Maduku Mantan Terindah Suamiku

Maduku Mantan Terindah Suamiku
Bab 9


__ADS_3

Keesokan harinya mas Dani pulang ke rumah dengan wajah yang kusut, sepertinya ia kurang tidur tadi malam.


"Dek, masak kan air hangat untuk ku mandi." ucap nya.


"Mandi saja dengan air biasa mas, lagian gas nya habis mas."


"Apa? ko bisa habis sih dek?"


"Apa kamu lupa mas? Kamu belum memberikan ku uang untuk belanja."


"Pakai uang mu saja lah dulu dek, kamu kan pasti banyak uang nya."


"Tidak bisa mas, uang ku untuk tabungan nanti Tiara sekolah."


"Argh pelit amat sih dek, udah nih beli gas sekalian belanja." Ucap nya sambil melempar kan uang dua lembar warna merah ke arah ku.


"Belanja makanan yang enak."


Aku tidak menjawab perkataan nya itu, aku berlalu meninggalkan nya di rumah. Seperti biasa aku pergi menggunakan sepeda motor yang lagi-lagi ku beli dengan uang ku.


Sesampai nya di warung Mpok Hindun, ternyata di sana sudah banyak ibu-ibu yang berbelanja.


"Eh neng Ita, tumben pake motor padahal rumah nya deket." Celetuk mbak Ida.


"He he he saya bawa gas mbak, berat jika harus jalan kaki." Jawab ku.


"Oh begitu, memang nya suami mu kemana, Ta?"


"Ada, dia baru pulang habis lembur kaya nya."


"Hati-hati loh Ta, jangan lengah suami sering lembur kaya gitu. Nanti di gondol pelakor baru tahu."


"Mpok, aku mau beli ayam setengah kilo, kangkung nya satu ikat, tahu sama tempe masing-masing lima ribu ya mpok." Ucap ku, aku sengaja mengalaih kan pembicaraan mereka.


Karena aku tidak ingin menjadi lebih kepikiran lagi dengan hal-hal semacam itu. Meskipun sebenarnya aku kepikiran juga.

__ADS_1


"Ada lagi neng?"


"Oh ya hampir lupa, beli segala macam bumbu nya juga ya Mpok."


"Sudah neng?"


"Sudah, berapa mpok."


"Seratus ribu neng sama gas."


"Ini mpok." Ucap ku sambil menyodor kan uang seratus ribu padanya.


Setelah selesai, aku buru-buru pulang karena takut mas Dani marah akibat aku terlalu lama di warung.


"Bu ibu, saya duluan ya!"


"Ya neng." Ucap mereka serempak.


Sesampainya di rumah, lagi-lagi aku mendengar mas Dani menelfon dengan wanita yang entah siapa itu.


"Kamu sabar lah dulu sayang, pasti aku akan menemukan kwitansi itu semua. Tadi aku sudah mencari nya kemana-mana."


"Iya-iya, mas cari lagi nanti. Lagian untuk apa sih sayang? Kan yang penting rumah serta yang lain nya sudah di bayar lunas."


"Tapi jangan kaya tadi malam lagi ya sayang, mas sampai pusing karena tidak di beri jatah oleh mu."


"Oke sudah dulu ya, takut si Ita keburu pulang. Dah sayang love you."


Begitulah kira-kira percakapan mas Dani dengan wanita itu. Hati ku terasa di teriris mendengar kan nya.


Apa benar yang di ucap kan Yanti tempo hari? Apa mas Dani beneran selingkuh? Jika benar sungguh kamu luar biasa mas.


"Assalamualaikum." Ucap ku.


"Wa-waallaikumsalam. Ka-kamu sejak kapan ada di sana dek?"

__ADS_1


"Kenapa mas? ko seperti melihat hantu saja."


"Kamu sejak kapan di sana?"


"Aku baru saja sampai, nih pasangin gas nya mas."


"Oh, kamu kan bisa masang sendiri dek."


"Mas kan bisa masak air sendiri."


"Ah kamu ini, ya udah sini."


Aku melihat hp mas Dani tergeletak begitu saja di atas meja ruang tamu, aku mengambil nya dan melihat dengan siapa ia menelfon.


Ternyata dengan wanita yang sama, apa mereka benar-benar selingkuh? Ku letakkan kembali hp mas Dani, saat ia sudah memanggil ku.


"Dek ... Kamu diman sih? Ini gas nya sudah, cepetan mas pingin mandi."


"Iya mas." Aku berjalan menuju dapur, ku lihat mas Dani tengah duduk di kursi meja makan.


"Dek ..."


"Ya?"


"Apa kamu lihat kwitansi?"


"Kwitansi?"


"Ya."


"Kwitansi apa emang nya mas?"


"Ah sudah lupakan saja, cepat masak ya dek. Setelah air nya matang aku langsung mandi dan setelah itu makan."


"Ya." Balas ku cuek.

__ADS_1


__ADS_2