
🌸🌸🌸
Bryan menghela nafas panjang, ya ia memang bersalah di sini. Tetapi ia juga ingin gadisnya itu selalu di sisinya. Katakanlah dirinya egois.
"Iya aku tau, sudah pesan makananmu dulu. Dan tak usah menunggu temanmu itu, aku yang akan mengantarmu dan berbicara pada orang tuamu"
Namun Calista hanya diam saja dan ia pun membolak balikan buku menu, ia bingung mau pesan apa saat sudah dapat apa yang dia mau dan memesan menu untuk dirinya dan Bryan. Karena ia tak tau apa yang pria itu suka ia pun bertanya.
"Kau ingin makan apa ?"
"Samakan saja sepertimu, aku suka apa saja"
"hmm"
"Tumben dia diam saja aku bersikap seperti ini biasanya ia akan marah padaku, tapi bagus deh. hmm aku harus memikirkan cara agar bisa kabur darinya mumpung ia bisa bersikap lembut padaku tetapi aku harus menunggu waktu yang tepat dulu" gumam Calista dalam hati sambil memikirkan caranya.
***
Beberapa menit berlalu dan menu makanan sudah dateng. Mereka hanya makan dalam diam hanya suara dentingan sendok yang bersahutan dan obrolan orang-orang di dalam resto itu.
__ADS_1
Setelah selesai makan Calista langsung menemui Arini, ia akan ke rumah sakit sendiri bersama Bryan.
"Arini" Panggil Calista saat sudah di samping sahabat nya itu.
"Kenapa ? aku sudah menyuruhmu untuk menungguku bukan dan mengapa kau malah bersama pria itu bukan nya kau tak menyukainya, kau beneran tertangkap lagi" tanya Arini dengan wajah serius
"Arini tanyalah satu-satu dan pelankan suaramu. kalau dia mendengar kau nanti malah terkena amukan nya" seruku sambil berbisik.
"Iya maaf-maaf tetapi kau harus menjelaskan padaku sekarang, mumpung resto sedang sepi nih"
"Iya-iya bawel. sebenarnya saat aku bertemu ibu waktu itu aku tertangkap olehnya sepertinya ia sudah menyuruh pengawalnya untuk mengintai di sekitaran toko kue ibuku. Sehingga saat aku keluar dari toko kue saat sudah berjalan cukup jauh ia dan para pengawalnya mengepungku, aku tidak bisa lari lagi karena mereka banyak sekali apalagi tubuh mereka yang kekar dan besar aku takut juga. Dan sekarang ia akan mengantarku ke rumah sakit, ia juga akan berbicara pada orang tuaku. Aku tidak tau ia akan berbicara apa tetapi perasaanku tidak enak rin"
"Apa Handphonemu ada ?" tanya Arini
"ia sudah menyita Handphoneku, begitu aku tertangkap lagi kala itu."
"Apa ia berbuat kasar lagi padamu ?"
Calista pun hanya bisa meneteskan air matanya, Arini yang melihatnya langsung memeluk sahabatnya itu.
__ADS_1
"Sudah-sudah kita akan pikirkan caranya agar kau bisa lepas darinya"
"Itu akan sulit rin, sekarang di rumah itu di setiap sudutnya di beri pengawal. Bahkan di depan kamarku pun ada satu pengawal yang berjaga, semua aktivitasku pun di awasi oleh pengawal itu juga. aku sama sekali tidak bebas di sana, tapi itu lebih baik dari pada aku terus di kurung di dalam kamar yang benar saja coba" seruku dengan sedikit kesal mengingat setiap yang ia lakukan selalu di awasi oleh para pengawal Bryan.
.....
Bryan yang menunggu gadisnya itu lama beranjak dan menghampiri gadisnya itu.
"Apa sudah acara reunian nya ?" tanya Bryan yang membuat pelukan dua sahabat itu terlepas.
"ya udah rin, aku pergi dulu ya aku akan langsung ke rumah sakit bersamanya"
"Iya kau hati-hati ya" ucap Arini dan memeluk sahabat tersayangnya itu lagi.
"Iya daah" seruku sambil melambaikan tangan ke Arini begitupun sebaliknya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...