Dan kamu menginginkan Yoga adik nya Dani?"


"Bu-bukan seperti itu bu," sangkal ku.

__ADS_1


"Lalu apa? Atau kamu ingin memiliki anak dari pak RT itu hah? RT macam apa dia berani sekali bermain gila dengan warga nya ini."


Deg


Dari mana ibu mertua mengetahui permainan ku dengan pak RT? Bahkan aku sendiri tidak pernah menceritakan pada siapapun dan di mana pun itu.


"Kenapa kaget ya! Aku dan ibu bisa tahu semua kebusukan mu itu Dina."


"Da-dari mana kalian tahu itu semua?"


"Itu semua tidak penting, yang penting sekarang ini kalian keluar dan angkat kaki dari rumah ku. Dan mulai saat ini kamu Dina aku takak satu."


Deg


Bagaikan di sambar petir aku tidak menyangka bahwa mas Dani akan mencerai kan aku seperti ini. Hanya karena hal seperti itu.


"Mas, kenapa kamu munafik sekali sih? Bukan kah kamu juga dulu sama seperti ku hah? Kamu bahkan berulang kali bermain gila dengan ku di balik si Ita itu."


"Kita hanya mantan, tetapi kamu? Aku bahkan tahu pekerjaan mu di Bangkok saja seperti apa."


"Apa?"


"Kenapa kaget ya aku bisa tahu, jujur ya aku menyesal karena sudah memilih mu daripada Ita. Ia jauh lebih baik dari mu bahkan ia lebih bisa menghargai ku sebagai suami nya meskipun aku selalu membuat nya terluka."


"Tapi mas, aku juga sudah melakukan yang terbaik untuk mu. Aku juga sudah memberikan semua yang ku punya, kenapa kamu dengan mudah nya mencerai kan aku mas?"


"Alah sudah lah, mulai detik ini kamu sudah aku talak satu Dina."


Mas Dani bangkit dari duduk nya dan pergi meninggalkan aku yang masih mematung di meja makan, aku masih berpikir dari mana ia tahu pekerjaan ku dulu dan dari mana ia tahu skandal ku dengan pak RT? Apa ada yang melihat nya dan mengadukan pada suamiku itu?


Mas Dani keluar dari kamar dengan membawa baju milik nya, aku mengejar nya agar ia tidak keluar dari rumah ini.


"Mas mau kemana?"


"Mas, aku mohon jangan pergi. Aku janji aku akan berubah dan aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Tapi aku mohon kamu jangan pergi mas."


Aku bersimpuh di kaki mas Dani, aku sudah sangat mencintai nya aku takut kehilangan nya aku tidak ingin berpisah dari mas Dani. Mas Dani diam sejenak melihat ku menangis sambil bersimpuh di bawah kaki nya.


"Bangun lah, kamu tidak perlu melakukan itu."


"Aku janji akan jadi istri yang baik untuk mu mas!"


"Baik lah, akan aku beri kamu satu kali kesempatan untuk berubah tapi jika kamu melakukan hal itu lagi. Aku tidak akan segan-segan untuk mencerai kan mu bahkan talak tiga sekaligus."


Deg


"Ba-baik mas, aku janji. Sekarang masuk lah lagi jangan pergi mas."


"Aku akan tetap pergi, aku akan keluar dan mungkin malam ini tidak pulang! Kau kunci lah pintu."


"Mas mau kemana? Aku ikut."


"Tidak ada urusan nya dengan mu."


Mas Dani tetap keluar rumah dengan membawa tas itu, aku memperhatikan mobil nya yang semakin menjauh dari rumah ini.


Di pos ronda sana terlihat pak RT tersenyum menyeringai seolah ia tahu apa yang harus ia lakukan, aku buru-buru masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu sampai.


Tok ... Tok ... Tok ...


Suara ketukan pintu dari luar, aku sudah tahu itu pasti pak RT dengan alibi meminta sumbangan komplek.


Ku intip dari balik tirai dan ternyata memang benar itu adalah pak RT, aku tidak membuka pintu karena aku tidak ingin mas Dani marah lagi pada ku dan kami bercerai.

__ADS_1


Ting!


["Mbak Dina buka pintu, saya lagi kepengen nih!"] Satu pesan dari pak RT.


["Aduh maaf pak, saya lagi datang bulan bapak ke istri bapak saja,"] send.


Tidak ada balasan apapun lagi dari pak RT, dan ku lihat ia juga pergi dari depan rumah ku.


Sungguh aku masih merasa takut dengan amarah mas Dani, ia sangat menyeramkan bagi ku.


Keesokan harinya ...


Mas Dani pulang dengan keadaan bau alkohol, aku sudah tahu pasti ia mabuk di luar sana.


"Mas mabuk?"


"Tidak."


"Tapi mas bau alkohol ini."


"Jangan urus aku Dina."


"Mas."


"Aku mau mandi dan tidur."


"Makan dulu mas."


"Minggir," ucap nya sambil mendorong ku menjauh dari nya.


Mas Dani berubah menjadi sangat kasar pada ku, aku merasa tidak berguna lagi bagi nya. Siang hari setelah bangun tidur ia mandi dan bersiap akan pergi lagi, setiap kali aku tanyai ia pasti menjawab tidak ada urusan nya dengan ku.


Bahkan kali ini nafkah yang ia berikan tidak sebanyak dulu, ia hanya memberikan ku sebanyak lima ratus ribu.


Setiap kali aku meminta tambahan uang, ia selalu menjawab yang membuat ku terluka berkali-kali lipat.


Terkadang aku berpikir apa ini karma dari semua perbuatan ku dulu pada mbak Ita? Begini kah rasanya menjadi mbak Ita dulu?


"Mas, uang segini mana cukup."


"Di cukupi saja."


"Tambah lagi lah lima ratus ribu."


"Jual saja kepemilikan mu pada pak RT agar mendapatkan uang tambahan, jangan biar kan ia menikmati nya dengan gratis."


Deg


"Mas, kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Bukan nya benar ya?"


"Tapi mas."


"Sudah lah Dina. Jika kamu merecoki ku terus setiap kali aku pulang. Maka akan ku pasti kan aku tidak akan pulang lagi ke rumah ini."


"Ba-baik mas."


Aku bingung dengan uang segini harus membeli apa? Belum bayar listrik, belum bayar air galon, belum beli gas, belum bayar WiFi.


"Arrhhhhhh ... Lama-lama aku bisa setres jika seperti ini terus!"


Terkadang aku juga memakai uang tabungan ku untuk menutupi semua nya. Tapi jika terus menerus memakai uang tabungan ku, nanti bisa habis juga dan aku tidak punya apa-apa lagi.

__ADS_1


"Mas Dani, kamu sungguh keterlaluan mas!"


__ADS_2