
Melia masih diam gugup tanpa menjawab sepatah kata pun dari mas Eka, ia benar-benar mati kutu di buat kan nya.
Namun, mas Eka terus saja mendesak agar ia mau bicara yang sebenarnya meskipun harus dengan ancaman.
"Baik lah jika kamu tidak mau jujur dengan ku, maka jangan salah kan aku jika aku memecat mu hari ini juga!" Gertak mas Eka.
"Baik lah pak, saya mengaku memang seperti itu ada nya. Tapi saya melakukan itu semua karena saya suka dengan bapak! Apa bapak tidak melihat kesungguhan cinta ku selama ini?"
"Astaga Melia kamu ini gimana sih? Aku sudah memiliki istri dan anak!"
"Alah pak, istri bapak sekarang ini pernah jadi istri simpanan dan di bercerai karena suami nya yang g*t*l itu selingkuh di kosan! Sungguh miris."
Deg
Aku heran sekaligus bingung dengan ucapannya itu bagaimana bisa dia berkata demikian? Bahkan ia tahu soal mas Dani? Apa dia pernah dekat dengan mas Dani? Tapi mas Dani kan sudah ...
"Kamu jangan sembarang kalau bicara," ucap mas Eka.
"Coba bapak tanya saja dengan istri bapak yang sangat di cintai itu, benar atau tidak nya!"
Lalu mas Eka berpaling memandang ku dengan tatapan penuh tanya, memang aku tidak menceritakan nya tentang masalah itu. Mas Eka hanya tahu jika aku adalah seorang janda di tinggal selingkuh. Tapi aku tidak menceritakan sampai sedetail itu pada nya.
"Kita perlu bicara nanti!" Ucap nya.
"Sekarang kamu pergi dari rumah ku," usir mas Eka pada Melia.
Lalu wanita itu pergi meninggalkan kami semua, sedang kan aku menyusul mas Eka masuk ke dalam kamar dan bayi ku di titip kan pada suster di sana.
Aku masuk ke dalam kamar dengan penuh rasa takut yang menjalar di hati ku.
"Ada apa mas?"
"Apa benar yang di kata kan Melia itu?"
"Yang mana?"
"Kamu pikirkan sendiri, perkataan yang mana aku tanyakan pada mu!"
"Oh yang mas Dani selingkuh?"
"Hmm."
"Memang benar mas Dani selingkuh, dan benar aku dulu pernah jadi istri simpanan bahkan aku istri ketiga mas Dani! Kami bertemu di caffe r*m*n*-r*m*n*."
"Lalu?"
"Kamu berkencan dan ... Tidak perlu aku jelas kan kamu pun sudah tahu mas!"
"Jadi benar kamu pernah jadi simpanan?"
"Iya."
__ADS_1
"Ternyata kamu tidak lebih baik dari Melia."
"Iya memang! Lantas mas mau apa? Mau bercerai? Silahkan cerai kan aku sekarang juga mas!" Tantang ku pada mas Eka.
"Kenapa kamu menantang ku?"
"Karena untuk apa aku diam menjadi patung di saat pasangan ku mendiami ku nanti nya? Aku seperti orang b0d0h yang menjalani semua ini seorang diri. Aku lebih baik bercerai dari pada seperti itu mas! Aku ihklas aku rela, aku akan pergi dari rumah ini bersama anak ku."
"Kenapa kamu malah jadi yang lebih galak?"
"Hmm."
"Kenapa kamu menyembunyikannya semua nya pada ku? Kenapa aku harus tahu dari wanita yang kamu sebut pelakor itu? Padahal kamu sendiri yang seperti itu!"
"Kenapa mas mempermasalahkan masa lalu ku? Apa sekarang semua itu penting? Kenapa mas tidak tanya semua hal pada ku saat kita belum resmi menikah? Apa mas menyesal menikah dengan ku? Dan akan menikahi wanita itu?"
Plakkkk
"Lancang sekali kamu Bella! Apa seperti ini yang kamu lakukan pada suami mu dulu? Hingga ia berselingkuh dengan wanita lain!"
"Kamu tidak tahu cerita nya mas jadi kamu tidak berhak menghakimi ku seperti itu!"
"Bagaimana aku bisa tahu jika kamu sendiri tidak mencerminkan semua nya pada ku, Bella? Sebenarnya apa yang kamu inginkan dari ku? Bahkan aku membenci seorang penghianat dan kini istri ku sendiri ternyata penghianat."
"Jika memang kamu menyesal, sudah ku bilang bukan? Maka cerai kan aku!"
"Arghhhhh ..."
Mas Eka keluar kamar dengan marah, maaf kan aku tuhan karena aku terbawa emosi karena aku tidak ingin hidup menderita lagi.
Aku sungguh bingung saat ini, aku putuskan untuk keluar kamar dan mengambil putri ku yang ada di dengan suster nya.
Aku menggendong nya dan membawa nya masuk ke dalam kamar, aku mengemasi pakaian ku dan berniat untuk pergi dari rumah ini.
Setelah semua siap, aku berjalan keluar kamar dan saat melewati ruang tengah ternyata semua masih ada di sana termasuk mas Eka.
Mereka menoleh ke arahku dan mas Eka secara bergantian, ibu mertua mencegah ku untuk pergi dan menyelesaikan semua nya secara kepala dingin.
Namun, tidak dengan mas Eka. Ia masih diam membisu melihat ku membawa bayi mungil ini. Saat aku sampai di depan pintu, tiba-tiba mas Eka bersuara sangat lantang pada ku.
"Jika kamu berani keluar satu langkah dari rumah ku ini dan membawa putri ku, aku tidak akan memaafkan mu Bella!"
"Dia putri ku, mas. Aku yang mengandung nya dan aku yang melahirkan nya."
"Jika tidak ada aku maka kamu tidak akan hidup nyaman sekarang! Kamu tidak akan ada biaya untuk melahirkan!"
"Jadi kamu menyesal?"
"Ya, aku menyesal jika sikap mu terus seperti ini."
"Kenapa baru sekarang? Apa karena Melia?"
__ADS_1
"Tidak ..."
"Jika memang karen Melia, maka pergi lah dan menikah dengan nya. Sebenarnya kamu ini pintar tapi kamu terlalu tempramental mas!"
"Jaga ucapan mu itu Bella!"
"Aku pamit."
"Bella ..." Teriak ibu mertua. Dan menyuruh mas Eka untuk mengejar ku keluar.
Aku pergi bukan karena aku kurang dewasa atau kurang menghargai mas Eka. Namun, aku juga ingin di hargai di sana.
Hanya karena masalah kecil mas Eka sampai bicara seperti itu, saat aku keluar pagar mas Eka berlari mencengkram tangan ku kuat dan menyeret ku masuk ke dalam rumah.
Hingga bayi ku menangis ketakutan karena hampir saja terjatuh dari gendongan ku, dengan cepat mang Ujang mengambil bayi ku dan membawa nya masuk ke dalam.
Mas Eka sangat emosi dengan semua pengakuan ku. Aku baru tahu sisi gelap mas Eka yang seperti ini.
Padahal di luar mas Eka sangat baik dan bijak, tetapi ternyata asli nya ia sangat menyeramkan.
Ia masih menyeret ku hingga masuk ke dalam kamar dan melempar ku hingga terbentur pada meja di sana.
"Sudah ku peringat kan jangan keluar dari rumah ku satu langkah pun, tapi kamu masih saja bertekad keluar dan membawa putri ku!" Ucap nya lantang.
Di buka nya ikat pinggang milik nya dan di c*m*u* nya terus menerus pada tubuh ku. Hingga aku tidak bisa bangkit dari sana.
Sungguh mas Eka sangat menyeramkan sekarang. Aku sangat takut pada nya saat ini.
Aku terus mencari nya tanpa henti, bahkan aku sampai memaksa ingin melihat cctv karena aku yakin jika bella pergi ia akan terlihat di sana.
"Itu istri saya pak, coba di zoom di bagian ini" Ucap ku menunjuk salah satu cctv di layar.
Ternyata Bella menaiki taxi dan baby sitter nya kanza, mereka pergi ke arah timur yang entah kemana.
Aku frustasi dengan semua kejadian ini, aku merasa menjadi manusia paling gagal di dunia ini.
Ibu dan ayah sampai di rumah sakit mereka menanyakan Bella namun aku tidak bisa berkata-kata, bahkan aku bingung harus mencarinya keamanan lagi.
Aku tidak mungkin mengatakan nya pada Abah karena jika itu terjadi maka ia akan sangat curiga dengan apa yang terjadi sekarang pada putri nya itu.
"Kamu harus menemukan Bella bagaimana pun cara nya" ucap ayah.
"Bagaimana ayah? Bahkan aku tidak tahu ia pergi kemana membawa kanza."
"Aku tidak mau tahu, ini semua karena kamu. Mau bilang apa kita ke orang tua nya Bella nanti? Kamu yang dulu memaksa ingin menikahi Bella tetapi saat sudah menikah kamu malah menyakiti nya seperti ini."
"Maaf kan aku ayah, aku akan mencari nya dulu."
"Pergi lah."
Aku berlari menuju parkiran, aku membawa mobil menyusuri taxi aku tahu ini mustahil tapi aku tetap melakukan nya.
__ADS_1
Pikiran ku tidak karuan memikir kan istri dan anakku itu, sungguh saat ini aku merasa sangat bersalah.
"Bella kamu dimana sayang? Maafkan aku ..."