
"Mas Bilson kemana sih? Udah sejam aku nunggu di sini tapi belum balik juga. Ihh, kesal deh!" gerutu Dewi.
Gelasnya sudah kosong tapi Bilson belum juga menunjukkan batang hidungnya.
"Ah, lebih baik kususul saja!" tukasnya lagi.
Ia lalu meninggalkan kursinya dan menuju toilet pria.
"Tante ngapain di sini? Ini kan toilet pria?" tanya seorang lelaki muda yang hendak masuk ke dalam toilet.
"Heh, enak aja manggil saya tante! Emangya aku pernah nikah sama om kamu?" celetuk Dewi.
"Idih, tante galak banget sih! Aku kan cuma nanya. Lagian cocok tuh dijuluki tante soalnya..."
"Bisa diam, nggak? Timpuk mau?" kesal Dewi.
Lelaki itu pun melangkah cepat masuk ke toilet nyaris menabrak seseorang yang baru keluar dari toilet itu.
"Maaf, mas!" ujarnya.
Orang yang nyaris ditabrak oleh lelaki muda itu hanya mengangguk. Dia menatap Dewi dengan tatapan lain. Namun enggan bersuara.
Lelaki itu kalau dilihat dari tampangnya, sebaya dengan Dewi. Tapi Dewi juga tak berselera menegurnya. Untuk berdiri di sini saja ia sudah sangat malu. Apalagi harus menegur para lelaki yang hilir mudik ke toilet.
"Ihhh, mana sih mas Bilson?" gerutunya.
Selama sejam ia menunggu di samping tolilet tapi tak menemukan Bilson.
"Hadeh, dua jam waktuku terbuang sia-sia. Kalau bukan karena uangmu, aku nggak akan mau menunggu selama ini." gumam Dewi.
Ia sangat kesal diperlakukan Bilson seperti ini. Lalu ia pun menendang dinding toilet itu dengan kaki kanannya.
"Awww, sakit." keluhnya.
Orang-orang yang hilir mudik dari toilet menertawakannya, menertawakan kebodohannya.
Pipinya memerah karena malu. Dengan langkah cepat ia kembali ke tempat duduknya tadi.
Dipesannya air mineral kepada pelayan cafe. Lalu ia hendak beranjak dari duduknya hendak meninggalkan cafe itu.
"Nyonya, bayarannya!" tukas pelayan cafe.
"Aduuh, lupa pula aku bayarnya. Sial!" gerutu Dewi.
Ia merogoh tottebag-nya dan mengeluarkan credit card-nya.
"Ini." ujarnya.
Dewi kembali duduk di kursi itu dan menunggu pelayan mengembalikan credit card-nya.
"Maaf, nyonya."
"Ada apa lagi? Aku kan uda bayar?"
"Tapi nyonya, credit card-nya nggak bisa nyonya."
"Apa? Kamu kali yang nggak tau gimana menggunakan credit card!" ujar Dewi kesal.
Dewi mulai nyolot.
"Maaf nyonya, saya sudah mencobanya beberapa kali tapi nggak bisa nyonya." ucap pelayan itu dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
Jangan-jangan credit cardku diblokir sama sanjaya br***sek itu. Aihhhh, sialnya aku hari ini. Gerutu Dewi dalam hati.
"Bayar cash aja nyonya!" ucap si pelayan masih sopan.
Dewi pun mengambil credit card -nya itu dan memasukkannya ke dalam dompet berwarna coklatnya.
"Berapa?"
"Tigaratus ribu aja, nonya." ucap si pelayan.
"Apa? Tigaratus ribu? Gila! Aku kan cuma pesen kopi dan air mineral. Mahal banget. Kalian itu lintah darat ya. Bikin harga selangit begitu!" tukas Dewi.
"Iya, nyonya. Kopinya kan mahal nyonya. Kalau nggak sanggup bayar kenapa datang ke sini nyonya." ucap si pelayan asal.
"Oh, berani kamu mengatai aku begitu ya!"
"Makanya nyonya, bayar! Kecuali tadi ANDA datang dengan pakaian lusuh, maka kami akan memberikannya secara gratis." ledek si pelayan itu dengan berani.
Tiba-tiba menejer cafe datang.
"Ada apa ini, Grace?"
"Ini, pak. Ibu ini belum bayar pesanannya. Awalnya saya minta baik-baik tapi dia malah nyolot, pak." adu pelayan itu kepada sang menejer.
"Maaf, bu. Tapi ibu harus melakukan pembayaran." cela si menejer. Ari nama menejer itu.
Dewi membuka kembali dompetnya. Dan mengeluarkan uangnya lalu memberikan kepada si pelayan.
"Lho, kok segini? Ini kurang, bu. Harusnya tigaratus ribu. Ini ibu kasih dua ratus lima puluh ribu." tukas pelayan itu tak terima.
Ia masih berusaha mengejar Dewi yang hendak keluar dari cafe.
"Sudah, Grace. Malu kita dilihat para pelanggan!" ujar Ari menghentikan Grace.
"Biarkan saja. Nanti kalau dia berani ke sini lagi, kita nggak usah ladenin." ucap Ari.
"Baik, pak." sahut Grace.
Ia kembali dengan pelanggan yang sedang menunggu untuk memesan.
Di restoran Moon.
"Kamu kok lama sih, mas? Aku uda setengah jam nungguin kamu." cerocos Santi saat Bilson baru saja duduk.
"Maaf, sayang. Tadi macet di jalan. Terus isi minyak sebentar ke pombensin, eh malah antri lagi. Maaf ya, sayang." ucap Bilson berdalih.
"Beneran?"
"Iya, sayang. Beneran." tukas Bilson.
Bilson memesan makanan karena dia sangat lapar.
"Kamu nggak makan sayang?" tanya Bilson.
"Nggak. Aku lagi malas makan."
"Lha, kenapa?"
"Nggak nafsu. Bawaannya mual lihat makanan itu."
"Kenapa bisa begitu, sayang?"
__ADS_1
"Nggak tau mas. Mungkin aku masuk angin." jawab Santi santai.
Pesanan makanan Bilson datang.
"Uweeeeek, uweeeek."
Santi mual melihat makanan itu. Ia pun berlari ke kamar mandi.
Bilson khawatir dan langsung mengikutinya.
"Kamu makan saja, mas. Nggak mungkin kan mas ikutin aku ke kamar mandi wanita?"
"Oh iya. Ya sudah. Aku makan dengan segera. Habis itu kita ke RS nanti periksa kamu. Sekalian minta obat masuk angin."
Bilson pun duduk kembali dan menyantap makan siangnya. Sungguh menggiurkan memang lauknya. Hmmmm. Ada udang goreng, beef stick, fried chicken. Dan ada beberapa jenis sayuran.
Satu jam kemudian
"Bagaimana keadaan pacar saya dok?" tanya Bilson ke dokter.
"Pacar? Wanita ini masih pacar anda?" tanya sang dokter bingung.
"Iya. Kenapa dokter? Apa salah saya pacaran dengannya?"
"Bu-bu-bukan begitu, pak. Itu sih terserah bapak karena bukan urusan saya. Tapi..."
Sang dokter memberi jeda.
"Tapi kenapa, dokter?" tanya Bilson penasaran.
"Wanita itu sedang hamil, pak. Saya kira tadi bapak suaminya." ucap si dokter.
"Apa? Hamil?" pekik Bilson.
"Iya, pak. Dia hamil. Usia kandungannya kurang lebih satu bulan. Itu yang saya lihat dari hasil USGnya pak."
"Boleh saya lihat hasilnya?" tanya Mark.
Sang dokter mengambil buku kecil hasil dari USG Santi.
"Ini, pak. Silakan bapak baca. Kalau ada yang ingin ditanyakan, silakan!" tukas sang dokter.
Bilson membaca hasil USG itu dengan seksama. Bahkan sampai berulang-ulang.
"Jenis kelaminnya apa, dokter?" tanya Bilson.
"Belum bisa dideteksi, pak. Nanti akan terlihat saat USG lagi pada kehamilan tiga sampai lima bulan, pak." jelas sang dokter.
"Oh, gitu. Trimakasih dokter.
"Sama-sama." jawab sang dokter.
Bilson mendekati Santi yang masih telentang di tempat tidur di ruangan sang dokter.
"Aku hamil, mas?" pekiknya.
"Iya. Usia janin sudah sebulan."
Santi masih tidak yakin dengan kehamilannya. Ia meraih hasil USG itu dari tangan Bilson.
Apa? Jadi aku beneran hamil?
__ADS_1
"Sekarang kita ke apotek yok, di lantai dasar. Kita akan memebus obatmu." ucap Bilson datar.
Mereka pun turun ke lantai dasar dan memberikan resep yang dituliskan oleh sang dokter kepada apoteker.