
"Tahan dia, pak!" ujar wanita itu kepada petugas. Jari telunjuknya mengacung kasar menunjuk ke arah Bilson yang masih memeluk tubuh baby Eril.
Alangkah terkejutnya Bilson karena kedatangan polisi dan mengepung seisi rumahnya. "Sial! Siapa yang sudah ikit campur dengan masalah saya? Apa mungkin wanita gila ini? Nggak mungkin, aku dari tadi bersamanya. Lalu, siapa yang sudah memanggil polisi?" batin Bilson.
Jantungnya berdegup kencang tak karuan. Bahkan suara degupan itu seolah terdengar sampai keluar.
"Saya sedang bermain dengan anak saya, pak. Iya kali, kenapa saya ditahan," kilahnya. Ia berura-pura mencium pucuk kepala baby Eril.
"Bohong! Dia berbohong, pak. Saya memdengar sendiri kalau dia sudah mengancam istri dan anaknya. Bapak bisa melihat sendiri bagaimana takutnya mereka," ucap wanita itu yang tak lain adalah Dena.
"Saya mendapat pesan dari istrinya, pak. Dan.... saya menyimpan di sim card saya, voice note yang dia kirimkan, saya sudah salin. Ini dia, pak," ucap Dena. Tangan kanannya menyodorkan sebuah flashdisk berwarna merah, dan disambut oleh komandan polisi itu, Rian namanya.
"Baik, bu. Saya akan mengamankannya," sahut pak Rian lantam. "Borgol dia!" Pak Rian memerintahkan kepada kedua bawahannya. Polisi lainnya menggeledah barang bukti lainnya yang mungkin nanti berguna saat di kantor polisi.
"Siap, komandan!" jawab kedua bawahan Rian itu lantam.
"Berani kalian menangkap saya, maka anak ini akan jadi sasarannya. Jika kalian ingin menyelamatkannya, maka turunkan senjata kalian dan jangan ada yang bergerak!" teriak Bilson. Ia sama sekali tidak takut. Malah menjadikan baby Eril sebagai umpannya.
Pak Rian mencoba berbicara baik-baik, namun tetap saja tidak berhasil. Bilson masih tak mau mengalah.
"Tanda tangani surat itu, maka anak ini akan selamat!" ancam Bilson.
Aletha memandang Dena, dan Dena mengangguk sebagai isyarat agar Aletha mau menandatangani berkas itu. Lalu, ia memegang pena itu dan hendak mendaratkan tanda tangannya di sana.
"Bukan saya Bilson, tapi dia." teriak Bilson dan menunjuk seorang pria yang baru saja muncul di sana.
Semua mata mengikuti gerakan tangan Bilson, konsentrasi mereka pun pecah. Dengan sigap, Bilson memaksa tangan Aletha dan tanda tangapnpun sudah melekat di surat itu, kemudian dia berhasil kabur.
"Tangkap dia, pak! Dia sudah kabur," ucap lelaki yang baru tiba itu. Siapa lagi kalau bukan Revan namanya. Orang yang mirip sekali dengan Bilson. Sampai polisi pun gagal fokus.
__ADS_1
Kedua polisi itupun berlari mengejar Bilson.
"Maaf, pak. Anda siapa? Dan..... kenapa wajah bapak mirip dengan wajah suami dari ibu Aletha?" tanya pak Rian kepada Revan.
"Begini ceritanya, pak," ucap Revan. Revan mulai menceritakannya kepada mereka.
"Gimana sayang? Kamu sudah siap menikah denganku?" tanya Bilson kepada kekasihnya, Aletha.
"Jika memang bersamamu, aku akan siap sayang. Kapanpun aku akan siap," jawab Aletha tersenyum manja. Ia melingkarkan tangannya di leher Bilson, dan... mereka saling berhadapan.
"Besok, aku akan datang bersama kedua orang tua aku untuk melamar kamu. Aku udah ngomong sama mama dan papa. Dan... mereka setuju. Kita akan menikah sayang," tukasnya bahagia. Dan kau tau, ini adalah momen yang aku tunggu-tunggu setelah sekian lama kita menjalin hubungan, dari yang sebelumnya tidak direstui, dan akhirnya kesabaran dan kekuatan cinta kita berbuah juga," ucap Bilson Bangga.
Ia mengeratkan pelukannya di pinggang Aletha. "Trimakasih, sayang karena sudah mencintaiku terlalu dalam," Cup. Ia mengecup lembut kening Aletha, dan Aletha menerimanya dengan memejamkan mata.
Di tempat lain, Revan berusaha membujuk mamanya agar mau melamar Aletha untuk dirinya.
"Aku sangat mencintainya, ma. Please bilang ke papa lamarkan Aletha untukku!" pintanya kepada mamanya sambil memohon, memegang pergelangan tangan mamanya itu.
"Trimakasih mamaku, sayang," ucap Revan tersenyum bahagia. Ia memeluk mama Evi sangat erat.
"Iya, iya, udah ah, uda besar juga masih peluk-peluk," ledek mama Evi.
Singkatnya, keluarga itu pergi ke rumah orang tua Aletha dan melamar Aletha saat itu juga. Bahkan mereka meminta secepatnya untuk mengadakan pesta pernikahan.
Tapi, apa yang mereka harapkan tak berjalan semestinya, karena Aletha menolak mentah-mentah. Ia mengatakan kalau dirinya mencintai orang lain yang bernama Bilson.
Tentu saja hal ini membuat Revan kesal, yang awalnya dia bertindak sopan kepada kedua orang tua Aletha, kini malah kasar dan bahkan sampai mengancam.
Akhirnya, mereka meninggalkan kediaman keluarga Aletha dengan raut wajah masam bercampur kesal. Beberapa kali Revan membanting setir saat mereka hendak pulang ke kediaman mereka. Meskipun mama Evi sudah menasihatinya, namun tak diacuhkannya. Papa Aryo, papanya Revanpun tak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
"Gimana dengan rencana pernikahanmu dengan Bilson, sayang?" tanya papa Irwan kepada putri sulungnya itu.
"Kami sudah mempersiapkan semuanya, pa, ma. Kebetulan besok keluarganya mas Bilson akan datang melamar. Dan.... semuanya sudah kami siapkan, tinggal menunggu restu dan izin dari mama sama papa," ucap gadis itu tersenyum bahagia.
"Pastilah, sayang. Mama dan papa akan selalu mendukungmu dan mendoakan yang terbaik untukmu," ucap mama Vina. Mereka bertiga berpelukan. Kayak teletubbies yah, hehehe.
Sementara di mansion, Revan masih kesal atas penolakan dari keluarga Aletha. Ia merasa malu karena baru kali ini ada yang berani menolak keinginannyam Selama ini siapapun selalu menuruti kemauannya, termasuk mama dan papanya.
Tak satupun orang yang mengenal Revan berani menolak kehendaknya. Tapi kali ini, ada yang dengan blak-blakan menolak mentah-mentah keinginannya.
"Mikir Revan, mikir!" ucapnya pada dirinya sendiri. Ia duduk jongkok di loteng kamarnya, sambil menunduk. Kedua tangannya memegang kepalanya.
Langit malam itu sangat gelap, tiada berbintang. Seolah ingin hujan.
"Awas kamu Bilson, akan kucari kamu bahkan sampai ke lobang semut sekalipun," gumamnya lagi. Kini ia sudah berdiri. Tangannya mengepal, ekspresi di wajahnya menunjukkan kalau ia sudah sangat geram. Emosinya sudah memuncak.
"Aaaaaaarrgggghhhh! Bilson sialaaaaaaaan!" teriaknya sekeras mungkin. Ia tumpahkan kekesalannya bersama gerimis malam yang menurunkan titik-titiknya yang terasa di kulit.
"Pa, kasian anak kita, pa," ucap mama Evi kepada suaminya yang sedang duduk di sofa sambil menikmati tehnya. Mereka bisa mendengar suara teriakan Revan dari lantai dasar mansion.
"Mau bagaimana lagi, ma. Keluarga perempuan itu menolak. Nggak mungkin dong kita memaksakan kehendak. Yang ada kasihan nanti Aletha," sahut papa Aryo.
"Tapi, pa daripada anak kita seperti itu, bagaimana kalau dia sampai gila, stress atau sampai bunuh diri?" celetuk mama Evi. Ia berusaha membujuk suaminya itu agar memikirkan ulang mengenai lamaran tadi.
"Sudahlah, ma. Kita nggak boleh egois. Masalah Revan, mama tenang saja. Pasti dia akan baik-baik saja sebentar lagi," ucap papa Aryo. Rasa kesalnya itu palingan juga besok hilang, dan... kemudian pasti dia akan menerimanya nanti," imbuhnya lagi kemudian meneguk tehnya sampai habis.
"Udah yok, ma kita tidur! Nanti kalau sudah capek, dia pasti diam. Dan kembali ke kamarnya. Mama kayak nggak tau aja anaknya sendiri," gumam papa Aryo.
Badannya yang sudah mulai membungkuk melangkah masuk ke kamar meninggalkan istrinya yang masih mematung.
__ADS_1
"Ma, pijitin kaki papa, dong. Kayaknyakambuh deh penyakit lama papa," ujarnya memanggil mama Evi agar lekas mengikutinya masuk ke dalam kamar.
"Iya, iya. Mama simpan ini dulu," jawabnya lalu membawa gelas kosong papa Aryo ke dapur untuk dicuci.