
Aletha yang mendengarkan penuturan Bilson merinding. Ia memutar otak untuk mencari solusi agar ia bisa bebas dari Bilson.
Beberapa menit kemudian
"Aletha! Buka pintunya!" seru Bilson dengan suara kerasnya.
Hening dari dalam kamar. Tak ada suara sedikit pun.
"Buka pintunya sekarang!" ujar Bilson lagi.
Namun masih tak ada reaksi dari dalam kamar.
"Baiklah. Jika kau tak mau membuka pintu, maka aku akan membakar kamar ini. Biarkan saja rumah ini hangus aku nggak perduli. Toh ini rumah bukan rumahku." ucap Bilson.
Bilson kembali mengetuk pintu itu dengan kasar. Lalu ditendangnya berulang kali. Sampai kakinya merasa kesakitan. Karena pintunya sangat kuat. Namun masih tak ada sahutan dari dalam kamar.
Bilson lalu membuka pintu itu dengan kunci duplikat yang ada dalam genggamannya.
"Kamu nggak bisa lari lagi perempuan gila. Tamatlah riwayatmu malam ini bersama anak kesayanganmu itu." ujar Bilson geram.
Dan pintu pun terbuka lebar.
"Dimana kau perempuan gila?" tanya Bilson dengan amarah yang semakin berkobar.
Dia menyusuri sekeliling kamar. Namun tak menemukan keberadaan Aletha dan baby Eril dimana pun.
"Sial!" umpatnya.
"Kemana dia pergi? Nggak mungkin dia kabur. Dari mana coba? Jendela semua tertutup kok." gumamnya.
Ia mendekati jendela kamar yang tertutup rapat itu.
"Kurang ajar! Ternyata dia kabur dari sini." gerutu Bilson.
Ia menutup kembali jendela kamar yang sudah tidak terkunci itu lalu dikuncinya kembali.
"Pasti dia belum jauh dari sini..." ucapnya lirih.
Bilson bergegas masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya dengan cepat.
"Untung aja ya, sayang jendela itu nggak terlalu tinggi jadi kita bisa bebas sekarang. Dan mama juga sudah membawa baju-bajumu walaupun hanya beberapa potong." ucap Aletha sambil mencium pucuk kepala baby Eril. pop
"Sekarang kita cari tempat agar kamu bisa minum ya, sayang." gumam Aletha lagi.
Seketika kekuatannya bertambah dua kali lipat saat dilihatnya senyum manis terpancar di wajah sang bayi.
__ADS_1
"Mama, mama!" gumam Eril.
"Iya, sayang. Kamu haus ya? Sabar ya, nak. Kita akan cari tempat yang aman agar kamu bisa minum." gumam Aletha.
Ia melangkahkan kakinya dengan cepat. Sejujurnya ia masih belum tenang. Ia sangat yakin bahwa Bilson sudah menyadari dia tidak ada di sana lagi. Sifat nekat Bilson tentu ia sudah hapal.
Pasti mas Bilson sedang mencari kami sekarang. Dia kan nekat orangnya. Batin Aletha.
"Dimana kamu Aletha? Dimana? Aku nggak akan mengampunimu kalau sampai aku menemukanmu. Dasar wanita sinting!" tukas Bilson kesal.
Sembari tangannya sibuk dengan setir, matanya juga liar mencari keberadaan Aletha di sepanjang jalan.
"Kemana sih itu perempuan? Nggak mungkin secepat itu dia kabur." ucapnya pelan.
"Palingan dia juga sembunyi. Tapi dimana ya?" tanyanya kepada dirinya sendiri.
Bilson kembali melajukan mobilnya dengan lambat.
"Itu dia!" serunya saat melihat seseorang yang mirip seperti Aletha.
Bilson segera menghentikan mobilnya dan berlari menghampiri wanita itu.
"Kamu sudah nggak bisa melarikan lagi perempuan sialan!" gumamnya.
ia mencengkeram bahu permpuan itu lalu dibalikkannya agar menghadap ke dia dengan paksa.
Reflek wanita itu menampar wajah Bilson.
"Maaf, pak anda siapa?" tanya wanita itu.
Ia menatap tajam kepada Bilson.
"Maaf, mbak. Saya, saya nggak sengaja. Saya mengira mbak adalah orang yang saya kenal." ucap Bilson malu.
Ia tertunduk menyembunyikan rasa malunya.
"Makanya, mas. Kalau belum tau jangan asal nuduh. Dilihat dulu kek bagus-bagus baru mgomong!" tukas wanita itu jutek.
"Ma-maaf, mbak." ucap Bilson.
Wanita itu pun berlalu begitu saja tanpa memperdulikan permintaan maaf dari Bilson.
"Itu dia. Kamu nggak bisa ngelak lagi, sialan!" tuturnya.
Ia langsung menyambar orang tersebut dan lagi-lagi orang yang salah.
__ADS_1
Sialan. Kenapa di semua sudut aku melihat wajah Aletha ya? Kenapa aku jadi aneh begitu? Dan kenapa pula harus Aeltha yang memenuhi pikiranku? Batin Bilson.
Karena tak menemukan Aletha, Bilson pun masuk ke dalam mobil. Ia merenung di dalam mobil sambil memijit keningnya dengan lembut. Lalu malajukan kembali mobilnya setelah ia merasa lebih baik.
"Kenapa aku jadi begini ya? Akhir-akhir ini sering aku merasa pusing. Kadang ada keanehan juga yang terjadi. Entahlah, akupun nggak tau apa penyebabnya." gumam Bilson.
Ia kembali melajukan mobilnya dengan santai dan tetap fokus mencari keberadaan Aletha.
"Kayaknya itu dia. Aku nggak salah lagi. Pasti dia!" serunya.
Bilson menghentikan mobilnya dan hendak membuka pintu mobil. Namun tiba-tiba ponselnya berdering.
"Hallo! Ada apa? Saya lagi sibuk ini!" tukas Bilson.
"Maaf mengganggu pak, tapi sebentar lagi kan ada rapat di kantor. Bapak sudah di jalan kah?"
"Iya, iya. Saya akan segera ke sana." sahut Bilson.
Ia mematikan ponselnya lalu menutup kembali pintu mobilnya.
Urusan wanita gila itu nanti akan aku selesaikan. Sekarang aku harus ke perusahaan untuk menjaga nama baikku. Supaya aku nanti diterima sebagai pemilik sah perusahaan itu. Gumam Bilson dalam hati.
Ia pun melajukan mobilnya dengan cepat. Matahari sangat terik memancarkan sumbunya. Seolah hati sudah siang Pada hal waktu masih menunjukkan pukul 10.00 waktu indonesia barat.
Anak-anak sekolah banyak yang keluyuran. Ibu-ibu banyak yang baru pulang sambil menenteng belanjaannya. Ada yang naik angkutan umum, becak maupun ojek.
Setelah sampai di kantor, Bilson tak langsung menuju ruang rapat. Ia menelpon seseorang lewat ponselnya. Ia memerintahkan Sandra agar membayar orang suruhan untuk mencari keberadaan Aletha.
Rupanya dia masih memikirkan berkas-berkas itu. Ia sangat takut bila bekaa itu jatuh ke tangan yang tidak tepat. Bisa kehilangan segalanya nanti Bilson. Sandra menyetujui apa yang diperintahkan oleh Bilson dan langsung menghubungi kenalannya.
"Selamat siang, pak!" sapa para karyawan yang melewati Bilson sambil menundukkan kepala tanda hormat kepada pimpinan perusahaan yang ditunjuk tanpa adanya kesepakatan.
"Siang!" jawab Bilson datar.
Tiba-tiba sekeretarisnya menghampirinya dan mengatakan bahwa dia sudah ditunggu di ruang meeting.
"Baik. Saya akan segera ke sana. Tolong sediakan berkas saya!" tukas Bilson kepada sekretaris itu.
"Baik, pak." jawab sekretaris itu dan berlari masuk ke dalam ruangan Bilson.
Sementara di warung Sejora yang terletak di pinggir jalan, Aletha dan baby Eril sedang duduk santai menikmati minuman yang menyejukkan tenggorokan.
Mereka memulihkan tenaga sehabis berperang dengan sang waktu untuk mengelabui Bilson sambil harap-harap cemas takut bila Bilson akan menemukan mereka di sini.
"Minum banyak ya sayang!" ujar Aletha membujuk Eril.
__ADS_1
"Setelah ini kita akan mencari tempat yang aman...." lirih Aletha.
Sabar ya, sayang. Mama akan berjuang mati-matian agar kamu bahagia. Takkan kubiarkan lelaki itu menyakitimu. Dan takkan kubiarkan dia mengambilmu dariku. Tidak, aku tidak akan pernah setuju. Batin Aletha.