
Meskipun kedua orang tuanya tidak mengizinkan Revan untuk melamar Aletha, namun Revan tetap dengan pendiriannya. Revan tidak rela kalau Aletha jatuh dipelukan orang lain.
Setelah hari pernikahan yang ditunggu sudah sangat mendesak, Revan menghilang dari peredaran. Meninggalkan kedua orang tuanya dengan rasa bersalah dan menyesal karena tak merestui keinginannya.
"Dok, lakukan apa yang saya minta. Saya akan membayar anda berapapun yang anda mau," Sorot mata lelaki itu menatap tajam sang dokter.
"Tapi, pak itu butuh biaya banyak, dan saya tidak ingin meniru wajah orang untuk niat tertentu," jawab si dokter cantik itu.
"Saya tidak meniru wajah siapa pun, dok. Tapi dia yang sudah mengambil wajah saya. Hanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan," ucap lelaki itu. Kini sorot matanya berubah. Seolah-olah ia telah kehilangan seseorang yang sangat ia cintai.
"Tolong saya, dok! Apakah dokter tidak percaya sama saya? Tatap mata saya, dok!" ucapnya lagi. Ia berusaha keras membujuk sang dokter hingga sampai tersudut dan tak tau bagaimana cara menolaknya.
"Baiklah," jawab dokter tersebut dengan sangat terpaksa. "Tapi dengan syarat tidak boleh menggunakannya untuk hal yag tidak baik, jika ketahuan, maka saya akan menuntut bapak," ucap dokter tersebut megancam.
"Trimakasih, dokter. Saya rela kehilangan segalanya, tapi saya tak akan pernah rela kehilangan orang yang saya cinta dan jatuh kepelukan orang lain," ucapnya dengan mata berbinar.
"Baiklah, pak. Besok kita mulai operasinya," tukas sang dokter.
"Baik, dok. Trimakasih, saya akan menyiapkan segalanya," ucap Revan puas.
"Yes! Akhirnya aku akan menikah denganmu sayangku. Sambutlah aku. Aku mencintaimu, sayang," ucapnya dalam hatinya.
Rasa senangnya menyeruak sampai ke ulu hatinya, bahkan ia sampai melonjak karena kegirangan.
Segala aset yang dimiliki orang tuanya, telah ia jual habis. Itulah modal yang dia gunakan untuk operasi wajah dan perlengkapan menikah.
Revan juga membayar pembunuh bayaran, agar melenyapkan Bilson tepat sebelum hari pernikahannya berlangsung. Jadi dia dengan aman memasuki rumah Bilson dan brpura-pura menjadi Bilson yang sebenarnya.
"Suara kamu kenapa berubah, sayang?" tanya Sella kala itu.
"Aku nggak tau, ma. Hanya akhir-akhir ini memang tenggorokanku sakit. Seperti ada peradangan di sana. Aku juga ida periksa dokter, ma," kilahnya kepada mama Sella, alias mamanya Bilson.
__ADS_1
"Jadi apakah kau rajin minum obatnya?" tanya papa Indra, papanya Bilson. Matanya mengerling, penasaran dengan keanehan suara sang anak.
"Pasti, dong pa. Kalau aku tidak rajin minum obatnya, pasti suaraku uda hilang dong," ucap Revan sambil tersenyum.
"Baguslah, pasti sebentar lagi juga akan sembuh. Suaramu yang dulu pasti akan kembali," ucap mamanya penuh harap.
"Iya, ma," sahut Revan singkat.
"Dasar orang tua bodoh, dengan mudahnya ditipu pleh saya. Hahahaha!" soraknya dalam hatinya.
"Tapi syukur deh, penyamaranku jadi mudah dan tak seorang pun menaruh curiga padaku," batinnya lagi. Rasa bangga terhadap diri sendiri telah membuatnya lupa akan apa yang akan terjadi esok.
Hari yang ditunggupun tiba. Keluarga Bilson sudah sampai di hall pernikahan. Begitu juga dengan keluarga Aletha.
"Anak kita sangat serasi, ya jeng," ucap mama Sella kepada mama Vina, mamanya Aletha. Dan diangguki oleh wanita itu sambil tersenyum bahagia.
"Silakan jabat tangan saya, pak!" ucap pak penghulu.
Revan dan Aletha sudah duduk menghadap pak penghulu.
Terdengar ungkapan kalimat syukur dari orang tua kedua mempelai dan juga khalayak ramai.
"Kalian berdua sudah sah menjadi suami istri, baik di agama maupun di negara," ucap pak penghulu. Dan iringan tepuk tangan menghiasi hall pernikahan pada saat itu.
Namun, Aletha sebagai pengantin, merasakan ada yang mengganjal tentang Bilson. Namun, ia urungkan niatnya untuk bertanya. "Nanti saja, setelah hanya ada kami berdua," gumamnya.
"Trimakasih bapak dan ibu serta tamu-tamu kami, karena turut menghadiri pesta pernikahan anak kami. Ayo, silakan dinikmati santapannya!" ujar papa Indra dengan senyum bahagianya kepada para tamu undangan mereka.
Bukan main riang gembiranya hati Revan saat itu. Ia bisa melakukan segalanya tanpa harus mengotori tangannya. Dan semuanya berjalan lancar. Senyum kemenangan terpancar jelas di wajahnya. Dan tak seorang pun menaruh curiga padanya.
Malam harinya, Aletha dan Bilson meminta agar mereka menginap di hote saja, yah sekalian bulan madum Biasalah pengantin baru, sangat segan bila harus menghabiskan malam pertama mereka dengan adanya orang tua di rumah.
__ADS_1
Mereka semua menuetujui permintaan pasangan pengantin baru itu. Kemudian, orang tua dari kedua belah pihak pun berpisah dan kembali ke kediaman masing-masing. Sementara Aletha dan Revan pergi ke hotel yang sudah dihubungi Revan sebelumnya.
Diperjalanan, tangan Revan tak sedetikpun melepaskan genggamannya dari jemari Aletha, bahkan sampai berkeringat.
"Oya, mas suara kamu kenapa? Kok lain?" tanya Aletha memulai pembicaraan. Menurutnya ini adalah saat yang tepat untuk menanyakannya.
Pak supir yang mengemudikan mobil pengantin diam saja tanpa merespon pengantin baru itu. Tangannya bergelut dielakang kemudi.
"Oh itu, jadi kamu ingin menanyakan itu dari tadi?" tanya Revan. Diangguki oleh Aletha. Karena ia juga sangat penasaran.
Akhirnya, Revanpun menjelaskan. Sama seperti yang dia jelaskan kepada kedua orang tua Bilson waktu itu.
"Oh, gitu. Jadi, mas sudah ke rumah sakit?" tanya Aletha.
"Sudah, dan mas sudah minum semua obat yang diberikan dokter," jawabnya.
"Sekaligus diminum?" tanya Aletha mengernyitkaj dahinya.
"Ya nggak sekaligus dong, sayang. Bisa over dosis kalau sekaligus. Yang ada kita nggak jadi menikah kalau begitu," ucap Revan terkekeh.
"Kirain," ucap Aletha terkekeh juga.
Pasangan pengantin itu terlihat sangat bahagia. Sampai-sampai tangan mereka tak berhenti saling menggenggam meski sedetikpun. Dan keberadaan si supirpun dianggap seperti nyamuk lewat. Hahaha..
Ketika kedua insan sedang jatuh cinta, maka dunia terasa milik berdua, dan yang lainnya mengontrak. Begitulah ungkapan yang tepat saat ini. Revan dan Alethanya yang empunya dunia, dan pak supir sebagai pengontrak di dunia. Hahahaha. Kasihan pak supir.
"Pak supir!"
"Iya, boss."
"Sabar!"
__ADS_1
"Siap, boss."
Mungkin itu yang akan diucapkan pak supir apabila apa yang menggubrisnya. Tapi sayang, hanya dia seorang diri bersama dengan kemudi yang menuntutnya agar mengantar pasangan pengantin baru itu menuju pelabuhan cintanya.