
🌸🌸🌸
Setengah jam berlalu kini Calista sudah wangi dan rapi, ia hendak pergi ke dapur untuk membantu bi Mia masak. memang apalagi membaca buku, ia sangat bosan jika setiap bangun tidur ia harus membaca buku jadi ia memutuskan untuk langsung turun, toh sekarang pintu kamarnya tidak di kunci dengan syarat harus ada yang mengawasinya agar ia tidak kabur begitulah kata sang tuan muda Bryan.
Di lihatnya sang empunya kamarnya sedang tertidur pulas, ia pun langsung bergegas turun ke bawah malas jika berlama lama di kamar itu, apalagi jika nanti sang empunya kamar bangun dan memancing emosinya di pagi hari bisa bisa moodnya akan buruk seharian ini.
"Pagi bi" sapa Calista dengan senyum ramahnya.
"Pagi juga nona. Sepertinya nona sedang berbahagia ya, terlihat sekali wajah nona yang berbinar ceria begitu"
"ah, bibi bisa saja. Oh iya bi kita masak apa hari ini ?"
"cumi pedas sama tumis kangkung non. Apa nona yakin ingin membantu bibi memasak ?
tapi nanti kalau tuan marah bagaimana nona, tuan pasti tidak akan mengizinkan nona untuk menyentuh dapur"
" bibi tidak usah pedulikan dia. Biar nanti aku yang berbicara padanya. Bibi jangan takut ya. Lagian aku juga suka memasak bi, Kalau di rumah setiap ibu memasak pasti aku akan membantu ibu, ibuku sangat pandai memasak lho bi, Makanya aku juga ingin bisa memasak dan pandai memasak seperti ibu bi. emm aku jadi rindu dengan ibu dan ayahku bi. Bagaimana kabar mereka ya ?" ucapnya dengan menunduk sedih dan matanya yang kini sudah berembun.
"nona jangan sedih. Pasti ayah dan ibu nona baik baik saja. Apa nona coba saja izin pada tuan, siapa tau tuan mengizinkan nona untuk bertemu ibu dan ayah nona" ucapnya sambil tanganya mengelus lembut rambut Calista yang sebahu itu.
"aku tidak yakin bi, dia itu menyebalkan bi"
"siapa yang menyebalkan? " seru Bryan dengan suara yang menggelegar yang sontak membuat dua wanita beda usia itu terkejut bukan main. Bryan yang sudah berada di dekat pintu dapur dengan tangan yang bersedekap di dada menatap tajam kedua wanita itu. Bi mia sudah gemetaran dan gugup. Matilah ia yang sudah ikut membicarakan tuan nya di belakangnya.
__ADS_1
"bukan siapa siapa. Lagian mengapa kau disini ? kan sarapanya belum siap dan aku juga belum memanggilmu"
"kau kemarilah"
"aku sedang membantu bi mia memasak, apa kau tidak melihatnya"
"tapi itu bukan tugasmu. Cepat kemari jangan membantahku. Jadilah gadis yang penurut dan Jangan membangkang!!" bentaknya pada Calista. Gadisnya itu selalu saja senang membuat ia tersulut emosi dan memarahinya.
"tetapi aku sedang memasak, kau cukup duduk manis saja di kursi" ketus Calista. Ia kesal, pria itu selalu saja membentaknya. hari hari nya pria itu hanya marah marah saja membuat Calista ingin merobek mulut pedasnya itu.
"aku bilang kemari ya kemari. Apa susahnya menjadi penurut sih ha" Bentaknya sambil tanganya menyeret calista naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.
"akh, sakit" ucap Calista saat tanganya di cekal dengan kasar dan kuat sehingga nampak kemerahan di kulitnya yang memang putih itu.
*****
"aku bilang jadilah penurut. Apa kau memang harus di marahi dan di kasari dulu. Agar kau menurut Gadis Pembangkang" teriak Bryan setelah menghempaskan tubuh Calista di sofa panjang di kamarnya.
"ya aku memang pembangkang memang nya kenapa ha ? Kau tidak suka, maka lepaskan aku sekarang juga!!!" Sungut Calista yang sudah sangat emosi itu.
"kau berani bicara seperti itu ha" bentak Bryan sambil tangan kanannya mencekik leher Calista dengan kuat. Lalu menghempaskan nya dengan kasar.
uhk uhk uhk
__ADS_1
"sudah cukup, kau selalu saja kasar. Sebenarnya apa mau ha ? Mengapa kau menahanku di sini" ucapnya dengan berderai air mata. Ia sudah sangat lelah di tambah ia sangat rindu dengan kedua orang tuanya.
Bryan bergeming ia diam dan ia memalingkan wajahnya. Ia tak bisa melihat gadisnya itu menangis. Apalagi yang membuatnya menangis adalah dirinya sendiri. Tapi ia juga kesal dengan gadisnya. Karena ia selalu saja membangkang dengan apa yang di ucapkanya. Bryan bergegas pergi keluar dari kamar dan membanting pintu sekeras mungkin ia akan ke markasnya saja. Saat menuruni tangga bi mia memanggilnya.
"tuan, sarapanya sudah siap" ucap bi mia dengan menunduk takut melihat tuannya yang sedang kabut dengan emosi itu.
"aku akan sarapan di luar saja, bi pastikan gadisku itu memakan sarapanya ya" ucap Bryan dan langsung bergegas pergi dari sana tanpa menunggu jawaban bi Mia.
.
.
.
.
.
Thankss readerss yang masih setia baca Novel aku😘
.
.
__ADS_1
.
Mohon bimbinganya ya readerss, kalau masih ada yang typo atau masih ada kata yang kurang pas😘💚