
🌸🌸🌸
Setelah mendapatkan nomer kamar di mana ayahnya di rawat. Calista langsung meminta Bryan untuk segera mengantar nya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Calista langsung mencari nomer kamar ayahnya. Ia dapat melihat ibunya yang sedang tertidur di samping Brankar ayahnya dengan posisi duduk dan tanganya menggenggam tangan ayahnya.
"Ibu" lirih Calista saat sudah berada di samping ibunya.
Sang ibu yang mendengar suara putrinya pun bangun dan menoleh ke samping. Di lihatnya putri semata wayangnya berdiri di sampingnya dengan air mata yang deras. Calista pun langsung menghambur ke pelukan ibunya.
"Maaf, Maaf bu sudah membuat ibu dan ayah khawatir hingga ayah harus masuk ke rumah sakit lagi. Maafin Calista bu" ucapnya sambil terisak dalam pelukan ibunya.
"Kamu kemana saja ? mengapa nomer ponselmu juga tidak aktif ?"
Bryan yang melihat dan mendengar obrolan ibu dan anak itu merasa sangat bersalah dan langsung menghampiri mereka berdua.
"Permisi" Ucap Bryan sebelum Calista menjawab pertanyaan ibunya itu.
"Maaf jika saya menggangu kalian, saya minta maaf bu selama ini yang membawa Calista adalah saya, waktu itu saya tidak sengaja menabrak Calista kondisi nya sedikit parah bu, sebenarnya ia merengek minta untuk di antar pulang tetapi tidak saya izinkan karena saya ingin Calista sembuh dulu bu. Maaf bu sudah membuat khawatir. Dan maaf untuk Ponsel Calista saat itu tidak ada di tempat sehingga tidak bisa memberi kabar ke ibu" seru Bryan dengan suara lembut.
Calista yang mendengar ucapan Bryan terkejut pasalnya pria itu sangatlah pintar dalam bersandiwara dan berbohong di depan ibunya.
"Dasar pria pembohong" gumam Calista dalam hati.
Sedangkan ibunya yang mendengar itu semakin menangis pantas saja setelah waktu itu Calista pulang menemuinya perasaan nya tidak enak ternyata ini yang terjadi.
"Sayang tapi kamu tidak apa apa kan ?" tanya Siska dengan khawatir dan membolak balikan tubuh putri semata wayangnya itu.
"Aku tidak apa apa bu. Justru aku yang khawatir karena Arini bilang ibu katanya sempat drop juga"
"Dasar anak itu" gerutu siska yang di tunjukan untuk sahabat Calista itu.
"Ibu iih, Arini bilang begitu karena ia khawatir sama ibu juga"
__ADS_1
"Iya iya ibu tau nak" serunya sambil tersenyum.
"bu lalu kondisi ayah gimana ?"
"Ayah masih sama sayang, sebenarnya tadi ayahmu sempat siuman sebentar tetapi begitu tau kamu belum ada di sampingnya ayahmu kembali tidak sadarkan diri" seru Siska dengan sendu dan wajahnya yang nampak murung.
"Bu sebentar ya, aku bicara dulu dengan temanku ini"
"eh sebentar! kan kamu belum mengenalkanya ke ibu sayang"
"ah iya, kenalkan bu dia Bryan. Dan Bryan kenalkan beliau adalah ibuku"
"Bryan tante" ucapnya sambil mengulurkan tangan nya ke depan dan tersenyum ramah.
"Siska, ibunya Calista nak" jawab Siska dengan menerima uluran tangan Bryan.
"ya sudah bu, aku bicara dengan temanku sebentar ya. Ibu di sini dulu sebentar saja ya bu"
*****
Setelah membawa Bryan keluar dan menjauh dari kamar ayahnya Calista pun memulai pembicaraan.
"Aku mohon tuan izinkan aku menemani ibuku dulu, sampai ayahku sembuh aku mohon" ucapnya sambil kedua tanganya mengatup di depan dada.
"Boleh, tapi ada syaratnya"
"Apa syaratnya ?"
"Harus ada pengawal yang menjaga di sini dan kau janji tidak boleh kabur"
"Iya aku janji" serunya sambil tersenyum sangat manis. Senyuman yang belum pernah Bryan liat.
"Dan ada satu lagi" seru Bryan dengan nada serius.
__ADS_1
"Ha ? Masih ada lagi. Apa ?
Lalu Bryan mengambil dompet di saku celananya dan mengeluarkan kartu tanpa batas limit dan beberapa uang seratus ribuan dan di berikan pada Calista.
"Ambilah, pakai kartu ini untuk biaya orang tuamu selama di rumah sakit ini dan uang ini untuk membeli makanan dan naik taksi jika ibumu atau kau ingin kembali ke rumah mungkin. Dan aku tidak menerima penolakan!! Jika kau ingin aku mengizinkan mu di sini maka penuhi semua syarat yang aku ajukan ini!!" Tegas Bryan
"Baiklah aku akan menerima semua ini, tapi biarkan aku disini sampai ayahku sembuh ya"
"Ya"
...
Di markas Bryan..
Saat ini para anak buah Bryan sedang memberikan siksaan untuk Niko sebelum mengambil nyawa pria itu. di ambilnya besi yang sudah di panaskan dan di tempelkan di kulit Niko.
"Tolong jangan, aku mohon bebaskan aku. Aku akan memberikan kalian uang berapapun yang kalian inginkan"
Namun para anak buah Bryan tak mendengarkan nya dan tetap menempelkan besi panas itu.
"akkhhhh, panas aku mohon hentikan. Akhhhh" suara teriakan dari Niko ketika besi panas itu menyentuh kulitnya.
"Makanya jangan berani-beraninya menyentuh bos kami dan apa tadi kau akan memberikan uang sebanyak yang kami inginkan. Cih. Kami tidak akan tergiur dengan semua itu. Karena prinsip kami adalah Setia. Dan mau kau memberikan apapun itu kami tidak akan pernah goyah. Camkan itu!!" Tegas Atta dengan mata yang tajam yang berada di belakang anak buahnya, sambil terus mengamati yang di lakukan anak buahnya itu.
"Sudah cukup!! Hentikan kita lanjutkan besok lagi" Ucap Atta dengan menyeringai.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1