
🌸🌸🌸
Setelah sampai di butik termahal di dalam mall itu. Bryan mengajak Calista untuk memilih pakaian yang ia suka.
"Pilihlah yang kamu suka, sebanyak yang kamu mau" ucap Bryan datar.
"Untuk apalagi, Pakaian yang kau belikan saja sudah banyak bahkan ada yang belum ku pakai" serunya dengan wajah bingung.
"Menurut saja. Jangan membantah kau tau kan aku tidak suka di bantah. Jangan memancingku untuk kasar padamu lagi. aku akan tunggu di depan, ku ingatkan sekali lagi, kau jangan pernah berencana untuk kabur karena itu akan percuma"
"Iya iya, aku tidak akan kabur lagi. ya sudah kalau kau memaksa aku akan memilih baju tapi beberapa stel saja ya. Kan baju di rumah juga masih banyak"
"Ya terserah kau saja"
__ADS_1
Setelah memilih pakaian, Bryan mengajak Calista untuk memilih tas dan sepatu. Setelah puas berkeliling mereka melanjutkan perjalanan menuju resto dimana Arini bekerja dan dirinya dulu. Mereka akan sekalian makan siang bersama karena jam sudah menujukan pukul satu siang.
****
Setelah sampai di resto Calista langsung turun tanpa menunggu Bryan. Bryan pun hanya bisa menggeleng kan kepala melihat gadisnya itu begitu bersemangat bertemu sahabatnya. Calista melihat Arini sedang melayani customer setelah melihat Arini telah selesai dan ingin melangkah meninggalkan customernya itu, Calista langsung berteriak memanggil nama sahabatnya itu tanpa peduli tatapan dari orang-orang disana. Arini yang mendengar suara seseorang yang ia kenali sedang memanggilnya pun langsung menoleh dan tersenyum.
"Arini" teriak Calista yang sudah berada beberapa langkah di belakang Arini.
"Lista kau kemana saja ? Aku dan Arya mencarimu di tempat kosmu tidak ada bahkan di tempat kerjamu pun tidak ada. Saat aku ingin menghampirimu di rumah yang waktu itu menyekapmu kata Satpam di sana tidak ada perempuan yang bernama Calista bahkan mereka mengusir kami. Ibu dan ayahmu juga mencarimu dan menanyakanya padaku. Sekarang ayahmu berada di rumah sakit karena ia syok mengetahui kamu menghilang bahkan ibumu juga sempat drop" ucap Arini panjang lebar dan memeluk sahabat tersayangnya ini.
"Benarkah jika ibu drop dan ayah sekarang masuk rumah sakit ?" seru Calista matanya sudah berkaca kaca bahkan air matanya mulai menetes perlahan.
"Iya, jika kau ingin menjenguk ayahmu ia ada di rumah sakit medika. Aku bisa mengantarmu. Tapi tunggu sekitar dua jam lagi ya setelah aku menyelesaikan pekerjaanku dulu. Sekarang kau duduk di sebelah sana dulu ya. Aku akan menyampaikan pesenan ini dulu sebentar"
__ADS_1
"Iya, kau bekerjalah dulu. Aku akan menunggumu" ucap Calista di tengah isak tangisnya. Lalu ia pun duduk di meja yang di tunjuk Arini dan Arini segera berlalu pergi dari sana. Tanpa mereka sadari sepasang mata melihat dan mendengar obrolan mereka. ya dia adalah Bryan yang sedari tadi mendengarkan obrolan dua sahabat yang telah lama berpisah itu. Ada rasa bersalah yang menyelimuti hatinya secara tidak langsung ia turut membuat orang tua gadisnya itu berada di rumah sakit saat ini.
"Aku nanti yang akan mengantarmu, sekarang kau pesan dulu makanan nya. Kau harus makan jika ingin bertemu dengan orang tuamu"
"Semua ini karenamu. Jika kau tak menculik ku atau setidaknya mengizinkan ku untuk keluar menemui orang tuaku. Ini semua tidak akan terjadi. Jika sampai terjadi sesuatu pada orang tuaku aku tidak akan memaafkanmu" ucapku sambil menatap tajam ke arah Bryan.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1