
Aku sudah seminggu menjadi menantu di rumah ini, tetapi aku dan ibu mertua tidak pernah akur. Bahkan kami selalu cekcok Malasah sepele tetapi mas Dani tidak pernah peduli dengan hal itu ia justru terkadang menyalah kan aku.
Padahal aku sudah menuruti kemauan nya untuk bekerja menjadi wanita malam, dan memberikan uang hasil kerja ku pada nya sebagian dan sebagian lagi aku tabung karena aku tahu jika aku berikan semua pada nya maka uang ku akan habis di pakai oleh merek.
"Aduh Ria ... Kamu ini gimana sih kerjaannya hanya tiduran saja!" Ucap mas Dani dengan enteng.
"Apa kamu bilang mas? Kerjaan ku hanya tiduran saja? Lalu apa kabar dengan mu yang hanya menggoda gadis-gadis di aplikasi hijau itu?"
"A-aku ..."
"Alah sudah lah mas! Udah pengangguran tidak tahu diri pulak."
"Jaga ucapanmu itu ya, Ria."
"Ini kenyataan mas! Apa kamu tidak sadar juga hah? Sudah satu Minggu ini kamu menadah terus pada ku tanpa memberikan aku nafkah, bahkan nafkah batin pun tidak pernah."
"J1 J1 k aku memberikan mu nafkah batin, kamu sudah sering terjamah oleh orang lain. Lalu untuk apa lagi aku memberikan nya?"
Deg
Seketika hati ku menjadi panas saat mendengar perkataan nya yang begitu menyakitkan itu.
"Oh begitu ya mas?"
"Ya iyalah, lagian aku bisa saja kembali pada mantan istri ku. Ia sekarang sudah sangat kaya raya dan kamu hanya seupik abu bagi dia."
"Oh ya?"
"Tentu saja! Bukan hanya itu saja, aku bisa mencari gadis yang masih p3 r2 w2 n untuk ku jadikan istri baru."
"Kalau begitu cari lah, dan mulai sekarang aku tidak akan memberikan mu uang! Jika kamu menganggap ku du r h4 k4 dan tidak tahu di untung, maka kamu salah. Yang sebenarnya seperti itu adalah kamu dan ibu mu."
"A-apa? Kamu jangan sembarang ya. Aku ini masih suami mu dan kamu harus menafkahi ku, dan lagi jangan bicara seenak nya. Laki-laki itu boleh menikah lebih dari empat kali."
"Iya suami yang tidak pernah menghargai istri nya dan hobby menikah, hobby selingkuh, cuman mokondo doang! Iya laki-laki boleh menikah lebih dari empat kali, tapi lihat dulu laki-laki seperti apa itu? Jika seperti mu ... Ah sudah lah, aku tidak mau membahas ini lagian tidak ada guna nya saja!" Aku bangkit dari tidur ku dan membawa tas selempang ku menuju luar.
Aku tidak menghirau kan pertanyaan mas Dani saat aku keluar kamar, bahkan ia sampai berteriak memanggil ku. Aku naik ke atas taxi online pesanan ku dan pergi meninggalkan mas Dani.
Sebenarnya aku memiliki apartemen hadiah dari ayah ku dulu sewaktu aku masih kuliah, ia memberikan dan kini masih terawat dengan sangat baik.
Ibu ku tidak mengusir ku dari rumah yang di Surabaya akibat pernikahan ini, ini semua hanya akal-akalan ku saja pada mas Dani agar ia tidak menumpang di rumah ibu ku.
Mas Dani tidak mengetahui semua ini, aku sengaja menutupi semua dari nya dan juga dari ibu mertua.
Mas Dani terus menerus menghubungi dan mengirimkan pesan tiada henti, namun tidak satu pun aku membalas nya. Aku membiarkan nya.
__ADS_1
[Apa kamu ingin menjadi istri du r h4 k4 Ria? Cepat pulang sekarang dan jangan keluar tanpa seizin ku kecuali kamu bekerja!] Salah satu pesan dari mas Dani.
Sungguh lemes sekali mulut nya ini, dulu niat hati ingin menjebak nya dan menghabiskan harta milik nya. Namun, kini? aku hanya mendapatkan ampas b3 ke s para istri nya itu. Tetapi aku tetap mendapatkan uang sebesar sepuluh juta dari mas Dani, dan beberapa barang barended lainnya.
Serta mobil yang ia beli dulu, namun aku menjual dan membeli mobil keluaran baru lagi. Aku simpan mobil itu di parkiran apartemen ku karena jika aku membawa nya ke rumah, aku sudah tahu apa yang akan terjadi nanti nya.
Keesokan harinya ...
Aku mendapatkan pesan dari mas Dani bahwa ia akan mengajak mbak Ita untuk kembali pada nya dan menguras harta milik mbak Ita, aku hanya tersenyum sinis membaca pesan itu.
"Sungguh pede sekali kamu mas!" Gunam ku.
Aku tetap tidak membalas pesan dari nya, hari ini aku pulang ke rumah mas Dani hanya ingin melihat apa ia berhasil membawa mbak Ita pulang atau tidak.
Sebelum itu aku singgah ke restoran untuk sekedar makan siang, di sana aku melihat mbak Bella bersama seorang pria yang sangat tampan dan mapan.
"Eh ada p3 l4 cu r di sini," ucap ku sinis pada mbak Bella.
Seketika mereka berdua menoleh ke arah ku.
"Apa maksud mu bicara seperti itu?" Ucap nya bangkit. Waw ternyata perut nya sudah besar tapi jujur ia masih saja cantik.
"Emang kenyataan kaya gitu kan? Heh mas, jangan mau sama dia. Dia itu wanita malam loh! Mending sama aku, masih gadis dan di jamin akan membuat mas m3 l4 y4 n6 jauh ke angkasa!" Ucap ku pada cowok ganteng itu.
"Maaf ya mbak! Saya lebih sayang dan cinta pada istri saya. Sayang ayok kita pergi dari sini, aku tidak ingin kamu merasa tidak nyaman karena ada lalat di sini!" Ucap nya tak kalah pedas dari mulut ku.
"Iya kamu lalat yang selalu hinggap di mana saja! Aku tahu kamu bekerja di salah satu caffe malam, dan apa kamu tahu? Caffe tempat mu bekerja adalah milik suami ku sekarang, jadi aku bisa saja memecat mu sekarang juga!"
"A-apa? Ti-tidak bisa begitu dong!"
"Makanya jangan cari gara-gara sama orang lain, kasian ya. Niat hati mau merebut mas Dani dan menikmati semua nya tanpa harus bekerja. Tapi nyatanya sekarang?"
"Heh kamu juga p3 l4 k0 r ya!"
"Memang benar aku p3 l4 k0 r , tapi aku memiliki alasan tersendiri dan sekarang? Aku memilih menyerah karena aku sadar jika aku salah, aku sadar jika aku tidak berhak mengambil kebahagiaan orang lain. Lalu kamu?"
"Sudah sayang, ayok kita pergi."
Mbak Bella dan suami nya pergi meninggalkan ku di restosan itu, tanpa mengurangi niat ku untuk makan.
Aku langsung memilih meja di pojokan untuk makan.
Selang dua puluh menit menunggu akhirnya makanan ku datang, setelah selesai makan aku kembali ke rumah ibu mertua tidak lupa aku membawa kan ayam geprek untuk nya.
Siapa tahu mereka kelaparan akibat aku tidak memberikan nya uang, maklum mereka sekarang semua dari ku.
__ADS_1
Kata nya duit h4 r4 m tapi tetep aja mereka meminta, aneh!
Setelah tiga puluh menit perjalanan akhirnya aku sampai di depan rumah nya, aku langsung masuk dan meletakkan ayam geprek di atas meja makan.
Rumah terlihat sepi tak berpenghuni, aku yakin jika mereka sedang mendatangi mbak Ita. Dan mengemis meminta untuk kembali pada mas Dani, sama hal nya saat mas Dani meminta mbak Bella untuk tidak bercerai dan akhirnya mereka tetap saja bercerai.
Aku mandi dan tiduran di atas kasur di kamar ku, terdengar suara ribut dari depan. Aku yakin itu mereka sudah pulang. Aku tetap diam di kamar dan masih mendengar kan perdebatan mereka berdua.
"Pokoknya ibu tidak mau tahu ya, dan. Kamu harus membujuk Ita agar kembali padamu."
"Tapi bagaimana caranya?"
"Ya terserah kamu lah Dani, ibu sudah tidak bisa hidup dengan wanita itu di rumah ini."
"Siapa yang ibu bilang wanita itu?"
"Ria ..." Ucap mereka kaget.
"Dasar tidak tahu malu, sudah meminta uang bulanan dari ku masih saja menyebut ku seperti itu!"
"Seharusnya kamu juga sadar diri Ria, pekerjaan mu memang seperti itu kan?" Tanya ibu mertua dengan mata melotot.
"Harus nya ibu mertua ini sadar kan diri, apa anak mu yang kamu banggakan ini bisa menafkahi mu, jika bukan aku?"
"Jelas tidak bukan? Itu lah sebab nya jangan pernah menghardik ku seperti itu jika anak ibu saja hanya pengangguran" Lanjut ku.
"Jaga ucapanmu itu Ria, makin kesini makin ngelunjak aja jadi istri!" Lantang mas Dani.
"Lah kamu? Makin ke sini makin lemes aja tuh mulut."
"Sudah-sudah, ibu lapar apa kamu membeli makanan untuk kami?"
"CK dasar tidak tahu malu, lihat saja di dapur."
"Ria ..."
"Apa?"
"Jangan pernah berbicara seperti itu, jika kamu masih menumpang di rumah ini!" Ancam mas Dani.
"Baik lah, aku akan pergi dari rumah ini. Dan selamat untuk kedepannya kamu lah yang menanggung semua nya."
"Bu-bukan seperti itu maksud ku!"
"Sudah lah mas, jika kamu tidak bisa membiayai kehidupan kamu dan ibu mu yang tidak tahu diri itu. Lebih baik kamu diam saja tidak perlu banyak bicara."
__ADS_1
"Kamu ..."