
Semua keluarga merasakan duka yang teramat dalam, tetapi tidak bagi Bella dan Dina mereka merasa bersyukur atas kematian Dani.
Karena dendam yang mereka rasakan begitu dalam terhadap nya.
Ida merasa syok saat pihak kepolisian menelfon bahwa Dani mengalami kecelakaan dan meninggal saat di bawa ke rumah sakit.
"Ini semua hanya mimpi kan, Yoga?" Tanya sang ibu pada Yoga.
"Ibu yang sabar ini semua sudah takdir dari tuhan."
"Tapi Yoga, mas mu itu anak yang baik. Meskipun sifat nya sembrono tetapi ia selalu membantu ibu di saat kamu tidak ada."
"Lalu aku apa bu? Jika mas Dani saja yang di ingat! Bahkan sudah mati pun ibu masih membela nya, ibu macam apa ini?" Ucap Yoga emosi.
Ida hanya bisa menunduk sedih karena semua itu, mereka bertemu dengan orang tua Ira di rumah sakit yang melakukan autopsi pada jenazah kedua nya.
Endang ibu nya Ira mengamuk saat bertemu dengan Ida, ia menyalahkan keluarga mereka karena ulah Dani sang putri ikut meninggal bahkan dalam keadaan tragis.
T*n*n sang putri di ketahui p*t*s akibat terjepit pintu mobil, sedang kan badan nya sebagian keluar dari dalam mobil dan sebagian lagi terjepit.
"Ini semua gara-gara Dani anak mu, aku tidak terima jika anak ku manunggal. Kamu harus hidup kan kembali putri ku!" Bentak Endang dengan tangisan yang pilu.
"Ini juga karena anak mu yang menggoda putra ku!"
"Putra mu terlalu g*t*l sampai semua masuk!"
"Sudah-sudah kenapa saling menyalahkan? Ini semua sudah takdir dari tuhan. Kita harus belajar ikhlas," Ucap ayah Ira lebih tenang.
Meskipun terlihat tenang tetapi jauh di dalam lubuk hati nya ia merasa sedih dan menyesal, menyesal karena membiar kan putri nya pergi bersama laki-laki tidak benar.
Sementara itu di kediaman Wahyu ...
Tiara menangis meraung saat mendengar kematian sang ayah, meskipun ia membenci sang ayah tetapi ia masih menyayangi Dani.
"Bu ... Aku menyesal telah mengatakan kata-kata kasar pada ayah!" Ucap Tiara sambil terisak.
"Kamu yang sabar nak, semua sudah takdir dari tuhan!"
"Tapi bu ..."
"Nanti ibu akan ke rumah nenek mu, jika kamu belum kuat tidak perlu ikut nak."
"Aku ikut bu, aku ingin melihat ayah untuk terakhir kali nya!"
__ADS_1
"Kalau begitu makan lah dulu, karena kamu belum makan dari semalam."
"Aku tidak nafsu makan bu."
"Apa kamu mau melihat ibu tambah sedih karena anak ibu sakit?"
"Baik Bu, aku akan makan."
Akhirnya Tiara mau makan meskipun hanya sedikit.
Siang hari nya ...
Mereka pergi ke rumah duka, sepanjang perjalanan Tiara tak henti nya menangis dan memanggil sang ayah.
Padahal Minggu depan ia akan ke Amerika untuk belajar, tetapi ia mendapatkan kabar yang tidak enak.
Sesampainya di rumah duka, Tiara langsung berlalu masuk ke dalam dan menangis di depan jasad sang ayah.
Ia meraung keras di sana, sedangkan Ita menangis di pelukan Wahyu. Meskipun Wahyu sudah melarang nya untuk pergi tetapi ia tetap bersikukuh ingin pergi.
Wahyu punya alasan tersendiri mengapa ia melarang Ita pergi, bukan karena ia cemburu tetapi ia takut jika Ita tidak kuat dan jatuh pingsan di sini.
"Kamu yang sabar ya sayang!" Ucap Wahyu. Hanya di balas dengan anggukan saja.
Ida yang melihat sang cucu menangis keras, merasa ia sangat bersalah karena selama ini ia selalu saja bersikap tidak baik terhadap Tiara.
"Nenek ..."
"Maaf kan ayah mu ya nak, ayah mu sudah banyak membuat luka di hati mu. Begitu juga dengan nenek."
"Iya nek."
"Dimana ibu mu?"
"Di sana dengan ayah," ucap Tiara sambil menunjuk Ita yang duduk di samping Wahyu.
Melihat hal itu Ida bangkit dan mengahmpiri Ita.
"Ita ..." Panggil nya.
"Bu ..."
"Tolong maaf kan Dani, karena selama ini selalu membuat mu terluka! Maaf kan semua kesalahan dia, agar dia tenang di alam sana."
__ADS_1
"Iya bu, Ita sudah memaafkan mas Dani."
"Maaf kan ibu juga ya, ibu tidak tahu umur ibu sampai kapan. Jadi ibu meminta maaf saja sekarang."
"Ibu jangan bicara seperti itu, umur, rezeki dan jodoh itu sudah di atur oleh tuhan!"
"Bukti nya anak ku m*t* dengan tragis."
"Sabar bu, perbanyak lah berdoa agar mas Dani tenang di alam sana."
"Iya Ita. Sekali lagi maaf kan anak ibu itu."
"Iya bu ..."
Mereka berpelukan setelah saling memaafkan, Ida bingung harus meminta maaf bagaimana pada Dina, Bella dan Ria.
Pasal nya Ida tidak tahu keberadaan mereka bertiga, pupus sudah niat Ida untuk menjodohkan Dani dengan Asiyah. Ia tidak ingin lagi menjodohkan Yoga yang kini menjadi anak satu-satunya.
Yoga masih merasa kesal karena ucapan sang ibu waktu itu.
Pemakaman Dani dan Ira berjalan lancar, mereka di makam kan berdampingan karena mereka berdua berada di satu kampung yang sama.
Setelah pemakaman selesai, semua para pelayat bubar meninggalkan rumah duka. Begitu juga dengan Ita dan keluarga kecil nya.
Mereka berpamitan dengan Ida, sedangkan Tiara langsung berpamitan karena ia akan ke luar negeri tak lama lagi.
Satu Minggu setelah kematian Dani dan Ira.
Dina yang baru saja keluar dari penjara akibat laporan perselingkuhan nya dengan pak RT, merasa senang. Tidak ada yang tahu jika Dina di penjara pasalnya ia sudah tidak memiliki keluarga lagi.
Sedangkan hubungan nya dengan pak RT sudah lama berakhir semenjak ketauan sedang melakukan hal itu.
"Akhirnya aku terbebas dari sana!" Gunam Dina.
Dina mencari tempat Dani di kubur kan, dak akhirnya ia melanjutkan perjalanan nya menuju makam Dani.
Sesampainya di sana ia berziarah dan berdoa untuk almarhum.
"Mas, maaf kan aku karena aku tidak hadir di pemakaman mu. Jujur aku benci dengan mu mas! Tapi sekarang semua rasa dendam ku sudah terbalas kan akibat kematian mu yang sangat mendadak ini."
"Jadi aku tidak perlu capek-capek untuk membalas semua ini, tapi aku tidak tahu jika suatu saat nanti aku membalas nya juga pada ibu dan adik mu! Oh ya, apa kau di samping mu ini adalah selingkuhan mu yang baru? Sungguh kalian pasangan yang sangat serasi, mati pun tetap berdua."
"Aku pamit ya mau pulang ke rumah ku yang bertetanggaan dengan ibu mu!" Dina bangkit dan berjalan menuju rumah nya yang sudah lama kosong itu. Bahkan toko milik nya pun tutup akibat tidak ada pemasukan yang jelas.
__ADS_1
Sesampainya di rumah ia melihat mantan ibu mertua yang sangat menyedihkan, ia duduk di teras sambil melamun entah memikirkan apa.
"CK rasain, memang karma itu tidak pernah salah alamat." Gunam Dina.