Mama Superku

Mama Superku
Maafin Mama


__ADS_3

"Kamu kenal pria itu?" tanya Bilson kepada Sandra yang sedang sibuk dengan makanan penutupnya.


"Nggak, pak." jawabnya singkat.


"Ehh, mau kemana mereka?" tanya Bilson heran.


Sorot matanya tajam dan mengikuti kemana kaki Santi dan Tito melangkah.


"Nggak tau saya, pak." sahut Sandra.


Bilson segera berlari hendak mengejar Santi dan Tito, namun dia terlambat. Karena Santi sudah masuk ke mobil Tito.


"Mau ngobrolin apa sampai cepat-cepat kita keluar dari Cafe. Di Cafe kan bisa tadi?" tanya Santi.


"Aku mau membawa kamu bertemu mamaku. Dia ingin banget jumpa sama kamu." sahut Tito datar.


"Aku takut kamu nggak mau ikut denganku saat di Cafe tadi." imbuhnya lagi.


Tito adalah salah satu teman akrab Santi saat maaih kuliah. Tapi tidak ada yang tau bahwa mereka teman dekat, baik Sandra sekalipun. Karena teman-temannya yang lain dulu suka mem-bully Tito. Hanya Santi yang mau menerimanya jadi teman.


"Oh itu. Pasti maulah aku kalau cuma ketemu tante. Aku juga kangen sih udah lama nggak jumpa. Aku juga segan ke sana soalnya kamu nggak ada." ucap Santi.


"Kan kamu bisa menjenguknya, Ya meskipun aku nggak ada." tutur Tito.


Ya itu adalah nama panggilan yang disematkan Tito untuknya. Dia ambil dari nama tengah Santi, Santi Zoya Larasati.


"Maaf, To. Aku memang udah lama nggak main ke sana. Semenjak kamu kuliah di Paris."


Tito Kardalis sibuk dengan setirnya. Ia membawa mobil dengan laju santai. Pandangannya lurus ke depan.


Santi sibuk dengan ponselnya yang bergetar dari tadi. Tapi ia tak mau menjawabnya.


"Angkat dong, sayang! Kamu kemana sih sama pria itu?" gumam Bilson sendirian.


Tangannya yang satunya sibuk dengan setir. Ia mencoba mengejar mobil yang membawa kekasihnya itu, namun dia kalah cepat. Sampai-sampai ia meninggalkan Sandra sendirian di Cafe.


.


"Pak, bapak di mana? Aku masih di Cafe nih." ucap Sandra lewat ponselnya.


"Iya, iya. Aku ke sana sekarang." sahut Bilson.


Bilson memutar haluan. Kembali ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Emosi nya masih sulut karena kekasihnya pergi dengan pria lain dan pria itu sama sekali tidak dia kenal.


"Maaf, sampai di mana tadi pembicaraan kita? Aku jadi lupa." ujarnya saat dia sudah sampai di Cafe.


Napasnya masih terengah-engah saat mendapati Sandra yang masih duduk sambil menikmati minumannya.


"Bapak tarik napas dulu! Santai dulu!" ucap Sandra datar.

__ADS_1


"Nah, minum ini!" imbuhnya lagi.


Sandra menyodorkan air mineral kepada Bilson.


"Makasih." sahut Bilson.


Lalu ia meneguk air minum itu sampai habis.


"Kemana Santi pergi, pak?" tanya Sandra setelah Bilson sudah tenang.


"Entahlah. Dia pergi bersama pria itu...." lirihnya.


Biarkan saja dia pergi, pak. Kali aja Santi berubah pikiran. Jadi aku bisa deh lebih bebas bersamamu. Batin Sandra licik.


"Ya sudah, sekarang kita lanjut pembicaraan kita tadi, pak!" ucap Sandra tersenyum licik.


Bilson dan Sandra kembali merundingkan satu hal yang sempat tertunda tadi. Setelah itu, mereka kembali ke kantor. Sandra lagi lagi menumpang di mobil Bilson. Dan tentu saja Bilson tidak keberatan untuk mengantarkan Sandra ke kantor tempatnya bekerja.


Hmmmm, suatu saat aku juga akan bekerja di perusahaan kamu, sayang. Supaya aku bisa melihatmu setiap hari. Biarkan saja lah Santi sibuk dengan pria itu. Batin Sandra.


_______


"Kamu tenang aja, Tha. Kita akan melakukan banyak cara agar si Bilson gila itu hengkang dari perusahaan dan dia akan melarat di pinggir jalan." ucap Dena kepada Aletha yang masih merasa ragu.


"Lagian kenapa kamu harus ragu, toh kamu sendiri sudah menyaksikan suami kamu itu selingkuh dengan wanita lain, bahkan tak pernah perduli denganmu maupun anaknya sendiri."


"Ayah macam apa dia? Lebih baik dilupakan segala kenangan tentangnya!" sambung Dena.


"Aku tau, Letha. Tapi untuk apa menganggapnya sebagai ayah kalau perbuatannya saja seperti itu. Bahkan anaknya sendiri, darah dangingnya sendiri ia akan lenyapkan!"


"Lalu, apakah kita hanya bisa diam dengan semua itu? Aakah kamu rela kehilangan Eril yang begitu menggemaskan ini?" tanya Dena.


Ia berusaha membuka pikiran Aletha. .


"Nggaklah. Aku nggak akan pernah rela anakku diperlakukan semena-mena dengan orang yang bejat seeprru dirinya." bantah Aletha langaung.


"Makanya itu. Pikirkanlah baik-baik. Aku akan selalu ada untukmu." ucap Dena lagi.


Brukk


Kedua wanita itu seontak melihat ke arah suara.


"Sayang!" pekik Aletha.


Ia langsung berlari meraih tubuh Eril yang terjatuh dari kursi. Baby Eril menangis sejadi-jadinya. Aor matanya bercucuran bak air sungai yang mengalir terus.


"Anak bunda. Cup cup cup." Dena pun ikut membujuk Eril agar segera diam.


Tangan Aletha mengusap-usap kepala baby Eril yang terjatuh ke belakang. Dimana saat mereka menemukan Eril, sudah tertimpa kursi itu dan kemungkinan besar batok kepalanya terantuk ke belakang.

__ADS_1


"Sayang, maafin mama ya, nak. Mama kurang memperhatikan kamu." ujar Aletha menyesal.


"Ssssst, kamu nggak boleh begitu. Namanya juga anak bayi yang sedang belajar berjalan. Ada kalanya harus jatuh bangun demi memperoleh perkembangan yang optimal." gumam Dena.


"Tapi kepalanya....." ucap Aletha lirih.


"Iya, aku tau sayang. Aku tau semuanya." sahut Dena cepat.


"Sekarang kita bawa Eril ke rumah sakit, ya! Biar dia diperiksa oleh tim medis." ucap Dena.


Ia membantu membawa tas Aletha. Mereka pun pergi ke rumah sakit. Aletha dari tadi tidak pernah berhenti berdoa demi kebaikan Eril. Tangannya mengusap-usap lembut kepala baby Eril.


_______


"Sayang, kamu di mana?"


"Aku lagi rapat di kantor. Ada apa?" tanya Bilson dingin.


"Nggak apa-apa. Cuma mau nanya kabarmua aja." sahut Santi.


"Ya sudah. Aku mau lanjut kerja dulu " ucap Bilson datar.


Ia langsung mematikan ponselnya.


"Aihhh, kok dimatiin sih? Aku juga belum seleaai ngomong!" gerutu Santi.


Diteleponnya lagi nomor Bilson. Tapi tak panggilannya tak diacuhkan Bilson. Kemudian ia ulangi lagi. Tapi lagi lagi Bilson tak mqu mengangkatnya.


Bahkan sekarang nomor Bilson sedang tidak aktif.


"Ihhh, dasar. Lelaki kaku!" gerutu Santi.


Ia melempar kasar ponselnya ke atas tempat tidurnya.


"Lihat saja. Aku akan ngambek!" gumamnya.


"Aku lagi bingung begini, eh mas Bilsonnya malah nggak bisa dihubungi. Aku butuh hiburan sekarang." gumamnya lagi.


Ia memutar musik di dalam apartemennya kuat-kuat. Berharap dengan mendengarkan musik ia mempunyai ide cemerlang untuk menjawab pertanyaan Tito Kardalis tadi.


"Aiiiih, aku nggak bisa berpikir jernih sekarang. Aku harus bagaimana?" tanyanya kepada dirinya sendiri.


"Hallo, San. Kamu dimana?"


"Aku lagi di kantor. Kenapa, San?" tanya Sandra kepo.


"Aku mau ketemu kamu sekarang bisa nggak?"


"Bisa. Di Cafe Bila, ya!" sahut Sandra dari ujung telpon.

__ADS_1


Santi mematikan ponselnya lalu meraih handbag-nya. Kemudian dengan cepat ia meninggalkan apartemennya dengan menaiki taksi.


__ADS_2