Maduku Mantan Terindah Suamiku

Maduku Mantan Terindah Suamiku
Bab 33


__ADS_3

Pagi hari seperti biasa aku memasak untuk diriku sendiri namun kali ini aku memasak agak banyak karena akan ada adik ipar ku menemani di rumah selama satu Minggu kedepan.


Aku sudah berulang kali bertemu dengan nya dan sikap nya sungguh tidak bersahabat dengan ku, mungkin nanti jika kami tinggal berdua ia akan lebih mendekat kan diri pada ku selaku Kaka ipar nya.


Setelah semua pekerjaan rumah selesai aku nongkrong di taman depan rumah sambil bermain hp melihat-lihat belanjaan online dan membaca novel, saat tengah asyik tiba-tiba ada sebuah motor ninja masuk ke halaman rumah ku. Awal nya ku pikir ia rentenir yang menagih hutang tapi setelah di pikir-pikir aku sama sekali tidak pernah berhutang pada siapa pun apa lagi bank.


"Assalamualaikum," ucap nya.


"Waalaikumssalam, siapa?"


"Astaghfirullah adik ipar sendiri tidak kenal?"


"Astaga Yoga, maaf mbak tidak mengenali mu. Motor mu baru lagi nak?"


"Iya." Jawab nya cuek seraya masuk ke dalam rumah.


Aku heran dengan anak itu tidak bekerja tapi bisa berganti-ganti motor sesuka hati nya, apa mas Dani yang membeli kan nya? Tapi bagaimana mungkin gaji nya saja semua ada pada diri ku.


"Kamu bersihkan lah dulu badan di kamar tamu itu, setelah bersih pergi lah makan mbak ada masak menu kesukaan mu."


"Ya."


Lagi-lagi ia bersikap cuek pada ku, aku heran juga dengan dia bukan hanya soal motor melainkan soal sikap. Sejak awal pernikahan ku dengan mas Dani, ia selalu cuek dengan ku berbeda jika dengan Ita dan ponakan nya itu pasti asyik dan seru.


Aku putuskan untuk kembali ke depan hanya meminum teh manis di pagi hari, terlihat ibu-ibu sudah mulai berdatangan untuk berbelanja sayuran di mamang sayur.


"Mbak Dina, itu tadi cowok siapa yang masuk rumah? Bukan nya mas Dani sedang keluar kota?" Tanya salah satu dari mereka.


"Oh itu adik ipar saya yang akan menemani saya di rumah, maklum lah saya sedang mengidam" ucapku bohong.


"Oalah gitu, berapa bulan mbak?"


"Alah baru dua Minggu bu, itulah sebab nya mas Dani takut saya perlu apa-apa jadi menyuruh adik nya untuk di rumah."


"Kenapa tidak dengan mertua saja mbak? Bahaya loh ipar berduaan di dalam rumah apa lagi dalam jangka waktu lama."

__ADS_1


"Mertua saya sedang di kampung dengan adik-adik nya karena mau ada hajatan, insyaallah tidak apa-apa bu."


Aku terus membuat cerita bohong pada mereka agar mereka tidak terlalu ikut campur urusan ku dan keluarga ku, lagian kalau pun aku dengan Yoga ada main pun aku tidak masalah karena sama-sama enak toh!


Pukul setengah delapan aku masuk ke dalam rumah dan melihat Yoga, apakah ia sudah makan atau belum. Dan ternyata ia sudah makan tapi kemana anak itu?


Aku mencari nya keliling rumah dan ternyata ia ada di halaman belakang depan kolam renang, ia duduk manis di tepi kolam renang sambil menghisap roko.


Jujur saja antara mas Dani dan Yoga jelas saja lebih ganteng Yoga, hanya saja ia belum memiliki penghasilan seperti mas nya itu.


"Kamu sedang ada dek?" Sapa ku.


"Ngeroko lah apa lagi?"


"Dek, kenapa sih kamu itu selalu saja cuek dan ketus sama mbak?"


"Ya mbak sendiri kenapa mau-mau nya jadi pelakor?"


Deg


Kenapa ia bicara seperti itu? Sungguh tidak sopan sekali anak ini.


"Eleh bulshit dengan cinta itu, mbak enggak ngerasain sih gimana sakit nya suami di rebut orang lain. Kenapa pula mas ku mau-mau nya nikah sama modelan pelakor kaya mbak?"


"Maksud mu apa dek? Jika kamu datang ke rumah ini hanya untuk merecoki mbak, lebih baik kamu pulang saja biar kan mbak di rumah sendirian. Tapi jika mas Dani marah pada mu maka mbak tidak akan ikut campur atau membela mu."


"Dih lagian siapa juga yang minta di belain? Dengar ya mbak, aku tahu semua rahasia mbak bahkan aku tahu pekerjaan mbak dulu di Bangkok ngapain."


"A-apa?"


"Jangan kaget kaya gitu lah mbak." Ucap nya sambil berlalu masuk ke dalam rumah kembali.


Aku masih mematung dengan perkataan anak itu, dari mana ia tahu pekerjaan ku dulu? Dan kenapa bisa? Bagaimana jika mas Dani tahu? Apa yang akan terjadi nanti nya?


Semua pertanyaan itu berputar-putar di dalam otak ku, aku mengejar Yoga yang masuk ke dalam rumah. Dan saat aku sampai betapa terkejut nya aku saat mendapati ia hanya memakai boxer saja, ia juga bertelanjang dada di rumah ini.

__ADS_1


"Kenapa lihat-lihat? Mau?" Tanya nya iseng.


Seketika wajah ku pasti berubah menjadi merah seperti udang rebus, aku malu dengan adik ipar ku sendiri.


Ia berjalan menuju arah ku dan saat kami sejajar ia berbisik tepat di telinga ku yang membuat ku bergidik geli.


"Terpesona ya lihat aku kaya gini? Biasa aja kali lihat nya, kan di Bangkok sudah sering lihat bahkan mungkin di Indonesia pun masih sering lihat oh bahkan mungkin dengan salah satu bapak-bapak komplek sini pun pernah."


"Kamu ..."


Aku berlari menuju kamar ku di lantai atas, memang sejak awal aku membeli rumah ini sudah langsung di renovasi dan di buat menjadi tingkat dua agar aku dan mas Dani bisa melihat senja dari atas balkon.


Aku memilih tidur seharian karena mas Dani tak kunjung membalas atau bahkan meneflon ku balik.


Tanpa terasa hari sudah semakin gelap, aku bangun dan menutup semua pintu dan jendela rumah. Tak lupa juga aku mandi masak dan mandi agar segar.


Biar pun di rumah ada adik ipar ku tapi aku tetap memakai baju tidur yang minim, karena mas Dani membeli kan ku hampir semua pakaian minim.


Setelah selesai semuanya aku menyiap kan makan malam di meja makan, aku akan makan lebih dulu tanpa mengajak Yoga. Toh nanti juga dia akan makan dengan sendirinya tanpa ku suruh.


Saat tengah mencuci piring tiba-tiba Yoga datang menghampiri ku dan memeluk ku dari belakang.


"Pantas aja mas ku tertarik dengan pelakor sekaligus pelacur ini, wong tiap hari di beri pemandangan indah kaya gini" bisik nya.


"Yog, jangan kaya gini enggak baik."


"Oh tidak baik ya, dengan pak RT baik?"


Deg


Kenapa anak ini selalu memberikan ku kejutan yang membuat ku spot jantung seketika? Bagaimana ia tahu permainan ku dengan pak RT?


"Jangan kaget mbak, kemarin aku datang ke rumah ku karena aku ingin menyimpan barang-barang ku dan pergi bermain futsal. Tapi nyatanya aku malah di berikan film biru dengan nyata di depan mata. Sungguh beruntung bukan?"


"Mbak mohon jangan bilang pada mas mu."

__ADS_1


"Mbak tenang saja, aku akan tutup mulut tapi ada syaratnya."


"Apa?"


__ADS_2