Maduku Mantan Terindah Suamiku

Maduku Mantan Terindah Suamiku
Bab 29


__ADS_3

Dina dan sang ibu mertua kaget bukan main saat tahu jika restoran tempat mereka makan adalah milik Ita.


"Dina, apa kau tadi mendengar nya?"


"Ya aku mendengar nya bu, kenapa?"


"Ko bisa wanita itu menjadi sukses seperti sekarang?"


"Ya mana ku tahu bu, aku enggak peduli soal itu. Yang aku takut kan itu jika mas Dani benar-benar selingkuh seperti yang di ucapkan mbak Ita."


"Alah kamu jangan dengerin kata-kata dia itu, dia hanya iri sama kamu karena kamu masih menjadi istri Dani satu-satunya. Bahkan sebentar lagi kamu bakalan jadi istri sah."


"Hmm enggak tahu lah bu."


"Tapi kenapa ko kamu belum juga hamil ya Din?"


"Bu, bukan kah aku dan mas Dani sudah memberitahu ibu jangan pernah membahas ini semua. Karena semua ini bukan kuasa ku bu."


"Iya-iya, gitu aja sewot."


Setelah beberapa saat perjalanan akhirnya Dina sampai di rumah ibu mertua, ia tidak mampir terlebih dahulu tetapi langsung pulang ke rumah karena ia merasa sangat lelah sekaligus kepikiran dengan kata-kata Ita tadi di restoran.


Karena ia merasa takut, ia menghubungi Dani untuk memastikan bahwa sang suami benar-benar ada di kantor dan bukan dengan wanita lain.


Tuttt


"Ya kenapa dek?"


"Kamu di kantor kan mas?"


"Iya, memang nya kenapa?"


"Video call mas."


"Lah tumben, kenapa?"


"enggak papa hanya kangen saja."


Telfon pun di alihkan oleh Dani menjadi video call, kini Dina merasa yakin bahwa sang suami sedang di dalam ruangan nya.


Memang kini Dani memiliki ruangan khusus untuk nya, karena sebenarnya pangkat Dani sudah di angkat menjadi wakil manajer. Namun siapa sangka karena pangkat baru itu akan menjadi bumerang bagi rumah tangga nya kelak.


"Syukur lah mas Dani ada di kantor nya, tapi tunggu tadi mas Dani di ruangan siapa ya? Bukan kah selama ini ia hanya pegawai keuangan biasa? Atau jangan ia sekarang sudah mendapatkan ruangan khusus, jika benar aku merasa bersyukur sekali bisa hidup kaya tanya mengeluarkan uang ku sepeserpun."


"Maaf kan aku mas, aku sengaja menunda kehamilan ini karena aku tidak ingin terikat pernikahan yang lama dengan mu. Aku tidak ingin rencana ku gagal."


Setelah menelfon Dani, Dina memutuskan untuk tidur siang karena di rumah nya itu ia sendirian. Namun, semua nya gagal saat pak RT datang ke rumah nya untuk menagih uang iuran bulanan di komplek nya.


"Permisi, bu Dina."


"Bu ..."


Tok ... Tok ... Tok ...


Keluar lah sosok Dina dengan menggunakan lingerie merah, ia memang selalu menggunakan pakaian seperti itu karena biasanya Dani selalu pulang jika ia sedang ingin.


Dengan susah payah pak RT menelan ludah nya, ia melihat Dina dari atas kepala hingga kaki.


"Kenapa pak RT?"


"Oh ini anu ... Aduh ..."


"Masuk dulu pak."


"Ya, terimakasih bu Dina."


"Mau minum apa pak?"

__ADS_1


"Tidak perlu saya hanya sebentar ko. Ini saya mau nagih uang iuran bulanan, mbak belum bayar selama dua bulan terakhir."


"Astaga, benar kah?" Dengan cepat pak RT mengangguk.


"Baik lah, tunggu sebentar ya pak. Saya ambil uang nya dulu ke dalam."


"mbak Dina, boleh saya numpang toilet?"


"Masuk saja ke dapur pak."


Dina tersenyum melihat kelakuan pak RT itu, ia memang sudah merencanakan semua ni. Pasal nya Dani sudah jarang memberikan nya belaian itulah sebab nya ia nekad melakukan itu semua.


Saat pak RT keluar dari kamar mandi, ia tidak sengaja melihat b0 k0 n6 milik Dina yang tereskpos dari belakang dengan bebas nya. Seketika itu juga ada tiang bendera yang semakin menjulang tinggi.


"Mbak Dina astaga cantik sekali," gunam pak RT.


"Ya kenapa pak?"


"Ah tidak."


"Ini uang nya pak, makasih ya."


Sedetik kemudian pak RT langsung menghambur ke dalam pelukan Dina, dan beberapa menit berlalu mereka selesai melakukan aktivitas B3 j4 t mereka berdua.


"Ma-maaf kan saya mbak Dina."


"Kenapa pak RT minta maaf?"


"Karena saya tidak tahan melihat mbak Dina."


"Justru saya senang pak, karena selama ini mas Dani jarang pulang ia pun jarang melayani saya lagi," ucap Dina dengan wajah di buat sedih agar pak RT iba.


"Kalau mbak Dina mau lagi bisa hubungi saya," ucap pak RT kali ini dengan seuntai senyum.


Singkat cerita pak RT sudah keluar dari rumah Dina dan melanjutkan menagih uang iuran ke semua warga. Sedang kan Dina, merasa puas dengan pelayanan yang di berikan oleh RT itu. Meskipun hanya beberapa menit saja tetapi sangat berbeda dengan Dani.


"Assalamualaikum" ucap Dani yang baru pulang dari kantor.


"Aduh sayang, ini masih sore sudah pakai seperti itu sih!" grutu Dani.


"Kan bair kamu seger sayang, setelah melihat tulisan seharian waktu nya melihat yang bening. Bukan begitu?"


"Ada apa ini? Kenapa hari ini kamu manja sekali? Apa ada yang kamu ingin kan?"


"Mas, apa kamu lupa? Jika malam ini malam Jum'at kita sudah lama tidak melakukan nya."


"Ah kamu benar sekali sayang, kalau begitu mas mandi dulu dan siap kan makan malam. Setelah itu akan ku buat kamu jalan merangkak lagi seperti dulu."


Dina merasa senang dengan jawaban yang di berikan Dani pun langsung menyiap kan semua nya, sebenarnya Dina dan Ita tidak memiliki kekurangan apapun. Hanya saja Dani yang terlalu maniak yang tidak puas dengan satu wanita saja.


Setelah semua selesai, sehabis isya mereka melakukan ritual yang sudah lama tidak mereka lakukan. Dani merasa heran dengan Dina yang tidak seperti biasanya.


Bahkan kali ini rasanya sangat berbeda, "sayang, kamu pakai apa?"


"Pakai apa apanya sayang?"


"Rasanya ko beda sekali!"


Deg


Jantung Dina sudah berlomba dengan paru-paru dan yang lainnya. Ia takut jika scandal nya dengan pak RT akan terbongkar.


"Beda gimana?" Tanya Dina berusaha setenang mungkin.


"Rasanya sempit sekali, dan aku suka. Andai kamu setiap hari seperti ini, aku jamin tidak akan berpaling dari mu. Kamu pakai apa sayang?"


"Rahasia dong mas."

__ADS_1


"Ya sudah."


Dani semakin mempercepat ritme permainan nya, tak lupa juga ia mengatur tempo hingga pada akhirnya mereka mengejang bersama setelah beberapa kali semburan larva di rahim Dina.


Bahkan Dani belum merasa puas, ia terus melakukan nya tanpa henti dan tanpa memperdulikan ucapan dan rintihan dari Dina.


Berbeda dengan Dina yang merasa senang dan juga sakit menahan perih di bawah sana. Karena kelakuan sang suami nya itu.


Setelah dua jam berlalu, Dani menyudahi semua nya. Ia menyuruh Dina untuk membersihkan sisa-sisa larva dari Dani.


"Sayang, makasih banyak ya" ucap Dani.


"Shttt ... Sama-sama mas."


"Ya sudah kamu bersihkan dulu sana, aku akan menjawab telfon dari kantor dulu" bohong Dani.


Setelah menerima telfon Dani kembali masuk ke dalam kamar. Ia melihat Dina yang sudah tidur dan sudah menggunakan baju lengkap, Dani tersenyum melihat nya.


Keesokan harinya ...


Dina benar-benar berjalan mengangkang akibat ulah Dani dan pak RT. Tetapi ia tetap saja menyiap kan persiapan untuk sang suami.


"Dek, sudah kalau kamu sakit jangan di paksa kan mas bisa ko sendiri."


"Aku tidak apa-apa mas."


"Oh ya, nanti seperti biasa ya mas tidak pulang selama seminggu. Mas di pindah tugas kan ke kantor cabang, ini uang sepuluh juta untuk dua bulan ya sayang."


"Sepuluh juta?"


"Iya."


"Banyak banget mas. Bukan kah gaji mu hanya lima juta?"


"Itu aku kasbon ke kantor sayang, karena aku akan pergi lama jadi aku memberi mu uang sekarang."


"Makasih ya mas."


Setelah selesai Dina mengantar Dani hingga depan rumah, terlihat ibu-ibu sedang berbelanja sayur dan sebrang sana pun terlihat pak RT dan bapak-bapak sedang bermain catur.


"Aduh yang suka LDR sekali nya ketemu bikin istri sempoyongan," celetuk salah satu ibu-ibu.


Pak RT yang mendengar itu pun seketika berubah masam, karena ia tidak rela jika wanita itu bergaul dengan suami nya.


"Aduh ibu-ibu ini jangan gitu lah malu saya."


"Pak Dani, mau kemana lagi? LDR lagi pak?"


"He he he iya nih bu, saya di pindah tugas kan ke luar kota oleh bos."


"Uhh enak ya jadi mbak Dina, selalu di tinggal tapi uang lancar."


"Iya Alhamdulillah bu."


"Saya permisi ya ibu-ibu sekalian, sayang. Mas pergi dulu ya hati-hati di rumah."


"Ita mas, jangan lupa kabari aku ya."


Dani melajukan mobil nya hingga menghilang dari hadapan Dina, sedangkan Dina berbelanja sayuran bersama ibu-ibu yang lainnya.


"Mbak Dina emang nya gaji suami mbak berapa?"


"Hanya sepuluh juta bu."


"Wih besar itu, memang nya kerja apa?"


"Oh dia sebagai kepala keuangan di kantor nya."

__ADS_1


"Wah enak ya, hati-hati loh mbak jaman sekarang banyak pelakor gatel."


Deg


__ADS_2